Kamis, 14 Desember 2017

Antidot Persebaya di Jember

Kamis, 05 Oktober 2017 11:07:06 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Antidot Persebaya di Jember

Jember (beritajatim.com) - Putut Wijanarko adalah salah satu bintang Persebaya Surabaya di Liga Indonesia era 1990-an. Dia salah satu 'Green Boys' pelatih Rusdi Bahalwan pada 1997 dan 1999. Keluar dari Persebaya, dia sempat memperkuat tim Persid Jember pada era 2000-an dan melanjutkan tradisi 'Surabaya-Jember Connection' dalam urusan sepak bola.

Sejak lama dua kota ini punya hubungan baik dan saling menyuplai pemain maupun pelatih. Pemain legendaris Niac Mitra Surabaya Freddy Mulli pernah melatih Persid. Begitu juga Rusdi Bahalwan. Direktur Teknik Persid Santoso Pribadi pernah menjadi pemain Persebaya di era keemasan 1975-1977. Bahkan pemain legendaris Persebaya dan Tim Nasional Indonesia San Liong menetap dan meninggal di Jember.

Namun Putut punya posisi spesial. Sejauh ini dia satu-satunya mantan pemain Persebaya yang tak pernah bisa dikalahkan mantan timnya itu jika bermain di Jember. Tahun 2003, Putut mencetak gol tunggal yang membawa kemenangan Persid atas Persebaya 1-0 pada kompetisi Divisi I (sekarang setara Liga 2), di Stadion Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Empat belas tahun kemudian, Putut kembali berhadapan dengan Persebaya di Stadion Jember Sport Garden, Rabu (4/10/2017). Kali ini dia melatih Persigo Lumajang FC dalam kompetisi Liga 2. Tak ada yang berubah: Putut tetap menjadi antidot Persebaya. Pertandingan berakhir imbang 0-0, kendati gawang Semeru berkali-kali dibombardir para pemain Persebaya. Persebaya sekalu lagi tetap tak bisa mengalahkan Putut di Jember.

"Persebaya tidak pernah menang di Jember. Ini rekor buat kami," kata Putut, usai pertandingan. Menahan imbang Persebaya adalah sebuah prestasi. Apalagi itu dilakukan di depan 15 ribu penonton di JSG yang mayoritas adalah Bonek, suporter Persebaya.

Putut menilai pertandingan berjalan bagus. "Ada beberapa peluang kami seharusnya bisa mencetak gol, ternyata tidak bisa. Tekanan penonton juga luar biasa. Namun di sini 15 ribu penonton, itu hal biasa. Kalau di Surabaya yang menyaksikan sampai 50 ribu orang. Di Surabaya kami kalah 0-4, di sini 0-0. Itu prestasi luar biasa. Persebaya memang bagus," katanya.

Bukan hanya Putut yang pernah bermain untuk Persebaya. Nugroho Mardianto, kapten Semeru FC, juga pernah memperkuat tim yang berjuluk Bajul Ijo itu. "Kami bisa menahan imbang Persebaya sudah bagus. Kami susah menang. Menahan imbang sama dengan kemenangan. Beda kami memang jauh dengan Persebaya. Kalah dari sisi kualitas dan permainan. Dapat poin satu syukur alhamdulillah," katanya.

Putut sudah melakukan evaluasi setelah kalah 0-4 di Gelora Bung Tomo, Surabaya. "Kami membenahi organisasi pertahanan. Jangan sampai laga home seperti di GBT. Organisasi pertahanan cukup solid. Ada dua peluang seharusnya kami bisa cetak gol, tapi mungkin kerjasama di depan mungkin lemah," katanya.

Putut mengakui saat menit terakhir pertandingan barisan pertahanan Semeru FC tertekan. "Mungkin capek, konsentrasi pertahanan sudah mulai tidak seperti babak pertama," katanya.

Guyuran hujan di babak pertama, menurut Putut, cukup berpengaruh. "Tapi kami pernah berlatih saat hujan. No problem. Yang penting tetap fight, dan lawan siapapun kami konsisten," katanya.

Dalam pertandingan melawan Persebaya, Semeru FC mendapat empat kartu kuning. "Itu sebenarnya tak perlu terjadi. Lawan pertandingan lawan Kalteng Putra, Cakra Yudha off," kata Putut. [wir]

Tag : tokoh

Komentar

?>