Kamis, 14 Desember 2017

AQ dan Tagline 'Madura Bersatu'

Senin, 31 Juli 2017 11:49:37 WIB
Reporter : Samsul Arifin
AQ dan Tagline 'Madura Bersatu'

Pamekasan (beritajatim.com) - Presiden Madura United FC Achsanul Qosasi kembali mendapatkan penghargaan sebagai tokoh pemersatu Madura melalui dunia olahraga, yakni sepakbola.

Kali ini penghargaan tersebut didapat pria yang akrab disapa AQ dari Dewan Pempinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Besar Madura atau yang lebih dikenal dengan sebutan IKAMA di Jakarta, Minggu (30/7/2017) malam.

Penghargaan tersebut merupakan yang ketiga bagi tokoh asal Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Sebab sebelumnya ia juga sempat mendapatkan penghargaan serupa dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Timur, 2016 lalu.

Memang selama ini, sosok Achsanul Qosasi yang menjabat sebagai anggota BPK RI justru lebih familiar bagi suporter tim berjuluk Laskar Sape Kerrab yang saat ini tengah berlaga di kompetisi yang digagas PT Liga Indonesia Baru (LIB), Liga 1.

Motivasinya untuk mengembangkan sekaligus merubah pandangan banyak orang terhadap tanah kelahirannya, Madura yang dianggap keras dan terbelakang, mulai diwujudkan dengan jargon 'Madura Bersatu' melalui dunia sepakbola.

Jauh sebelumnya, sosok AQ lebih identik sebagai seorang politisi. Ia merupakan salah satu wakil warga Madura yang berada di parlemen sebagai wakil rakyat di DPR RI. Serta sempat berkecimpung dalam dunia sepakbola di Madura, saat mengelola Persepam-MU dibawah naungan PT Pojur Madura United.

Bahkan pada saat itu, ia juga sempat mengantarkan tim asal Pamekasan berkompetisi di kasta tertinggi sepakbola tanah air. Namun sayang akhirnya gagal bertahan dan terdegradasi ke devisi utama (saat ini Liga 2) dan akhirnya dikembalikan ke Pemkab Pamekasan.

Setahun vakum dalam dunia sepakbola, ia kembali bergelut dengan olahraga terpopuler di dunia pasca mengambil alih Persipasi Bandung Raya (PBR) dan diakuisasi menjadi Madura United FC di bawah naungan perseroan baru, PT Polana Bola Madura Bersatu (PBMB), 10 Januari 2016 lalu.

Di tahun pertamanya, ia langsung membentuk tim sekaligus melakukan seleksi terbuka guna memberikan kesempatan dan peluang bagi para pemain profesional. Bahkan ia juga mengontrak pemain asal negeri Matador, Pablo Rodreguez Aracil. Termasuk juga pemain sarat pengalaman sekelas Fabiano Beltrame.

Dianggap sebagai tim 'anak bawang' (karena baru terbentuk), tim berjuluk Laskar Sape Kerrab menunjukkan kualitas di awal-awal pembentukan. Salah satunya sebagai tim runner up turnamen pra musim Piala Gubernur Kalimantan Timur, bahkan mereka lolos ke final setelah melewati beberapa tim hebat dan memiliki nama besar di Indonesia.

Tidak hanya itu, di bawah arahan Achsanul Qosasi bersama jajaran manajemen dan tim pelatih. Skuad Madura United kembali membuktikan diri sebagai tim solid dengan nuansa kekeluargaan, mereka pun mampu finis di posisi ketiga klasemen akhir Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Lagi-lagi mereka berhasil mengungguli tim-tim elit di kencah sepakbola nasional.

Kali ini mereka berkompetisi di Liga 1, berbagai kejutan sudah mereka melakukan di awal musim. Salah satunya dengan mendatangkan pemain yang sempat bermain di Liga Inggris, Peter Osaze Odemwingie. Hal itu sebagai jawaban sekaligus keseriusan mereka untuk berkompetisi di kasta tertinggi sepakbola tanah air.

Bahkan saat ini, tim yang dikelolanya sangat berpeluang besar untuk kembali menjuarai putaran pertama Liga 1 seperti yang mereka raih pada putaran pertama ISC A 2016. "Tentu kami bersyukur atas penghargaan ini, sekaligus sebagai motivasi untuk terus memberikan yang terbaik bagi Madura," kata AQ kepada beritajatim.com, Senin (31/7/2017).

"Kami hanya ingin merubah cara pandang publik terhadap Madura yang selama ini terkesan selalu dijadikan bahan lelucon. Melalui sepakbola ini kami ingin merubah mindset masyarakat terhadap Madura," ungkapnya.

Dari itu pihaknya juga menggagas tagline 'Madura Bersatu' sebagai komitmen awal demi merealisasikan misi bersama. "Karena bagaimanapun tagline ini tidak mungkin kita lakukan sendiri, tentunya dibutuhkan banyak pihak untuk merealisasikan. Mulai dari para tokoh, kiai, akademisi, mahasiswa hingga suporter," imbuhnya.

"Kedepan kita berharap agar masyarakat Madura semakin solid seperti yang kita harapkan bersama. Sepakbola ini merupakan alat pemersatu yang kami kemas dalam tagline 'Madura Bersatu'," harapnya.

Dalam aspek sepakbola Madura, empat elemen suporter yang tersebar di empat wilayah berbeda juga sama-sama mengusung jargon 'Madura Bersatu'. Mulai dari komunitas K-Conk Mania (Bangkalan), Peccot Mania (Sumenep), Taretan Dhibi' (Pamekasan) dan Trunojoyo Mania (Sampang). [pin/kun]

Komentar

?>