Siapa Dia

Ajeng, Sosok Deklamator Puisi Nasional, Mengubah Patah Hati Jadi Prestasi

Ajeng saat Baca Puisi Bersama Teater Gapus Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) – Nurmutiara Lintang Sari, perempuan patah hati yang mengubah kesialannya menjadi karya dan prestasi. Ditemui di tengah-tengah kesibukan kuliah dan bekerja, Ajeng panggilan akrabnya telah menghasilkan berbagai ragam prestasi dalam bidang seni dan sastra.

Ajeng, mengakui kepada beritajatim.com bahwa selama ini ia mencurahkan bakat seni dan sastranya untuk mengalihkan rasa patah hati. Setelah mengalami masa down karena orang tua telah tiada, dan menjadi yatim piatu, dia pun kemudian menggeluti dunia teater bersama Teater Gapus Surabaya dan mendalami divisi Sastra dengan baca dan menulis puisi.

Kerja keras tidak mengkhianati hasil. Bertahun-tahun berlatih teater dan sastra, ia pun menjuarai berbagai lomba baca puisi. Pada 2017, dia meraih Juara 1 Sayembara Sastra Airlangga kategori Baca Puisi. Pada 2018, dia meraih juara 1 Peksimikam Unair kategori Cipta Puisi dan juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Jogjakarta kategori Baca Puisi. Dan Desember 2019 menjadi Juara 2 Lomba Baca Puisi Antar Master oleh Dewan Kesenian Tasikmalaya.

Memiliki bakat reklamasi puisi dari sang Ayah, Ajeng mengakui bahwa dengan terus berkarya dalam puisi ia merasakan kembali kehadiran Sang Ayah.

“Kalau lagi baca puisi itu atmosfernya fantastis banget, aku seperti ditemani ayah. Seakan semua rasa down dan patah hati karena ditinggal mama sama ayah jadi sembuh,” ujarnya Selasa (7/1/2020).

Selain fokus menjadi Deklamator Puisi, Ajeng juga aktif bermain teater dan Musikalisasi Puisi bersama Teater Gapus. Rasa cintanya terhadap seni dan sastra membuat namanya dikenal diantara Deklamator Puisi Indonesia. Suaranya yang lantang dan lugas tetapi bisa menghadirkan nuansa lembut, diingat sebagai Harmoni Khas Ajeng saat baca puisi.

Masih, berstatus mahasiswa Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, Ajeng yang tidak lagi memiliki orang tua berjuang menghidupi dirinya sendiri sebagai Penyiar Radio Profesional di Radio Kota FM.

Menjadi penyiar awalnya bukanlah cita cita Ajeng. Ia merasa bahwa takdir membawanya menjadi Deklamator Puisi dan Penyiar Radio.

“Aku merasa ini jalan yang diberi Tuhan untuk bisa terus dekat dengan Ayah dan Mama. Mama dulu seorang penyiar radio kemudian aku jadi penyiar radio. Ayah seorang Deklamator Puisi kenamaan Madura kemudian aku jadi Deklamator Puisi Nasional,” ucap Ajeng penuh haru.

Ia mengatakan bahwa segala hal yang dilaluinya menjadi lebih mudah saat ia mengingat Ayah dan Mamanya. Menjadi seorang anak yang mengikuti jejak orang tua menjadi keseruan dan penguat tersendiri bagi Ajeng.

“Patah hatiku karena belum sempat jadi anak yang membahagian orang tua, tetapi setelah mereka tiada aku mencapai titik ini semua. Begitu mungkin Tuhan memberikan ku kesempatan menjadi anak yang membanggakan dan membawa harum nama orang tua,” pungkasnya. [adg/but]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar