Cari Tongkrongan Nuansa Tempo Dulu di Kota Batu? Kafe Ubi Tempatnya!

IMG_20190806_134259
Kafe Ubi, Desa Pandanrejo, Kota Batu, Selasa (6/8/2019).

Batu (beritajatim.com) – Menongkrong bukanlah hal yang asing buat kita. Seiring dengan berkembangnya zaman, pemilik tempat nongkrong sekarang bersaing untuk membuat tempatnya sebagus dan secanggih mungkin. Pastinya hal tersebut untuk menarik minat para pengunjung sebanyak-banyaknya.

Jika kita melihat banyak sekali tempat nongkrong, baik itu kafe atau warkop yang menyuguhkan konsep modern mereka. Namun di Kafe Ubi malah sebaliknya. Kafe ini mempunyai konsep unik era tempo dulu.

Kafe ini berada di Desa Pandanrejo, Kota Batu. Searah dengan destinasi wisata Coban Lanang, kalian pasti tidak akan kesulitan menemukan tempat ini.

Ditambah lagi tempatnya yang berada di tengah-tengah areal persawahan pastinya membuat kita nyaman berlama-lama berada disini karena pemandangan yang indah dan hawa dingin khas Kota Batu.

“Kafe ini baru buka sekitar tiga mingguan. Alasan saya membuka tempat ini karena sekarang keadaan ubi ini sudah berkurang. Kami ingin melestarikan makanan ketela yang ditanam petani di Desa Pandanrejo. Oleh karena itu, kami utamakan makanan itu jadi khas di kafe ini”, ungkap Suhartini (43), Pemilik Kafe Ubi.

Sesuai dengan namanya, menu unggulan dalam kafe ini yaitu umbi-umbian. Makanan ala petani ini salah satunya ketela rambat yang direbus dan disuguhkan hangat-hangat.

Menariknya lagi, di Kafe Ubi ini semua makanan dimasak menggunakan tungku. Selain itu, pengunjung juga bisa mengambil makanan sendiri di dapur kafe ini layaknya rumah sendiri.

Buat kalian yang tidak suka makanan umbi-umbian janganlah khawatir, karena selain ubi, kafe ini juga menyuguhkan makanan rumahan seperti lauk ikan pindang, sayur pedas, sayur tewel, tempe tahu, telor, dan lainnya. Semua menu yang tersaji disini pastinya tidak terlepas dari konsep nuansa tempo dulu.

Kafe ini buka dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Harga yang ditawarkan juga sangatlah terjangkau, mulai dari 1500 rupiah hingga 7000 ribu saja.

Meskipun tempat parkir yang tidak begitu luas, namun para pengunjung disini mengaku sangat nyaman dengan konsep kafe ini.

“Sebenernya sih tempatnya hampir sama kayak kafe sawah pujon, tapi bedanya di pujon udah modern banget konsepnya, sedangkan disini terasa banget tempo dulu nya, di dapur juga alat masaknya masih pakai tungku, terasa banget kyk suasana pedesaan”, ujar Ria (23), Pengunjung Kafe Ubi.

Suhartini berharap dengan dibukanya kafe ini tidak hanya menjadi tempat nongkrong bagi anak muda saja, melainkan juga sebagai sarana untuk mengenalkan ke anak-anak jaman sekarang yang sudah jarang mengetahui makanan yang termasuk ke dalam Polo Pendem.[ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar