Rabu, 19 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Ini Komitmen PWI Pamekasan Perangi Informasi Hoax

Rabu, 26 September 2018 11:55:28 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Ini Komitmen PWI Pamekasan Perangi Informasi Hoax

Pamekasan (beritajatim.com) - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan Abd Aziz menilai kemajuan teknologi informasi melalui maraknya berbagai aplikasi di telepon pintar, secara tidak langsung meningkatkan peran informasi terbuka secara luas.

Bahkan tidak jarang masyarakat saat ini bisa mengakses berbagai informasi melalui telepon seluler yang dimiliki, mereka tidak kesulitan mendapatkan berbagai informasi up to date. Sebab melalui telepon pintar, informasi terkesan sudah ada dalam genggaman.

Hal itu disampaikan di sela-sela kegiatan deklarasi antisipasi berita bohong atau hoax menjelang pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah provinsi Jawa Timur, sekaligus persiapan pelaksanaan pelantikan kepengurusan baru organisasi profesi yang dipimpinnya yanf digelar di Balai Redjo, Selasa (25/9/2018) malam.

"Maraknya berbagai aplikasi di telepon pintar sebagai dampak dari revolusi industri 4.0 telah meningkatkan peran informasi terbuka secara luas. Revolusi industri 4.0 inilah sebenarnya bentuk realisasi dari konsep global village (desa global) yang pernah diprediksi ilmuan sejak beberapa tahun silam," kata Abd Aziz.

Hanya saja seiring dengan kemajuan teknologi informasi, penyakit dalam dunia komunikasi dan informasi justru semakin bertambah. "Dengan kondisi ini justru tidak sedikit oknum masyarakat yang menyalahgunakan alat komunikasi ini dengan menyebarkan berita bohong atau hoax," ungkapnya.

"Tentu saja yang ikut ternoda dalam penyebaran berita bohong ini adalah kalangan profesi jurnalistik. Sebab tidak sedikit berita yang diubah dan isi berbeda dengan kenyataan di lapangan," sambung pewarta yang tergabung di Perum LKBN Antara Jatim.

Berdasar data Dewan Pers dalam beberapa tahun terakhir, terdapat pertumbuhan media online yang jumlahnya mencapai sekitar 40 ribu. "Hal ini tentu menjadi salah satu penyebab, disamping beberapa jenis media sosial (medsos) lainnya," imbuhnya.

"Jadi momentum yang sering menjadi moment efektif penyebaran informasi hoax adalah pemilu, baik pemilu kepala daerah tingkat kabupaten, legislatif hingga pemilu presiden. Demikian proses politik dalam tata kelola pemerintahan, juga tidak lepas dari objek berita bohong," jelasnya.

Dari itu pihaknya tergerak dan memandang perlu untuk mekakukan gerakan perlawanan peredaran berita bohong dan cenderung menyesatkan masyarakat sebagai konsumen informasi. "Dari itu mari kita mempublikasikan pemberitaan positif dan tentunya mendidik bagi masyarakat luas, tentunya tanpa harus mengurangi fungsi kontrol sebagai bagian dari pilar demokrasi," jelasnya.

"Selain itu, kita juga harus sama-sama komitmen untuk menggalakkan program melek media bagi masyarakat luas. Seperti beberapa program yang kita lakukan sebelumnya, yakni melalui kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi dan beberapa instansi di Pamekasan," pungkasnya. [pin/kun]

Komentar

?>