Kamis, 23 Nopember 2017

Basofi Sudirman Menjahit Kembali Peta Jawa Timur

Senin, 08 Mei 2017 16:20:02 WIB
Reporter : Dwi Eko Lokononto
Basofi Sudirman Menjahit Kembali Peta Jawa Timur
foto istimewa

KABAR sakitnya Moch. Basofi Sudirman, Gubernur Jatim periode 1993-1998, menyebar dan menjadi viral di media sosial sejak Minggu siang. Semua kalangan mendoakan kesembuhan.

Berita menjadi lebih heboh ketika ada kabar Basofi wafat. Untunglah berita hoax itu segera terbantahkan melalui informasi yang disebar Nurwiyatno, Inspektur Provinsi Jatim. “Alhamdulilah doa bapak dan ibu sekalian untuk kondisi Bapak Basofi Sudirman sudah membaik. Salam dari Ibu Marie Basofi,” tulis Nurwiyatno, Senin (8/5/2017).

Kepastian bahwa kondisi Basofi Sudirman membaik juga disampaikan Lies Idawati, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan Jatim. “Pak Basofi kondisinya justru membaik. Mohon doa semua sahabat,” kata Lies saat dihubungi melalui telepon.

Meski telah lengser dari jabatan 18 tahun silam, namun masih banyak yang peduli padanya. Banyak yang mengenang sosok Basofi sebagai salah satu Gubernur Jatim yang merakyat. Nama Basofi sangat dikenang bukan sekadar karena membuat album Tak Semua Laki-Laki..

Melalui berbagai aktivitasnya Basofi  terus memperkuat tolerasi dan pluralisme di Jawa Timur. Kesederhanaan dan keramahan Basofi membuatnya tidak berjarak dengan masyarakat yang dipimpinnya.

Itulah yang membuat Basofi menjadi tempat betanya dan bahkan berkeluh-kesah masyarakat, bahkan setelah tidak lagi menjadi Gubernur Jatim.

Basofi tidak hanya piawai menyapa masyarakat dengan senyum dan kesantunannya, lebih dari itu juga lewat pengetahuannya yang luas pada agama, politik, pemerintahan dan ekonomi.

Di pihak lain, Basofi juga punya kemampuan menyentuh hati masyarakat lewat suara emasnya, khususnya melalui lagi Tidak Semua Laki-laki. Tak hanya itu, Pak Bhas juga bisa menyapa masyarakat melalui kegemarannya pada sepakbola.

Basofi Sudirman yang merakyat adalah sosok yang sangat populer di mata masyarakat. Kemanapun ia pergi pastilah ada yang menyapanya.

Tak heran, banyak partai politik yang berupaya mengincarnya  menjadi anggota legislatif ataupun bahkan kembali menjadi calon Gubernur Jatim diera pemilihan langsung oleh rakyat. Tapi Basofi tidak tergoda. Meski tetap dekat dengan dunia politik Basofi tidak bersedia menjadi calon anggota legislatif ataupun menjadi calon gubernur. Ia tetap setia menjadi “bapak” bagi seluruh warga Jawa Timur.

Sifat kerakyatan Basofi Sudirman sangat nampak tatkala ia meluncurkan program Kembali ke Desa (back to villange). Gerakan yang dipadukan dengan konsep One Village One Product (OVOP)  bukan sekadar sebagai suatu gerakan revitalisasi daerah untuk mencari atau menciptakan apa yang menjadi keunggulan daerah, lalu meningkatkan isi dan mutunya sehingga dapat diterima dan diakui nilainya secara nasional dan internasional, lebih dari itu seperti gerakan yang melawan arus.

Di tengah masih kukuhnya ideologi pertumbuhan, Basofi justru mengangkat tema pemerataan. Khusus bagi Jawa Timur yang pada periode pemerintahan sebelumnya lebih menekankan pada aspek pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi dan dukungan peniuh pemerintahan pada lahirnya pengembang perumahan skala raksasa, apa yang dilakukan Basofi Sudirman memang terkesan nyeleneh.

Apa yang dilakukan Basofi Sudirman mungkin memang belum seberhasil apa yang dilakukan pemerintah keberhasilan provinsi Oita (Jepang) melaksanaan One Village One Product (OVOP) yang kemudian menjadi inspirasi banyak kota dan negara, tetapi Basofi Sudirman telah mengingatkan pentingnya bagi pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat pedesaan, tempat mayoritas penduduk Indonesia tinggal.

Lewat Gerakan Kembali ke Desa (GKD), Basofi seperti kembali menjahit peta Provinsi Jawa Timur yang sempat robek oleh konsentrasi pemerintah yang hanya terpusat pada sektor-sektor penumbuh ekonomi.

Meski sebagai pemimpin yang lembut hati, namun Basofi Sudirman akan langsung berapi-api tatkala melihat ada sesuatu yang bisa mengancam NKRI, toleransi antar-umat dan penderitaan masyarakat. Meski usianya sudah sepuh, ia akan memacu mobilnya menuju gedung PWI Jatim untuk bertukar pikiran dan mengajak wartawan terus menjaga NKRI dan memelihara toleransi masyarakat yang plural.

Basofi Sudirman sadar ia adalah bapaknya masyarakat Jatim. Dia telah menjahit kembali peta Jawa Timur yang robek.(bjo)

Berita Terkait

    Komentar

    ?>