Siapa Dia

Hikmah ‘Insiden Rocky Gerung’ Bagi Muhammadiyah

Jember (beritajatim.com) – Penghadangan terhadap pengamat politik Rocky Gerung oleh sekelompok orang saat hendak tampil dalam kuliah umum di Universitas Muhammadiyah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (7/3/2019) lalu, memunculkan hikmah bagi warga Muhammadiyah.

Hikmah tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember Kusno. Dalam wawancaranya dengan Beritajatim.com terkait persoalan tersebut, dia mengungkapkan beberapa hal menarik yang dirangkum dalam artikel di bawah ini:

Kegiatan kuliah umum merupakan ranah lembaga perguruan tinggi. Seperti halnya waktu kita hadirkan Pak Jokowi. Itu semua tuntutan akademis untuk memberikanm pencerahan, wawasan kepada insan akademis dan warga Muhammadiyah yang punya kesempatan mengikuti. Dulu waktu Pak Jokowi hadir di Unmuh ini, alhamdulillah, sambutan masyarakat juga luar biasa.

Kehadiran Rocky Gerung adalah agenda kampus terkait dengan kuliah umum. Secara teknis, yang tahu rektorat. Namun menurut pantauan saya, kehadiran Pak Rocky Gerung bukan sekali ini. Beberapa waktu tidak ada masalah (saat Rocky menghadiri seminar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jember, Oktober 2018). Sebenarnya kita tidak mempersoalkan apapun, karena terkait wawasan kebangsaan kita, orang Muhammadiyah sudah cukup cerdas dalam melihat perbedaan: mana yang harus disikapi dengan kearifan, dan tidak perlu dengan berbagai intimidasi. Saya kira intimidasi terhadap sebuah institusi sangat berbahaya bagi kebersamaan dan kerukunan kita.

Saat didapuk memberikan materi kuliah umum di Unmuh, saya menyampaikan, bahwa intinya: kita orang-orang yang ada di gerakan (Muhammadiyah) sudah memiliki konsep nilai bagaimana kehidupan kebangsaan kita bina dan arahkan, sehingga kita tidak merasa kita yang menentukan segalanya. Pro kontra ini awalnya saya tidak tahu. Kami hanya masyarakat yang ingin menambah wawasan dan masalah keamanan adalah hak kepolisian.

Saya ingat dulu zaman Orde Baru, bagaimana kebebasan berekspresi tidak diwadahi. Lalu ada statement kadangkala, bahwa kalau begini rasanya belum merdeka. Tapi yang penting kami dari sisi Muhammadiyah, menjunjung tinggi kepribadian Muhammadiyah, yaitu mengembangkan kehidupan yang aman, rukun, damai. dan sejahtera. Karena itu tidak ada satu pun kegiatan yang ditujukan untuk mengusik kepentingan pihak lain. Dan andaikan ada yang terusik dan melakukan tindakan yang melampaui batas, kami tetap dalam koridor menghormati karena berbeda adalah indah.

Ini adalah pembelajaran bagi kita bersama bahwa menciptakan kebersamaan itu membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan mendasar adalah menghormati perbedaan.

Muhammadiyah berwatak mendamaikan. Sekecil apapun celah-celah, sepanjang itu bisa dipahamkan, maka harus dipahamkan. Bagaimana kita menghadapi orang yang kadangkala belum tahu nilai atau belum kenal nilai. Misalkan dulu Nabi hijrah lalu dilempari macam-macam, tidak boleh kita membalas lebih daripada itu. Untuk apa? Kita adalah anak bangsa yang sama, hidup di wilayah yang sama. Kita sadar betul, bahwa hidup ini dibangun dengan kesantunan dan kesopanan. Kalau sudah santun dan sopan, maka sikap, tindakan, dan perilaku akan mendatangkan berkah.

Kita ini sering mengatakan, harus bisa menghormati, tapi kita sendiri tidak bisa menghormati. Kita belajar dari itu: janganlah menjadi yang ingin dihormati, tapi kita harus terus menghormati terhadap apapun. Dalam Muhammadiyah ini diajarkan: dicethot dadi otot, dijiwit dadi kulit. Jadi kita harus terbiasa dengan perjuangan yang penuh tantangan. Sepanjang tidak ideologis, kita bisa memahami.

Hikmah apa yang bisa diambil dari peristiwa ini? Pertama, saya melihat kekompakan warga Muhammadiyah, organisasi otonom dan amal usaha Muhammadiyah, luar biasa. Tidak ada komando dari saya. Saya tidak memberikan perintah apapun untuk merespons video (aksi intimidasi calon legislator Partai Hanura Jumadi terhadap Universitas Muhammadiyah Jember) yang diunggah di media sosial. Mereka berbondong-bondong menuju kampus Unmuh Jember tidak ada yang menggerakkan. Ada satu kesadaran. Ini membuat saya bahagia. Muhammadiyah kelihatan soliditasnya kuat, kebersamaannya oke. Umpama sewaktu-waktu kita gerakkan, kita tidak ragu.

Kedua, kita akan lebih belajar lagi bahwa dalam melakukan koordinasi eksternal dalam hal-hal bersifat akademik, kita perlu lebih sinergi lagi. Walau pun kampus punya otonomi, kampus sudah berusaha tidak berpolitik praktis. Kampus ini juga tidak membawa misi-misi keagamaan yang radikalis. Kampus kami punya semboyan morality, religious, civilization. Pengajaran di kampus ini umatan wasathon. Islam yang rahmatan lil alamin. Jadi konteksnya tetap pada ajaran yang ada itu dan dikembangkan, dipadukan dengan nilai dan kondisi yang berkembang di masyarakat. Jadi hikmah kedua adalah kita bisa memperbaiki lagi sistem komunikasi, sistem koordinasi, dan pada akhirnya kita ingin suasana internal maupun eksternal dalam gerak Muhammadiyah tetap kondusif. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar