Senin, 10 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Peringatan HKN di Ponorogo, Ipong Klaim Mampu Tekan Stunting

Jum'at, 07 Desember 2018 14:03:49 WIB
Reporter : D. Istimora
Peringatan HKN di Ponorogo, Ipong Klaim Mampu Tekan Stunting

Ponorogo (beritajatim.com) – Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengklaim Pemkab Ponorogo melalui berbagai programnya telah mampu menekan angka stunting atau balita tumbuh kerdil secara signifikan. Indikasinya, angka stunting di Ponorogo saat ini berada sedikit saja di atas standar WHO. Ipong menyatakan, stunting sebagai salah satu indikasi kualitas kesehatan warga posisinya membaik.

“Kita lihat banyak indikasi sudah naik. Di Ponorogo angka stunting saat ini sudah 20,6 persen (daru jumlah balita di Ponorogo. Tahun lalu 26,3 persen. Ini kondisi yang bagus,” ungkap Ipong usai Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-54 di Aloon-Aloon Ponorogo, Jumat (7/11/2018).

Dikatakannya, angka ini sudah bagus karena rata-rata nasional masih di posisi 37 persen dari jumlah balita di Indonesia. Rata-rata Jawa Timur adalah 32 persen. Sedangkan standar WHO adalah 20 persen. “Itu artinya kita bisa menekan jauh di bawah angka nasional dan sudah mendekati angka dari WHO,” ungkap Ipong.

Kepala Dinas Kesehatan Ponorogo Rahayu Kusdarini mengatakan, stunting di Ponorogo bisa ditekan dengan berbagai program yang telah dilaksanakan. Program yang telah dilaksanakan antara lain adalah dukungan penuh terhadap posyandu. Dinkes terus membina para kader pendamping ibu hamil agar ada pencegahan stunting sejak dalam kandungan.

Program lain adalah pemberian pil zat besi untuk mencegah anemia kepada para remaja putri di tingkat SMP dan SMA. Hal ini penting, lanjutnya, karena para remaja putri adalah calon ibu yang pada waktunya nanti akan mengalami kehamilan. “Kita berikan gratis dua kali setahun kepada seluruh remaja putri yang ada di Ponorogo,” ungkapnya.

Yang juga cukup agresif adalah pembentukan kawasan ODF atau Open Defecation Free atau menghilangkan perilaku buang air besar sembarangan (BABS) alias tidak di jamban. Saat ini memang masih ada keluarga-keluarga yang tidak memiliki jamban dan masih sulit untuk diajak tidak BABS.

“Kita berupaya agar Ponorogo menjadi kabupaten ODF. Sebab lingkungan yang  sehat akan menghindarkan ibu hamil dari kondisi yang buruk dan menjadi kondisi yang baik untuk tumbuh kembang anak-anak balita,” jelasnya. [dil/kun]

Komentar

?>