Demi Masa Depan Dunia, Anak-Anak Wajib Hidup Aman dan Bahagia di Kota

unicef

Pada 20 November 1989, para pemimpin dunia sudah berjanji kepada anak-anak. Mereka akan memiliki tempat yang lebih baik untuk menjalani hidup. Janji ini kelak disebut sebagai Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak.

Pemerintah, media, akademia hingga swasta, perlu bekerjasama untuk bisa mewujudkan janji tersebut. Tantangan untuk memberikan anak-anak tempat yang layak di muka bumi, saat ini jauh lebih kompleks.

Kehidupan perkotaan, yang selama ini disebut keras dan berbahaya, ditantang untuk dapat menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak. Mereka juga wajib merasa dihargai.

Bagaimana caranya? Sederhana, berikan anak-anak akses ke pelayanan public dan layanan sosial yang penting, seperti identitas, sanitasi, Pendidikan, dan perlindungan dari kekerasan sertya perundungan (bullying). Mereka pun harus memiliki kesempatan untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Para pejabat pemerintah dan parlemen, terutama Walikota, memiliki peran penting untuk bisa mewujudkan hak-hak dasar bagi anak itu.

Demi memastikan perwujudan hak dasar bagi anak tersebut, pada tahun 1996, UNICEF memperkenalkan Inisiatif Kota Layak Anak (Child-Friendly City). Bersama dengan berbagai instansi pemerintah daerah, UNICEF merespon tantangan yang ada demi kesejahteraan anak-anak dunia.

Terlebih lagi, kondisi global saat ini menunjukkan fenomena urbanisasi dan desentralisasi. Saat ini, hari ini, detik ini, Inisiatif Kota Layak Anak telah dilaksanakan di lebih dari 40 negara dan telah menjangkau puluhan juta anak.

Bersamaan dengan peringatan 30 tahun Konvensi Hak Anak di tahun 2019 ini, kami sedang bergabung dengan para Wali Kota dari seluruh dunia dalam KTT Kota Layak Anak pertama yang diselenggarakan oleh UNICEF dan Kota Cologne di Jerman. KTT ini merupakan peluang penting bagi para pemimpin dearah untuk merumuskan cara membangun kota-kota yang lebih aman dan lebih inklusif, dan yang lebih dekat dengan anak-anak serrta memenuhi kebutuhan mereka. Dan yang paling penting, melibatkan anak dalam perencanaan dan pembangunan kota.

Melalui jajak pendapat terbaru yang diadakan oleh UNICEF, lebih dari 100.000 anak-anak dan remaja telah berbagi gagasan tentang apa yang akan mereka lakukan untuk membuat kota lebih ramah anak jika mereka Wali Kota. Jawaban-jawaban yang muncul sesungguhnya mudah untuk direalisasikan.

Mereka meminta pembangunan taman yang lebih banyak, menyediakan transportasi public yang ramah lingkungan, memberikan perhatian lebih terhadap permasalahan remaja, hingga pembatasan kendaraan bermotor untuk mengfurangi polusi dan kecelakaan.

Diantara ratusan ribu suara tersebut, ada sekitar 70 anak yang hadir di Kota Cologne, Jerman. Dari Surabaya, Bintang Aryananda (14) yang merupakan siswa kelas IX SMPN 1 Surabaya dan dari Surakarta (Solo), Belva Aulia Putri Ayu Rahardin (15) dari SMAN 1 Surakarta berkesempatan berpartisipasi pada sesi-sesi anak dan remaja yang menghasilkan Deklarasi Pemuda Dunia atau Youth Manifesto yang dibacakan pada tanggal 18 Oktober 2019. Deklarasi ini akan menyuarakan aspirasi dan kebutuhan anak untuk 30 tahun ke depan.

Perwakilan anak-anak dunia ini menyuarakannya dalam bentuk simulasi If I am a Mayor (Andai Saya Walikota).

Mereka menyatakan, antara lain, akan memastikan anak-anak aman bermain di kota, anak-anak mengerti menjaga lingkungan karena ancaman perubahan iklim semakin nyata, anak-anak harus punya waktu dengan keluarga, anak-anak harus bebas berpindah (bermigrasi) dan ada standar minimum antarkota di dunia untuk menjamin anak tumbuh berkembang dengan optimal.

Bersamaan dengan momentum KTT KLA pertama dalam sejarah dunia di tanggal 15-18 Oktober, kami mengajak kepada para Kepala Daerah lain untuk berkomitmen pada satu tindakan nyata yang dapat membuat perbedaan positif dalam kehidupan anak-anak dan remaja di kota mereka. Bersama-sama, kita dapat menjadikan kota dan komunitas kita tempat yang lebih baik untuk semua anak.

Kota dan komunitas adalah pendorong penting dalam mewujudkan hak-hak anak. Keterlibatan aktif mereka sangat penting jika kebijakan, layanan, dan fasilitas yang mereka gunakan atau yang memengaruhi mereka, harus mencerminkan dan mengatasi masalah, gagasan, dan prioritas mereka. Percayalah, kota yang layak anak adalah kota yang layak bagi semua. Dan Kota Layak Anak adalah Kota Masa Depan Dunia. Walikota di seluruh negeri tercinta ini, mari menjadi Kota Layak Anak, persembahkan ini untuk kami. Persembahkan untuk semua anak. Dari Indonesia, untuk Dunia.(ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar