Kamis, 02 Maret 2017

PakDe, Sosok 'Terlupakan' di Balik Sukses Madura United FC

Selasa, 20 Desember 2016 17:01:42 WIB
Reporter : Samsul Arifin
PakDe, Sosok 'Terlupakan' di Balik Sukses Madura United FC

Pamekasan (beritajatim.com) - Madura United FC gagal menjadi juara dan hanya menempati posisi ketiga klasemen akhir Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016.

Sekalipun berada di posisi tiga klasemen pada turnamen jangka panjang yang digagas PT Gelora Trisula Semesta (GTS) yang berakhir Minggu (18/12/2016). Namun capaian tersebut sudah melebihi target awal tim berjuluk Laskar Sape Kerrab.

Dengan prestasi tersebut, tentunya banyak figur yang memiliki jasa sekaligus peran besar bagi 'tim baru' yang di akuisisi dari tim semanjana Persipasi Bandung Raya (PBR) menjadi Madura United FC, Minggu (10/1/2016) lalu.

Semisal Presiden Klub Achsanul Qosasi, Manajer Haruna Sumitro, Pelatih Gomes de Olivera, Kapten Tim Fabiano Beltrame maupun seluruh pemain lainnya. Dimana nama mereka selalu muncul dalam berbagai media, mulai media cetak, elektronik hingga online.

Adakah yang kenal nama YULIANTO dalam skuad Madura United FC, sosok sederhana dengan semangat tinggi yang selalu setia menemani Madura United FC dalam mengarungi ketatnya kompetisi selama 2016. Baik saat harus melakoni laga tandang maupun kandang.

Memang ia bukanlah sosok yang jatuh bangun mengupayakan kemenangan bagi tim di lapangan seperti yang dilakukan para pemain, bukan pula ribet merancang strategi guna memberikan hasil positif dalam setiap pertandingan.

Pria berusia 48 tahun tersebut memiliki peran sangat penting dalam tim dan keberadaannya justru tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena tugas yang diembannya sangat sentral bagi Madura United FC.

Ia lah Kitman Madura United FC selama 2016, memang profesinya sangat jauh dari sorotan karena hanya bergerak di belakang layar. Perannya dalam dunia sepakbola tidak jauh berbeda dengan asisten rumah tangga.

Tugasnya hanya menyiapkan berbagai perlengkapan dan kebutuhan tim untuk latihan maupun pertandingan, seperti bola, jersey, kaos kaki hingga ban kapten dan perangkat lainnya menjadi menu tugas sehari-hari.

Termasuk juga dengan mencuci dan membersihkan jersey ataupun jersaey para pemain usai berlaga. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan ekstra dan tidak semua orang bersedia melakukannya.

Pria kelahiran Malang Jawa Timur itu, menjadi orang yang super sibuk sehari menjelang pertandingan berlangsung. Karena saat itu, ia diwajibkan untuk menyiapkan segalanya. Jersey yang akan digunakan harus sudah dicuci dan siap dipakai, tak terkecuali kostum cadangan.

Ia pun harus menjadi orang pertama yang harus tahu bila ada seragam tim yang rusak atau tak dapat dikenakan lagi, sehingga pihak klub dapat sesegera mungkin mendapatkan penggantinya. Begitu juga dengan ban kapten, kaos kaki hingga sepatu para punggawa tim.

Namun sekalipun harus bertanggungjawab penuh terhadap semua kebutuhan pemain sebelum bertanding, justru sangat dinikmatinya dengan ketulusan. "Suasana kekeluargaan yang diterapkan klub betul-betul membuat kami sangat menikmati pekerjaan ini," kata Yulianto, Selasa (20/12/2016).

"Terlebih orang-orang Madura betul-betul sangat menghargai profesi kami, sekalipun kami tidak bermain di lapangan," sambung pria yang akrab disapa PakDe oleh seluruh skuad Madura United FC.

Selain itu, dirinya bekerja bukan hanya berorientasi pada persoalan materi. Sehingga pekerjaan seberat apapun mampu dinikmatinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. "Ini bukan soal uang, tapi ada penghargaan tersendiri bagi kita pribadi," imbuhnya.

Dirinya menganggap seluruh skuad sebagai keluarga. Bahkan dengan penampilan apa adanya membuat para pemain maupun jajaran tim pelatih tidak canggung terhadap dirinya. "Sebenarnya semua pemain dekat, tapi yang paling dekat dan terasa seperti anak sendiri Engelberd (Sani)," ungkapnya.

"Laga kandang paling berkesan di Pamekasan, fanatisme dan kepedulian bagi pemain luar biasa. Bahkan mereka tidak pandang bulu sekalipun terhadap official juga diajak foto, hebat sekali," beber bapak 4 anak dan 2 cucu itu.

Tidak hanya itu, dirinya sudah hampir 10 tahun menjalani profesi sebagai kitman. Masing-masing 2 tahun bersama Persikoba Batu dan sekitar 7 tahun bersama Persewa Wamena. "Selama bersama tim ini, paling berat saat bertandang ke Serui. Apalagi kita harus melalui dengan tiga penerbangan berbeda," jelasnya.

"Kalau boleh jujur disini (Madura United FC) lebih enak, karena bisa bertemu keluarga setiap minggu. Kalau di Persewa dulu baru bisa pulang tiap setengah musim, tapi kalau di Madura sering pulang," pungkasnya. [pin/but]

Tag : tokoh

Komentar

?>