Prinsip Keluarga Antisipasi Internet Negatif

Internet telah menjadi kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari perilaku masyarakat keseharian. Amati saja sekitar. Saat pesan Whats App berstatus jam pasir atau saat browser tidak bisa menampilkan hasil pencarian, yang pertama dicari pasti pulsa. Tujuannya cuma satu yaitu memperpanjang kuota data.

Gambaran di atas menunjukkan internet oleh masyarakat umum dipakai untuk dua kebutuhan. Pertama, untuk mengakses informasi dari website. Kedua, untuk berkomunikasi melalui aplikasi media sosial. Contohnya facebook, whatsapp, instagram dan sejenisnya.

Masalahnya, internet itu ibarat uang logam. Internet punya dua sisi berbeda. Ada unsur negatif dan positifnya. Keduanya selalu hadir bersamaan mewujudkan sebuah fenomena.

Website adalah contoh fenomena di atas. Selain efektif untuk edukasi faktanya juga banyak yang berkonten pornografi. Aplikasi media sosial juga begitu. Selain untuk berkomunikasi, kadang juga dimanfaatkan untuk penipuan dalam jual beli online bahkan untuk sarana prostitusi.

Sementara itu pengguna internet begitu beragam. Dari anak-anak sampai orang tua menggunakan hasil teknologi ini untuk berbagai keperluan. Termasuk di dalamnya anak-anak usia sekolah. Dapat dibayangkan bagaimana jika anak-anak itu terkontaminasi unsur negatif internet di atas. Mau jadi manusia model apa mereka nantinya?

Salah satu cara mengantisipasi kemungkinan negatif internet adalah melalui pendidikan. Sedangkan salah satu lembaga yang efektif menyelenggarakan pendidikan ini adalah keluarga.

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Wikipedia). Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kedudukannya sebagai lembaga pendidikan informal. Dalam Pasal tersebut dinyatakan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Sebagai lembaga pendidikan sekaligus bagian masyarakat maka keluarga harus berpartisipasi dalam pendidikan. Secara tegas ini dinyatakan dalam Pasal 54 Ayat 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003.

Dalam pasal itu disebutkan peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan itu idealnya orang tua dalam keluarga berpedoman pada prinsip pendidikan. Prinsip ini dijelaskan dalam Pasal 4 UU RI Nomor 20 Tahun 2003. Dalam pasal tersebut dijelaskan 6 (enam) prinsip penyelenggaraan pendidikan. Berikut ini prinsip yang dimaksudkan.

Pertama, pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Dalam melaksanakan prinsip ini idealnya orang tua harus mengajarkan nilai-nilai agama yang diyakini sebagai acuan. Sekedar contoh, orang tua dapat mengajarkan anak untuk tidak melakukan hal negatif dalam internet karena tidak sesuai ajaran agama.

Kedua, pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

Dalam melaksanakan prinsip ini orang tua harus dapat mengarahkan anak pada sisi positif internet. Contohnya orang tua dapat mengarahkan anak untuk memanfaatkan internet dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.

Ketiga, pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Dalam prinsip ini orang tua harus selalu memberi bimbingan kepada anak secara terus menerus. Orang tua harus sabar, bijaksana, dan tanpa bosan mengingatkan dan mengawasi anak saat berinteraksi di dunia maya.

Keempat, pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Dalam prinsip ini orang tua harus bisa menjadi contoh yang diteladani anak. Sekedar masukan, saat orang tua melarang anak menggunakan smartphone pada jam belajar di rumah ada baiknya orang tua juga tidak sibuk dengan smartphonenya.

Kelima, pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

Salah satu contoh penerapan prinsip ini dengan pembiasaan membaca.  Tidak perlu lama. Cukup 5-10 menit saja asal rutin dalam pelaksanaannya. Misalnya sebelum anak tidur atau sore pada jam santai.

Untuk memastikan anak memang membaca, orang tua dapat bertanya jawab tentang bacaan yang dibaca anak. Jika mereka bisa menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan berarti mereka memang telah membaca. Sedangkan untuk bahan bacaannya dapat diambil dari website tertentu dalam smartphone anak.

Keenam, pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Salah satu contoh penerapan prinsip ini dengan mengadakan komunikasi secara intensif dengan pihak sekolah. Tujuannya untuk mendapatkan informasi tentang perilaku anak di sekolah. Caranya dengan bertanya, berdialog, dan berkonsultasi pada guru matapelajaran atau wali kelas anak.

Semua yang disampaikan di atas hanya contoh. Artinya orang tua bebas mengembangkan bentuk dalam proses pendidikan untuk membentengi anak dari pengaruh negatif perkembangan jaman.

Idealnya proses pendidikan yang diselenggarakan keluarga harus sesuai prinsip pendidikan. Ibarat kompas, prinsip tersebut menentukan arah dari proses pendidikan yang diselenggarakan keluarga yang dalam hal ini mengantisipasi kemungkinan dampak negatif internet pada anak.

Penulis : Ilham Wahyu Hidayat (Guru SMP Negeri 11 Malang)
kontak : ilham.weha@gmail.com

Apa Reaksi Anda?

Komentar