Sabtu, 27 Mei 2017

Siswanto Bercerita Pernah 'Mati Tiap Malam'

Kamis, 09 Februari 2017 16:51:23 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Siswanto Bercerita Pernah 'Mati Tiap Malam'

Banyuwangi (beritajatim.com) - Sepenggal kisah seorang jurnalis Banyuwangi yang menyimpan cerita berbeda. Dia adalah Siswanto. Sosok pria 48 tahun itu selain menasbihkan diri sebagai kuli tinta, ia juga termasuk satu-satunya pewarta dari tanah Blambangan yang peduli akan dunia seni.

Perjalanan karir pria asal Desa Jajag, Kecamatan Gambiran ini tak pernah dengan sepi oleh peran seninya. Hal itu ditunjukkan dengan eksisnya dia di dunia peran dalam seni pertunjukkan Janger Banyuwangi.

Darah seni yang mengalir dari kedua orangtuanya, menuntun bakat dirinya mengarungi bahtera aksi dan seni. Perannya sebagai penerus tahta seni keluarganya itu muncul kala usianya masih muda. Namun, ia mulai benar-benar menggeluti dunia janger pada periode 1995 silam.

Pertama tampil di panggung janger, Sis Bol sapaan akrabnya, menjadi awal yang mendebarkan. Kala itu, ia turut bernaung dalam panji kelompok janger Hadi Utomo, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Itu menjadi titik awal tak terlupakan.

"Diberi upah Rp 20 ribu rupiah semalam itu sudah mewah. Meski harus berjuang menahan rasa ngantuk untuk menutupi penampilan di panggung. Dipukul, dihajar, ditendang tapi itulah peran. Bahkan, harus menerima dibunuh dan mati tiap malam," ujar Siswanto, yang juga jurnalis harian memorandum itu, Kamis (9/2/2017).

Semangat menghidupi seni daerahnya memang tak pernah padam. Meski kini panji kelompok seni yang dibelanya telah layu berkembang, Siswanto tetap berkibar. Tak jarang, bapak empat anak ini berpangku hidup di payung seni milik kelompok lainnya.

"Kalau seni itu memang tidak ada duanya, selalu menyenangkan, bahkan tak ternilai. Tapi, kadang nilainya juga tak sebanding dengan perjuangannya," ungkap Siswanto yang juga sebagai Ketua HIPABA Banyuwangi ini.

Enaknya, terang Sis, biasa berperan sebagai kelompok 'abangan' atau kaum butakala dalam janger, perannya sedikit. Bahkan, unjuk gigi akan usai setelah peran utama membunuhnya.

"Bedanya kalau yang lain berperan sampai usai, tapi saya setengah cerita saja. Pokok mari dipateni mari wes, abis itu tidur. Pulang bawa uang," kelakarnya sambil melepas simpul senyum lebar.

Beda halnya kala bertugas sebagai jurnalis. Di lapangan, Dia salah satu pewarta yang tangguh, bahkan bisa dibilang militan. Tak peduli, kadang jalanan menjadi hamparan yang selalu memberinya ruang. 'Pantang pulang sebelum tayang' kata yang selalu menjadi pedomannya. Tak ayal bisa dikatakan, dia jurnalis yang memiliki rumah dimanapun berada.

"Semangat jadi wartawan itu ya memang harus gitu. Nikmati tempat kerja jadi ladang sekaligus rumah yang nyaman," kata Pria yang suka berpantun ini.

Di hari pers nasional (HPN) ini Siswanto berpesan, tak ada kata lain selain berkarya. Dalam hidupmu penuh karya, maka berkaryalah sepanjang hidupmu, dan berkarya untuk menghidupimu.

"Jadilah jurnalis yang sebenarnya, yang bisa menginspirasi sesama. Selalu mengedepankan nilai keseimbangan dalam berita. Informasimu ditunggu untuk langkah masa depanmu dan orang di sekitarmu," tandas Putra sulung dua bersaudara ini. [rin/but]

Tag : tokoh

Komentar

?>