Wanita Juga Bisa: Eksistensi Reyog Putri Onggopati di Desa Plunturan Ponorogo

Penampilan Reyog putri pada saat Gebyar Budaya 2020 Desa Plunturan. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

REYOG, siapa yang tidak mengenal warisan budaya Indonesia asal Ponorogo ini. Kiprahnya sudah melanglang buana di dalam maupun luar negeri. Dari waktu ke waktu, Reyog Ponorogo mengalami perkembangan baik dalam hal tarian, kreasi cerita teater, dan alunan musik dari tembang yang dimainkan. Meskipun banyak yang sudah mengkreasikan reyog, hal itu tidak berlaku di Desa Plunturan. Desa yang terletak di Kecamatan Pulung ini tetap memegang teguh pakem yang diwariskan oleh para leluhur, tidak ada modifikasi apapun dalam hal pementasan Reyog.

Selain itu, adanya penampilan Reyog yang semua tokohnya diperankan oleh wanita, atau yang biasa disebut sebagai Reyog Putri, juga menjadi keunikan lain pada Reyog Desa Plunturan yang dinamakan Reyog Onggopati ini. Hal itu dikarenakan Reyog identik dengan penari laki-laki sejak awal terbentuk.

Laki-laki dinilai mampu untuk menari, memainkan alat musik, dan memakai atribut Reyog yang berat seperti dhadhak yang memiliki berat sekitar 30 kg. Umumnya, penari wanita di desa-desa lain hanya memerankan Jathilan. Sedangkan, di Desa Plunturan, penari wanita mulai dari usia anak-anak hingga dewasa terlibat dalam keseluruhan penampilan.

Meskipun unik, Reyog Putri Onggopati di Plunturan ini juga menghadapi beragam hambatan. Keberadaannya sempat ditentang oleh beberapa pihak, salah satunya Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo yang menentang adanya penari wanita dikarenakan mereka menganggap hanya laki-laki yang mampu menjadi penari Reyog. Namun, warga Desa Plunturan, khususnya para sesepuh tetap mengupayakan agar para wanita bisa menuangkan hobi mereka.

Upaya mereka tidak sia-sia, karena kini Reyog Putri Onggopati Plunturan telah menjadi satu-satunya desa di Kabupaten Ponorogo yang penari Reyog putrinya terdaftar secara resmi di data induk Dinas Pariwisata. Para penari memiliki minat yang tinggi terhadap Reyog, salah satu penyebabnya adalah karena mereka hidup dan dibesarkan di lingkungan dimana Reyog lahir dan dikembangkan.

Rasa cinta sudah ada di hati masyarakat Plunturan. Kesadaran akan saling memiliki sebuah kekayaan Plunturan juga sudah mereka rasakan. Maka dari itu, seluruh masyarakat Plunturan berupaya melestarikan budaya yang mereka miliki, yaitu Reyog.

“Menjadi suatu kebanggaan tersendiri soalnya kita sudah bisa membentuk grup Reyog Putri. Sedangkan untuk desa lainnya, untuk kecamatan Pulung sendiri memang belum ada Reyog putri,” kata Yayuk Nurdiastutik selaku Ketua Ibu PKK di Desa Plunturan.

Reyog putri Putri pertama kali dibentuk pada tahun 2012 oleh Yayuk Nurdiastutik yang juga merupakan Ibu Lurah Desa Plunturan. Namun awalnya, yang terbentuk hanyalah penari Warok yang berjumlah 8 orang ibu-ibu. Barulah pada tahun 2017, terbentuk keanggotaan yang lengkap, yang terdiri atas jathil, warok, ganongan, dan barong yang semuanya beranggotakan ibu-ibu.

“Strategi kita untuk melestarikan Reyog putri, kita sudah melatih untuk anak-anak tingkat SD-SMP supaya nanti tetap berjalan dan generasi penerusnya tetap ada. Dan untuk anak SD kita melatih melalui kegiatan ekstrakurikuler sekolah,” ujar Yayuk Nurdiastutuik menambahkan.

Upaya ibu-ibu PKK mengajarkan reyog melalui ekstrakurikuler sekolah ini patut diapresiasi karena mereka bersedia mengajarkan dan meluangkan waktu demi melestarikan budaya yang mereka miliki. Meski memang, mereka juga menghadapi hambatan karena keperluan mengurus rumah tangga, sehingga sering izin latihan menari untuk mengurus anak yang sakit atau urusan keluarga lainnya.

Selain tampil sebagai Reyog Putri Onggopati, para penari wanita di Desa Plunturan juga terlibat di penampilan Reyog yang “umum”. Mereka mengisi posisi Jathilan selayaknya penampilan di desa-desa lain. Namun, tetap dengan ciri khas yang menjadikannya berbeda.

Sebagaimana disampaikan oleh Mensy, salah satu remaja penari Reyog putri, “Jathilan itu karakternya tegas. Jadi penari Jathilan juga harus tegas gerakannya, tidak ada gerakan obyog kayak penari Jathilan di desa-desa lain. Gerakan obyog itu gerakan pinggul dan dalam pakem lama tidak ada gerakan obyog di reyog”.

Adanya penari Reyog putri menjadikan Reyog di Desa Plunturan berbeda dengan Reyog di desa-desa lain. Keberadaannya pun sama sekali tidak mengurangi nilai dari pementasan Reyog. Bahkan, efeknya juga dianggap terasa ke kehidupan sehari-hari. Seringnya latihan menari menjadikan para wanita di desa ini merasa lebih fit secara fisik dan memiliki karakter yang tegas. [but]

Latifa Nurjamila
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Apa Reaksi Anda?

Komentar