Siapa Dia

Teater Lingkar Surabaya Ajak Masyarakat Melek Informasi Lewat Kesenian

Para pemain teater lingkar tengah melakukan gladi bersih sebelum pertunjukan di mulai

Surabaya (beritajatim.com) – Liarnya kabar bohong (Hoaks) kian meresahkan masyarakat. Tidak sedikit pula yang telah termakan dan mempercayai informasi tersebut tanpa harus tabayun (klarifikasi).

Menanggapi hal tersebut, Teater Lingkar Surabaya mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyebaran informasi melalui seni. Lewat pementasan mereka berjudul ‘Mamasura Kota II : Distopia’ yang digelar di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Jawa Timur (14/08/2019).

‘Siapakah pencipta mata-mata buram dari sebuah kata-kata?’, begitulah penggalan naskah Mamasura Kota II : Distopia. Begitulah manusia memanipulasi sebuah informasi untuk kepentingan mereka sendiri.

“Dalam pementasan ini, kami mencoba menghadirkan kenyataan-kenyataan yang terjadi untuk mengingatkan kembali masyarakat agar lebih waspada”, ujar Nanda Esa selaku Pimpinan Produksi Mamasura Kota II : Distopia.

Menurutnya, secara tidak sadar penyebaran informasi yang bebas dan masif kini semakin sulit untuk dikendalikan. Egois manusia pun juga tersebar lewat informasi yang hanya menguntungkan beberapa pihak.

“Kita tahu bahwa informasi kini semakin mudah disebarkan dan sangat besar potensi untuk memanipulasi sebuah informasi. Berita hoax tersebar dengan mudah dan cepatnya. Karena kurangnya pengetahuan atau kurang waspadanya masyarakat maka dengan mudah mereka mempercayai informasi yang masuk,” tambahnya.

Selain ingin mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap penyebaran informasi, menurut Iqbal Jazuli selaku sutradara, dalam naskah ini kami ingin mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak mudah dikendalikan oleh ego manusia.
“Distopia itu sendiri merupakan ruang imajiner dalam pikiran manusia. Sebuah tempat yang bahkan tidak pernah diharapkan dalam kenyataan. Tempat penuh dengan Mamasura atau iblis penyebab ke-egoisan,” tambah Iqbal.

Dalam naskah ini kita mencoba untuk menghandirkan apa yang kami lihat ke atas panggung. Mulai dari propaganda, doktrinisasi, pencucian otak, hingga perundungan, kami kemas dalam sebuah pertunjukan berdurasi 60 menit.

Iqbal menambahkan, saat manusia telah mempersilahkan ego untuk menguasai diri mereka, maka Distopia tidak akan hadir sebagai ruang imajiner saja, namun akan menjadi sebuah tempat yang nyata. Tempat yang benar-benar tidak pernah diharapkan untuk ada dalam kenyataan.

“Dengan pementasan ini kami berharap penonton mampu menyadari kehadiran ego dalam diri mereka, namun tidak membuat ego itu sendiri menguasai mereka sehingga Distopia yang tidak pernah kita harapkan tidak akan pernah ada”, tutupnya.[way/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar