Kamis, 14 Desember 2017

Cerita Warga Sooko Ciptakan Lampu Hias LED dari Akrilik

Kamis, 05 Oktober 2017 15:04:35 WIB
Reporter : Misti P.
Cerita Warga Sooko Ciptakan Lampu Hias LED dari Akrilik

Mojokerto (beritajatim.com) - Berawal karena kaca tergores saat membersihkan instalasi di tempat kerja, membuat Bayu Putra Irianto (28) menciptakan lampu led dengan hiasan di kaca. Kaca mika akrilik dibikin lukisan dan disambungkan ke lampu Light Emitting Diode (LED), membuat bapak satu anak ini pun kebanjiran pesanan.

Dengan teknologi LED, Dusun Ngumek, Desa Karangkedawang, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto inipun mampu memadupadankan dengan kreativitas seni sehingga menciptakan suatu karya yang menarik. Ide yang akhirnya menjadi karya yang menarik tersebut akhirnya mulai dirilik masyarakat.

"Baru sebulan, awalnya himpitan ekonomi karena saat kerja di toko tambal ban diminta membersihkan instalasi ada kaca kena goresan. Dari situ saya berfikir jika dibuat bentuk gambar dan diberi lampu LEG, mungkin menarik hasilnya," ujar suami Rike Febrinia (24) ini.

Ide tersebut pun diaplikasikan menjadi karya nyata. Kaca mika akrilik yang ia beli kemudian digambar menggunakan alat grafir dari dinamo. Gambarpun ia cari di internet seperti tulisan kaligrafi, setelah ditunjukkan ke teman-temannya dan diposting di media sosial (medsos), ternyata banyak yang tertarik.

"Awalnya saya bikin gambar bunga mawar di kaca mika akrilik, saya sambil liat tutorial di youtube. Dengan menggunakan alat seperti soder yang disambungkan ke listrik, saya mulai membuat gambar. Agar bisa menyala dan berdiri di meja, saya bikin penyangga dari stainless," katanya.

Bapak dari Kevin Alfano (4) ini menuturkan, stainless tersebut dipotong sesuai ukuran kaca mika akrilik dan bagian tengah dibuang untuk diisi dengan lampu LED. Sebulan setelah mengaplikasikan idenya tersebut, Bayu sudah memenuhi sedikitnya 12 pesanan.

"Untuk ukurannya yakni 20 cm x 20 cm, mulai gambar wajah, tulisan dan kaligrafi tapi yang banyak dipesan gambar wajah dan tulisan. Terjauh pemesannya sampai Sidoarjo, saya antar sendiri kemarin. Untuk harga ukuran 20 cm x 20 cm Rp100 ribu tapi menyesuaikan tingkat kesulitan juga," tuturnya.

Bayu menambahkan, untuk semua bahan tidak sulit karena bisa dibeli di Mojokerto. Sementara untuk adaptor catu daya, ia beli di toko online. Dari sejumlah pesanan tersebut, menurutnya tingkat kesulitan adalah membuat wajah sehingga ia harus meminta bantuan adiknya.

"Saya tidak pandai soal mengoperasikan laptop saat membuat sketsa wajah sehingga saya minta bantuan adik saya. Saya juga pernah menolak pesanan karena minta ukuran 1 meter dengan tulisan ayat kursi, saat tolak karena keterbatasan alat," jelasnya.

Bayu berharap, karya yang dihasilkan tersebut bisa diterima masyarakat dan karyanya bisa berkembang. Meski ia sudah bisa menghasilkan dari ide tersebut, namun Bayu mengaku masih bekerja di toko tambal ban karena pesanan tersebut masih bisa dikerjakan tanpa mengganggu kerjanya. [tin/but]

Tag : tokoh

Komentar

?>