Sabtu, 19 Agustus 2017

Ini Sosok AQ di Mata Retno Suryandari

Minggu, 11 Desember 2016 22:32:08 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Ini Sosok AQ di Mata Retno Suryandari
Retno Suryandari, Istri Presiden Madura United FC Achsanul Qosasi

Pamekasan (beritajatim.com) - Retno Suryandari memberikan penilaian terhadap Achsanul Qosasi seputar kecintaan sang suami terhadap dunia sepakbola.

Bahkan dirinya mengaku juga menyukai sepakbola karena pengaruh sang suami, dimana pada saat itu dirinya sedang hamil. "Waktu itu, ia (Achsanul Qosasi) memaksa untuk ikut nonton sepakbola di Gelora Bung Karno," kata Retno Suryandari, Sabtu (10/12/2016) malam.

"Kalau saya sendiri awalnya hanya ikut-ikutan suka sepakbola, ya karena dia (Achsanul Qosasi). Sejak itu mulai sering nonton (sepakbola) dan akhirnya senang juga," imbuhnya.

Dirinya mengaku sudah mengorbankan berbagai hal demi merealisasikan hobi sang suami tercinta. Mulai dari aspek waktu, materi hingga emosi. "Kalau pengorbanan terbesar dari sisi materil paling banyak saat ia mengelola Persepam-MU. Apalagi sponsornya tidak sebanyak sekarang (Madura United FC)," ungkapnya.

"Kalau misal waktu gajian (pemain Persepam-MU) kurang, ia sering minta untuk pinjam uang. 'Ma bisa pinjam uang tidak? Ini ada yang kurang. Ini kurang dan sebagainya'," sambung Retno Suryandari menirukan ucapan suaminya saat membutuhkan uang untuk membayar gaji pemain.

Selain itu, dirinya mengungkapkan jika Achsanul Qosasi sudah mencintai sepakbola jauh sebelum ia mengelola Persepam-MU maupun masuk di kepengurusan PSSI. "Jauh sebelum itu, bapak bersama teman-temannya suka bikin klub di kampung di Jakarta. Bahkan sempat mengantarkan Persija Jaksel masuk ke PSSI, itu salah satu bentuk kesukaannya untuk sepakbola," ungkapnya.

"Setelah bapak di PSSI, ia semakin aktif di sepakbola dan pada akhirnya mengelola Persepam sejak 2011 lalu. Memang dunianya dia banyak di sepakbola, untung anak kami perempuan," jelas ibu satu anak hasil pernikahannya dengan pria yang akrab disapa AQ.

Ibunda dari Anisa itu juga menjelaskan aktivitas sang suami saat vakum dari dunia sepakbola usai mengelola Persepam-MU bersama PT Pojur Madura United. "Setahun vakum lumayan juga, kami tidak merasa apa-apa dan memang fokus pada pekerjaan," jelasnya.

"Tapi saat ia (AQ) mulai akan mengelola Madura United ini, ia terlihat sangat senang dan semangatnya juga sangat terasa. Berbeda saat ia tidak sedang mengelola sepakbola selama setahun (2014)," ujar perempuan yang akrab disapa Retno itu.

Kecintaan seorang AQ justru semakin terlihat saat ia mengambil alih Persipasi Bandung Raya (PBR). "Awalnya tidak kelihatan antara saat vakum dan proses komunikasi akan ngambil tim. Tapi saat sudah diambil, kelihatan semangatnya bertambah. Sepertinya ia kepingin banget mengelola sepakbola, tapi semangatnya ditahan-tahan mungkin," bebernya.

"Sempat sih bicara sedikit kalau ingin mengambil PBR, kebetulan ada teman saya juga di PBR. Saya sempat bergumam begini; 'ya elah habis lagi nih waktu'. Ya sudahlah, karena memang refreshing bapak sepakbola, mau bagaimana lagi. Ya harus dimengerti," katanya.

Tidak hanya itu, putri sulungnya juga terkena imbas akibat kecintaan dirinya bersama sang suami terhadap sepakbola. "Kalau anak kami mungkin sejak di kandungan sudah diajak nonton bola, meski perempuan ia senang banget. Kalau malam jam dua ada pertandingan sepakbola, ia nonton sendiri," ungkap Retno.

Bahkan tanpa canggung Retno juga membeberkan saat sang suami membutuhkan uang untuk mengurus sepakbola. "Beberapa kali tabungan saya sampai habis dipinjam, nanti saya baliin (kembalikan). Memang balik lagi sih, tapi lama. Itu kan karena saya juga kerja," bebernya.

Saat tim berjuluk Laskar Sape Kerrab menelan kekalahan, Achsanul Qosasi cenderung tidak bisa tidur. "Wah kalau kalah ia tidak bisa tidur, kadang memaksa saya untuk cerita tentang kekalahan dan evaluasinya dari mana. Harus ditemani kalau kalah, apalagi kalau Liverpool (Inggris) juga kalah, ia tidak bisa tidur," sentil Retno.

Tidak hanya itu, dirinya juga menjadi saksi jika suaminya juga pernah menangis saat timnya menelan kekalahan. "Paling parah menangis waktu (Persepam-MU) degradasi, waktu itu kan semuanya sama-sama nangis," ungkapnya.

"Kalau tahun ini saya lihat (AQ menangis) waktu kalah lawan Persela kemarin. Ya namanya bola biasa saja, ia kelihatan sedih waktu itu. Tapi tidak sedih-sedih banget, karena memang targetnya di empat besar pada awal pelaksanaan," imbuhnya.

Perempuan yang saat ini tinggal bersama keluarga di Pesangrahan Jakarta Selatan, juga memberikan penilain tersendiri saat Madura United FC bermarkas di Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) Pamekasan. Seperti yang dilakukan dalam tiga laga terakhir Indonesia Soccer Championship (ISC) A.

"Kalau nonton di Madura malah seneng, kalau pindah ke Pamekasan. Memang dari dulu ia sangat ingin segera bermain di Pamekasan, karena di tengah-tengah Madura. Dari awal ia sudah bilang tentang pertandingan di Pamekasan. Kalau saya, lebih sukanya main di Bangkalan karena deket dengan Surabaya," pungkasnya. [pin/suf]

Komentar

?>