Sabtu, 17 Nopember 2018

Nabila Mondir: Kultur dan Karakter Santri Dibutuhkan di Era Globalisasi

Selasa, 23 Oktober 2018 10:34:41 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Nabila Mondir: Kultur dan Karakter Santri Dibutuhkan di Era Globalisasi
Nabila Mondir, caleg PKB untuk kursi DPR RI dari Dapil Madura. [Foto: Air/bj.com]

Bangkalan (beritajatim.com)--Karakter dan kultur santri sangat dibutuhkan di era globalisasi dan pasar bebas seperti sekarang. Sebab, pembangunan yang dilakukan di Indonesia hakikatnya menyentuh aspek manusia seutuhnya, bukan sekadar dimensi jasmaniah atau fisik semata.

Pandangan itu dikatakan calon legislatif (Caleg) DPR RI PKB dari daerah pemilihan (Dapil) Madura, Nabila Mondir kepada beritajatim.com di Bangkalan, Madura, Selasa (23/10/2018).

Karena itu, konteks Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2018 memiliki momentum strategis bagi bangsa ini menghadapi kompetisi global dan pasar bebas tanpa batas.

"Peranan santri bukan hanya sebagai pencetak sejarah bangsa, namun santri juga memiliki modal besar bagi kekuatan NKRI. Terlebih jika kita lihat saat ini perkembangan globalisasi sangat pesat, sehingga harus diimbangi dengan berbudaya yang baik pula," kata Nabila.

Nabila yang kini sedang menempuh pendidikan Magister (S2) Ilmu Politik FISIP Unair Surabaya, mengutarakan, peranan santri dan ulama masih sangat dibutuhkan dalam konteks domestik maupun relasi internasional. Dia mengungkapkan, berbudaya baik layaknya para santri yang tetap semangat mengembangkan keilmuannya namun tidak lepas pada moral dasar agama Islam yang melingkupinya sejak dini, sangat dibutuhkan Indonesia era kekinian.

"Dan hal inilah yang patut dicontoh generasi muda bangsa Indonesia demi keutuhan dan penguatan karakter moral bangsanya ke depan," ingat Nabila.

Sesuai dengan Kepetusan Presiden Nomor 22/2015 tentang Hari Santri Nasional menetapkan Hari Santri Nasional jatuh pada tanggal 22 Oktober. Kebijakan itu disahkan Presiden Joko Widodo. Peringatan HSN ditujukan untuk selalu mengingat dan mengenang peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pondok Tebuireng Jombang dan ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU), pada tanggal 22 Oktober 1945, sebelum pertempuran 10 Nopember 1945 di Kota Surabaya.

Dalam perspektif strategis, Nabila berpendapat bahwa peranan santri sangatlah penting, terutama dalam menghidupkan kembali budaya santri yang selalu berdasar pada kaidah agama Islam yang kokoh dan konsisten, dengan tetap mengikuti perkembangan keilmuan dan perubahan yang terus berkembang tanpa henti.

"Saya berpandangan ini bisa menjadi pondasi dasar bagi generasi emas penerus bangsa. Perlu keseimbangan pembangunan kualitas fisik dan mental anak bangsa. Karakter dan kultur santri punya nilai strategis dalam pemupukan pembangunan SDM bangsa," jelas Nabila.

Sebab, menurut Nabila, peningkatan kualitas SDM tak hanya didorong melalui akselerasi intelektualitas semata, namun landasan moral yang kuat juga jadi pondasi awal bagi penerus bangsa dalam menjaga dan mengharumkan nama NKRI.

"Saya melihat perlu keseimbangan antara intelektualitas dengan bangunan moral SDM Indonesia. Di titik ini kontribusi santri dan ulama sangat dibutuhkan," tegas Nabila Mondir. [air]

Tag : pkb

Komentar

?>