Kamis, 22 Nopember 2018

Rencana Relokasi, Pedagang Pasar Eks-Stasiun Minta Diajak Bicara

Selasa, 16 Oktober 2018 11:52:01 WIB
Reporter : D. Istimora
Rencana Relokasi, Pedagang Pasar Eks-Stasiun Minta Diajak Bicara

Ponorogo (beritajatim.com) - Relokasi para pedagang pasar eks-stasiun Ponorogo tak bakal semulus rencana Pemkab Ponorogo. Sebab ternyata mereka mengaku belum diajak bicara terkait rencana relokasi pada akhir tahun ini terkait pembangunan gedung baru Pasar Legi.

Ketua paguyuban pedagan pasar eks-stasiun “Akur”, Sugimin menyatakan, pihaknya belum tahu rencana pemerintah untuk relokasi dalam waktu dekat ini. Sebab selaku pimpinan paguyuan yang membawahi 400-an pedagang, Sugimin belum diajak bicara oleh pemerintah.

Mereka bersedia pindah asalkan diajak bicara dan mendapat jaminan akan mendapat tempat sesuai keinginan mereka pasca Pasar Legi dibangun lagi.

Sebagai ketua paguyuban resmi yang terdaftar  di PT KAI, Sugimin selama ini tidak diajak bicara oleh pemerintah Kabupaten Ponorogo. Bahkan terkait ribut-ribut pembangunan kios oleh pengelola, dan sempat disegel oleh Satpol PP, Sugimin mengaku diam.

Dan jika saat ini pemerintah mengajak pindah maka harus didudukkan bersama. Jangan sampai pedagang main dua kaki, yaitu memiliki dua tempat sekaligus baik di pasar eks-stasiun maupun di Pasar Legi.

Apalagi, pasar eks-stasiun selama ini adalah pasar mandiri. Dari pembangunan lapak hingga pengelolaannya dilakukan sendiri di bawah koordinasi PT KAI. Sehingga bila pemerintah ingin menata mereka, maka harus diajak baik-baik.

“Sejak 1990-an sini pasar mandiri dan tidak tergantung kepada pemerintah. Jadi yang mau menetap ya monggo, yang mau pindah ya terserah. Mau pindah ke RSUD pun ya jangan dipaksa,” kata Sugimin, Selasa, (16/10/2018).

Dikatakannya, kalau ada sekitar 300 pedagang yang disebut-sebut sudah mau pindah dari pasar eks-stasiun itu karena mereka 'main dua kaki'.

“Dulu mereka pindah gratis ke timur (Pasar Legi) tapi ternyata di sini tempatnya masih ada. Mereka masih mempertahankan tempatnya di pasar stasiun, entah ditempati anaknya atau saudaranya,” imbuhnya.

Namun demikian pihaknya tidak menutup kemungkinan mau ikut relokasi dan kemudian menempati lapak di Pasar Legi yang akan dibangun pada awal tahun 2019. “Asal disediakan tempat khusus di lantai dasar kami mau. Karena kalau lantai atas menyulitkan pedagang sayur, khususnya obrokan (lesehan),” imbuhnya.

Beda halnya dengan Amad, pedagang sembako  yang menempati  salah satu toko di tepi jalan pasar eks stasiun. Amad bersama istrinya, Peni, yang berjualan sejak tahun 1995 dan menempati toko di tepi Jl Soekarno Hatta, mengaku tidak akan pindah. Bagaimana pun pihaknya akan mengikuti apa yang diakatakan oleh PT KAI. Karena untuk menempati toko itu,  menyewa tempat ke PT KAI dengan biaya Rp 2 jutaan pertahun.

“Kenapa mesti pindah. Kami sudah nyaman di sini, kalau mau pindah ya terserah PT KAI. Soal pindah, saya belum bisa mikir, kami ikut PT KAI,” ujarnya.

Rencananya, Pemkab Ponorog akan memindahkan sementara sekitar 2 ribuan pedagang dari Pasar Legi dan sekitarnya. Mereka akan diboyong ke lahan kosong di bekas bangunan RSUD Ponorogo selama sekitar satu tahun. Januari 2019 pembangunan gedung baru Pasar Legi akan dimulai dan selesai di akhir tahun. [dil/kun]

Tag : pasar legi

Komentar

?>