Selasa, 21 Nopember 2017

Dua Teori Jitu Kombes Pol Iqbal Pimpin Surabaya

Minggu, 20 Agustus 2017 19:52:07 WIB
Reporter : Ragil Priyonggo
Dua Teori Jitu Kombes Pol Iqbal Pimpin Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Sudah sembilan bulan, Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya dipimpin oleh Kombes Pol Mohmmad Iqbal, S.I.K., M.H. Kemajuan di bidang penanganan kriminalitas terlihat cukup signifikan. Apa sebenarnya resep dari Iqbal?

Kepada redaksi beritajatim.com, Kombes Pol Mohmmad Iqbal memberi penuturan cukup panjang lebar. Menurut perwira kelahiran di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Juli 1970 itu, memimpin kota besar seperti Surabaya ini membutuhkan intensitas dan strategi yang mumpuni. Tidak bisa sembarangan.

Ada dua teori yang diterapkan oleh perwira yang sejak 14 November 2016 mengemban amanat sebagai Kapolrestabes Surabaya itu. Kedua teori itu adalah OH (Organisasi Health Audit) dan teori manajemen EES (Internal Environmental Scanning).

Teori OH dipakai untuk melihat konteks dan permasalahan kriminalitas di Surabaya. Semisal menghadapi pasien, OH merupakan teori yang dipakai untuk mendiagnosa kesehatan. Melalui OH, pokok pangkal kriminalitas di Surabaya bisa terlihat.

"Kalau di organisasi terlebih dulu mengaudit kesehatan, jika ditemukan ada yang sakit perut atau sakit asam urat, tentunya bisa langsung bertindak memberikan obati sesuai keluhan sakitnya. Jangan sakit ini diberi obat lain, maka membuat organisasi tidak berjalan," papar lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini.

Setelah penyakit kriminalitas kota Surabaya terlihat, Kombes Pol Mohmmad Iqbal mempelajari dan mencari solusi untuk penanganan. Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah pembentukan Tim Anti Bandit. Sebuah tim yang secara seksama bergerak di kampung, perumahan, jalan raya, maupun tempat-tempat strategis lainnya untuk mencegah dan memburu pelaku kriminal.

Adapun teori manajemen EES berfungsi untuk mengatur pendekatan terhadap seluruh anggota kepolisian sekaligus komunikasi dengan pihak-pihak lain. Misalnya pihak Pemerintah Kota Surabaya, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI), maupun organisasi kemasyarakatan.

Atas dasar manajemen EES, Kapolres bersilaturahmi kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Termasuk keliling mendatangi kantor redaksi media massa. Bahkan, Kombes Pol Mohmmad Iqbal menemui suporter fanatik Persebaya Surabaya, yakni Bonek. Mendengar aspirasi Bonek sekaligus memberikan pengarahan.

Perwira hobby motor kuno ini mempunyai gaya sendiri dalam pendekatan berkomunikasi yakni konsisten dan tulus. Selain itu ingin membangun sebuah hubungan persahabatan erat. Kapolres juga ingin memberi rasa nyaman terhadap seluruh warga Surabaya.

Rasa nyaman dan aman tersebut dinilai penting. Sebab, infrastruktur kota Surabaya telah cukup lengkap. Mulai sarana pendidikan, kesehatan, cagar budaya, taman-taman yang tertata rapi. Seluruh infrastruktur tersebut dinilai bakal sia-sia tanpa jika kriminalitas merajalela. Makanya, Tim Anti Bandit berusaha keras mengurangi angka kriminalitas.

Bagi Kombes Pol Mohammad Iqbal, Surabaya sebenarnya bukanlah kota yang asing. Dia pernah menjabat Kasat Lantas Polwiltabes Surabaya Polda Jatim (2007) dan dipromosikan sebagai Analis Kebijakan Madya bidang Dalops Sops Polri ini.

"Hasilnya Tiga Pilar bisa mengubah citra kepimpinan antara Polri, TNI, dan pemerintahan menjadi baik serta bermanfaat untuk masyarakat kota Surabaya," tuturnya..

Pada hari ulang tahun Bhayangkara 1 Juli lalu, Kombes Pol Mohammad Iqbal pernah mengatakan sebagai Polri itu harus bisa lebih meningkatan dalam menjalankan tugasnya serta menjungung tinggi pada tanggung jawab untuk menjadi Polri yang lebih baik dan di cintai pada masyarakat.

"Terpenting jadi pemimpin itu harus mau menjalankan manajemen repot, yaitu mau kesana-kesini jangan duduk di kantor saja, atau gunakan gaya proaktif kepolisan untuk membuat Surabaya aman dan nyaman," pungkas Iqbal. [gil/but]

Tag : tokoh

Komentar

?>