Inilah Pesan Risma di HUT ke-74 PGRI

Surabaya (30/11), pagi di jalanan sekitar Tambaksari macet. Guru TK, SD, SMP Negeri dan Swasta se-Surabaya berkumpul di Gelora 10 November. Mereka memperingati Hari Guru Nasional dan HUT ke-74 PGRI.

Stadion berkapasitas 35.000 itu dipenuhi guru berpakaian merah-hitam. Acara dibuka oleh campursari (MGMP Bahasa Jawa), paduan suara (SMPN 6), dan Indonesia Raya.

Pada helatan kali ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengajak semua guru selaku pendidik dan orang tua untuk bersikap bijak pada teknologi. “Teknologi bermata dua (gawai) bisa menghancurkan kehidupan kita,” kata Risma.

Wali Kota yang sukses membangun infrastruktur di Surabaya ini menekankan perlunya kontrol dalam penggunaan teknologi itu. “Anak-anak lupa waktu dengan gawai. Kalau hal itu dibiarkan, gawai dapat menghancurkan masa depan mereka,” ujarnya.

Dalam mendidik, orang tua perlu memberi contoh. Itu juga ditegaskan oleh Risma dalam pidatonya. Ibuke arek-arek Suroboyo itu menegaskan bahwa kerja keras akan membuahkan prestasi. “Anak-anak harus diajari kejujuran. Kerja keras ialah kunci mewujudkan prestasi dunia. Yang berusaha yang diberi keberhasilan oleh Tuhan. Bimbing anak kita terus, agar jadi anak suskses, kebanggaan kita semua,” terangnya.

Wali Kota terbaik dunia Versi World Mayor itu juga mengatakan, semua pihak harus menghargai jasa para pahlawan. “Mereka memperjuangkan kemerdekaan. Karena kemerdekaan itulah kita bisa berkarya dalam bidang apapun, khususnya pendidikan,” katanya.

Selain pengontrolan teknologi, pendampingan, pendidikan, dan prestasi, Risma juga mengajak para guru untuk menghargai apapun keadaan siswanya. Bahkan dia mencontohkan pengalamannya semasa sekolah.

“Saya dulu SMP nakal. Guru saya sampai hapal dengan saya. Tapi sekarang, saya jadi walikota terbaik dunia. Jadi jangan rendahkan siswa dalam kondisi apapun, kita harus mendukungnya,” tuturnya.

“Ayo kita dorong terus anak kita biar sukses dan berhasil,” imbuhnya.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Ibuke Bonek itu juga menitipkan siswa-siswi Surabaya kepada para guru. “Bimbing mereka. Sampai mereka membawa merah-putih ke dunia,” katanya.

Selain menampilkan flashmob “Garuda Emas” siswa dan guru TK, SD, SMP se-Surabaya, juga ada penyerahan santunan kepada beberapa anak asuh. “Sumbangan ini dikumpulkan oleh para guru, bukan saya. Saya hanya membantu memberikan. Guru Surabaya hebat,” tandas Risma.

Acara berjalan lancar tertib. Para guru terlihat antusias tatkala Risma menyinggung TPP. “Akan saya tambahi TPP-nya nanti,” katanya sambil senyum. Sontak semua guru bergemuruh.

Dalam pidatonya kali ini, Risma tidak menyinggung masalah kesejahteraan guru ataupun administrasi pembelajaran yang seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan gaungkan beberapa waktu lalu. []

Alfian Bahri
Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia

Apa Reaksi Anda?

Komentar