Keluarga Memelihara Bahasa Krama

Pemeliharaan Bahasa Krama dapat Dilakukan Melalui Keluarga

Bahasa krama adalah salah satu bentuk bahasa Jawa yang yang umumnya dipergunakan orang yang lebih muda kepada yang lebih tua. Contohnya anak kepada orang tuanya. Dalam budaya Jawa hal tersebut menunjukkan kesopanan sekaligus penghormatan. Tapi semua itu hanya konsep sebab kenyataannya tidak demikian.

Dalam keseharian yang sering ditemui anak berbicara dengan bahasa ngoko kepada orang tuanya. Kalau tidak begitu dengan bahasa Indonesia. Padahal bahasa ngoko itu jenis bahasa Jawa yang lebih tepat dipergunakan kepada yang seumuran.

Bahasa, termasuk bahasa krama, dalam kebudayaan digolongkan sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan. Keberadaannya disisipkan dalam Pasal 5 UU RI Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dalam Pasal di atas dinyatakan objek pemajuan kebudayaan meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Sebagai salah satu bentuk obyek pemajuan kebudayaan di atas maka sudah selayaknya jika bahasa krama dipelihara. Tujuannya pemeliharaan ini untuk mencegah kerusakan, kehilangan, bahkan kemusnahan unsur-unsur yang menghidupi ekosistem kebudayaan.

Pemeliharaan bahasa krama dapat dimulai dari lingkungan masyarakat terkecil yaitu keluarga. Dalam keluarga tersebut yang paling berperan sudah pasti orang tua.

Orang tua harus dapat mewujudkan pemeliharaan bahasa krama ini dalam proses pendidikan. Dalam proses tersebut orang tua memerlukan prinsip pembelajaran sebagai pedoman melaksanakan pendidikan.

Prinsip pembelajaran ini secara rinci dijelaskan dalam Bab 1 Pendahuluan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan. Berikut ini beberapa prinsip pembelajaran dalam Pasal tersebut yang dapat dipergunakan orang tua sebagai pedoman pemeliharaan bahasa krama.

Prinsip pertama, dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu.

Salah satu alternatif bentuk pelaksanaan prinsip ini dengan mengajarkan bahasa krama secara bertahap. Orang tua dapat memulai dengan memberikan pengetahuan tentang kosakata bahasa krama lalu dikembangkan secara terpadu dalam kalimat dan percakapan.

Prinsip kedua, pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani).

Pada  prinsip ini orang tua memberi keteladanan pada anak tentang penggunaan bahasa krama dengan berdasarkan contoh. Misalnya saat di depan anak, kedua orang tua dapat berbicara dengan bahasa krama. Dengan melihat orang tuanya tersebut anak belajar dan secara tidak langsung memahami penggunaan bahasa krama dalam keseharian.

Prinsip ketiga, pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat.

Pada prinsip ini orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa bahasa krama selain dipergunakan di rumah juga harus dipergunakan di sekolah misalnya saat berbicara dengan guru. Selain itu juga dipergunakan saat berada di lingkungan sekitar seperti saat berbicara dengan tetangga terutama kepada yang umurnya lebih tua.

Semua yang disampaikan di atas hanya sebagian kecil dari prinsip dalam proses pembelajaran yang dapat dijadikan pedoman orang tua dalam pemeliharaan bahasa krama di keluarga. Selain tiga prinsip tersebut sebenarnya masih ada prinsip yang lain. Hanya saja tiga prinsip itu yang paling relevan untuk dijadikan pedoman.

Dari sedikit penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemeliharaan bahasa krama dalam keluarga, orang tua bertindak sebagai sang guru. Sebagai guru maka orang tua harus melaksanakan tugas utama seorang guru.

Tugas utama yang dimaksudkan di atas adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik yang dalam hal ini adalah anak.

Memang, secara umum pemeliharaan bahasa Jawa krama adalah tanggung jawab masyarakat pemilik bahasa tersebut. Sedangkan secara khusus tanggung perorangan dalam masyarakat itu. Secara tegas hal ini disampaikan dalam Pasal 24 Ayat 2 UU RI Nomor 5 Tahun 2017.

Pada pasal di atas dinyatakan setiap orang dapat berperan aktif dalam melakukan pemeliharaan objek pemajuan pebudayaan. Dalam keluarga orang yang paling tepat dalam pemeliharaan bahasa krama ini adalah orang tua.

Satu hal yang perlu dipahami adalah dalam pemeliharaan bahasa krama di keluarga sebagai obyek pemajuan kebudayaan tidak memerlukan biaya besar. Yang dibutuhkan hanya kesadaran bahwa bahasa krama ini memang perlu untuk dilestarikan.

Lebih dari itu perlu diketahui juga bahwa bahasa daerah termasuk bahasa Jawa secara yuridis memiliki posisi yang istimewa. Bahasa adalah satu-satunya obyek pemajuan kebudayaan yang secara langsung disebut dalam Pasal 32 Ayat 2 UUD 1945.

Dalam pasal ini dinyatakan negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

Jika negara menghormati bahasa daerah maka sudah sepantasnya masyarakat pemilik bahasa tersebut juga demikian. Salah satu bentuk penghormatan tersebut dengan memelihara bahasa daerah (bahasa krama) tetap lestari jauh dari kepunahan.

Penulis adalah Guru SMPN 11 Malang

Apa Reaksi Anda?

Komentar