Rabu, 12 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Sebutan Kyai Ma'ruf soal Buta dan Tuli Bukan Dalam Konteks Fisik

Minggu, 11 Nopember 2018 14:43:22 WIB
Reporter : Hendra Brata
Sebutan Kyai Ma'ruf soal Buta dan Tuli Bukan Dalam Konteks Fisik
Raja Juli Antoni Sekjen Partai Solidaritas Indonesia

Jakarta (beritajatim.com) - Kyai Ma’ruf Amin dinilai sebagai ulama besar yang sudah “mapan” secara spritual dan emosional.

Jadi tidak ada kemarahan dalam nada bicaranya ketika mengatakan “budek dan buta”.

Menurut Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni, Kyai Ma’ruf justru mempergunakan bahasa AlQur’an, bahasa yang biasa dipergunakan santri sehari-hari, untuk mendeskripsikan orang-orang tidak mau menerima kebenaran mesti sudah berulang-ulang kali sudah didakwahkan.

''Dalam Surat Al- Baqorah ayat 18 Allah berfirman: Mereka pekak, bisu, buta maka tidaklah mereka akan kembali (kejalan yang benar),'' kata Raja Juli, Minggu (11/11/2018).

Wakil Sekretaris TKN ini juga memaparkan, Ayat ini dalam konteks Indonesia menggambarkan orang-orang yang tidak menerima fakta keberhasilan pembangunan yang dilakukan Pak Jokowi. Bahkan mereka memanipulasi data hanya untuk mencerca dan mendelegitimasi pemerintah.


Dia menegaskan, yang dimaksudkan adalah budek dan buta sosial dan politik. Mereka adalah orang yang tidak punya kemampuan melihat dan mendengar secara sosial-politik karena nafsu politik yang terlalu tinggi.

''Perlu saya jelaskan juga penggunaan kata “budek-buta” tidak dalam konteks fisik seperti yang dialami kawan penyandang disabilitas,'' ujarnya.

Sebelumnya, Kyai Ma'ruf, menjelaskan pernyataannya yang menyebut bahwa yang tak bisa mengakui kinerja Presiden Jokowi sebagai 'orang buta' dan 'orang budek'.

Bahwa terminologi itu juga sudah lazim digunakan di Alquran.

Kata Abah Kiai Ma'ruf, sapaan akrabnya, pernyataan itu dibuatnya ketika menceritakan betapa jelasnya capaian pemerintahan Jokowi. Secara fisik, semua pembangunan yang dilakukan oleh Jokowi sangat jelas terlihat.

Misalnya jalan-jalan baru, infrastruktur seperti bandara baru, yang membuat arus orang dan barang menjadi lebih cepat.

Begitupun di bidang pendidikan, Pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Di bidang kesehatan, pemerintahan Jokowi mengeluarkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diterima puluhan juta warga.

"Itu sudah jelas bisa dilihat dan didengar. Jadi kalau ada yang menafikan, tak mau melihat kenyataan itu, tak mau mendengar kenyataan itu, kan jadinya seperti orang buta, kayak orang budek, yang tak mau melihat kenyataan, mendengar informasi soal prestasi itu," beber Kiai Ma'ruf kepada wartawan, Sabtu (10/11) malam.

"Katanya dengan itu anda marah-marah?" tanya wartawan.
"Saya tidak marah, dan bukan sedang menuduh siapa-siapa. Saya cuma bilang, kalau ada yang yang menafikan kenyataan, yang tak mendengar dan melihat prestasi, nah sepertinya orang itu yang dalam Alquran disebut ṣummum, bukmun, 'umyun. Budek, bisu, dan tuli," jawab Abah Ma'ruf."Siapa yang anda maksud seperti itu?" tanya wartawan lagi.

"Saya tak menuduh siapapun," jawab Kiai Ma'ruf.

Bila ada yang menuduh seorang ulama tak pantas menyatakan demikian, Kiai Ma'ruf menyatakan bahwa semua yang dia katakan sudah ada di dalam Alquran. Yang dimaksudnya adalah 'ṣummum, bukmun, 'umyun', yang tertera di surat QS al-Baqarah (2):18.

"Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta," papar Kiai Ma'ruf.

"Jadi itu bahasa 'kalau' ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak menuduh dia kok," lanjutnya.

"Kecuali kalau saya menuduh, kamu itu (pelakunya), nah baru itu (masalah). Jadi tak ada yang salah dengan kalimat itu," ujarnya.

Lebih jauh, Kiai Ma'ruf juga menjawab ketika ada yang menuduhnya telah menyindir orang yag secara fisik adalah buta maupun budek.

"Tak ada konteks buta (fisik). Saya cuma bilang, yang tak mengakui itu kayak orang buta karena tak mau melihat. Kayak orang budek karena tak mau mendengar. Kayak orang bisu yang tak mau ungkapkan kebenaran. Itu saja sebenarnya. Kalimat itu juga biasa bunyi di Alquran. Lihat saja di Alquran kalau tak percaya," urai Kiai Ma'ruf. [hen/ted]

Tag : pemilu 2019

Komentar

?>