Kamis, 22 Nopember 2018

Menhan Ryamizard: Sekarang Kita Menghadapi Ancaman Teroris Generasi Ketiga

Rabu, 17 Oktober 2018 07:00:38 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Menhan Ryamizard: Sekarang Kita Menghadapi Ancaman Teroris Generasi Ketiga

Brussel (beritajatim.com)--Saat ini seluruh Kawasan dunia sedang menghadapi ancaman teroris generasi ketiga. Ciri Khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para Pejuang ISIS (Returning Foreign Terrorist Fighter) dari Timur Tengah.

Ciri lainnya adalah berevolusinya ancaman dari yang bersifat tersentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar ke seluruh belahan Dunia setelah kekalahan ISIS di Syria dan Irak, yang kemudian menyebar ke wilayah Afrika, Eropa dan Asia Timur serta Asia Tenggara pada khususnya.

"Berdasarkan data Intelijen ada sekitar 31.500 Pejuang ISIS asing yang bergabung di Syria dan Irak. Dari jumlah tersebut 800 berasal dari ASIA Tenggara serta 700 dari Indonesia," kata Menteri Pertahanan RI Jenderal Purn Ryamizard Ryacudu saat pertemuan Asia-Europe Counter Terrorism Dialogue, bertema The Future of Counter Terrorism: The Shift from Cooperation to Collaboration di Belgia.

Ryamizard Ryacudu, mantan KSAD ini, mengutarakan, titik berat peningkatan kerja sama pertahanan antarnegara dan antarkawasan saat ini adalah suatu bentuk dan mekanisme kerjasama penanganan dua Ancaman nyata yang actual dan rrealistik, yakni ancaman terorisme dan bencana alam. Sifat alamiah dari ancaman tersebut adalah tak mengenal batas negara; tidak mengenal agama; tidak mengenal waktu serta tidak memilih korbannya. "Ke depan ancaman tidak akan lagi bersifat ancaman konvensional atau perang terbuka antarnegara, walaupun setiap negara memiliki ideologi yang berbeda," ingatnya.

Pola operasi dan gerakan kelompok teroris ini terus berevolusi dan mengalami perubahan agar tidak mudah dideteksi oleh aparat Keamanan. Seperti yang terjadi di Indonesia belum lama ini, katanya, di mana kelompok ISIS ini menggunakan modus baru serangan terorisme yang dilakukan oleh satu keluarga utuh dan terjadi di beberapa tempat di Surabaya serta beberapa aksi Teroris di beberapa wilayah di Indonesia.

"Mereka ini bukan Islam karena ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan Rahmatan Lil-Alamin. Sangat tidak masuk akal seorang ibu dapat mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bunuh diri. Sebagai ibu dari anak-anaknya, seyogyanya ia harus punya sifat alamiah dan insting untuk melindungi dan menjaga anak-anaknya dari pelbagai ancaman yang akan membahayakan anak-anaknya, bukan malah membunuh anak-anaknya. Konsep dan ideologi sesat seperti inilah yang harus kita perangi bersama," tegasnya.

Para pelaku teror ini, tambahnya, terindoktrinasi dengan ideologi menyimpang dengan janji-janji surga yang menyesatkan yaitu bila mereka mati syahid, maka mereka akan masuk surga. Mereka akan bertemu Tuhan, mereka akan diampuni segala dosa dan kesalahannya, sebanyak 70 anggota keluarga akan terbawa ke surga, dan yang laki-laki akan bertemu dengan 72 bidadari surga.

"Kita tidak dapat memberikan celah sedikit kepada Kelompok teroris dan radikal untuk berkembang dan mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu di seluruh kawasan di dunia," katanya.

"Saya menilai, pertemuan ini menjadi sangat penting di tengah upaya kita bersama untuk mencari format dan platform kerjasama kolektif yang efektif, baik yang bersifat strategis maupun operasional. Ancaman ini bersifat lintas negara dan memiliki jaringan serta kegiatan yang tersebar dan tertutup sehingga dalam penanganannya sangat memerlukan kerjasama antarnegara. Tak ada satu negara pun yang dapat menangani masalah terorisme secara sendiri," ingatnya.

Menurut Ryamizard, implementasi konkrit dan komprehensif bentuk kerjasama tersebut di antaranya adalah kerjasama antarlembaga pertahanan keamanan, pertukaran informasi dan intelijen, serta kolaborasi kapabilitas militer antarnegara pada level strategis, operasional dan taktis," tegas Ryamizard Ryacudu. [air]

Tag : kemenhan

Komentar

?>