Kamis, 15 Nopember 2018

Petugas Kesehatan Perlu Panduan Jelaskan Kandungan Vaksin Imunisasi ke Warga

Selasa, 25 September 2018 22:53:15 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Petugas Kesehatan Perlu Panduan Jelaskan Kandungan Vaksin Imunisasi ke Warga

Jember (beritajatim.com) - Muhammad Atoillah Isfandiari, pengajar ilmu kesehatan masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, mengatakan perlu ada pembekalan kepada tenaga kesehatan yang memberikan imunisasi kepada masyarakat soal kandungan dalam vaksin yang digunakan.

"Asumsi saya, boleh jadi sebagian petugas kesehatan tidak paham isi vaksin. Sama-sama perlu penjelasan oleh ahlinya. Ahli untuk itu tidak banyak juga. Kami di bidang kesehatan masyarakat juga tidak semua paham tentang isi (kandungan) vaksin," kata Atoillah, dalam acara forum group discussion soal imunisasi difteri yang diselenggarakan Unicef, di Hotel Aston, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (25/9/2018).

Atoillah sepakat jika penerima imunisasi berhak menerima penjelasan soal kandungan vaksin dan prosesnya. Namun hal itu harus dijelaskan sesederhana mungkin. "Kelemahan petugas kesehatan kita adalah menerjemahkan bahasa teks menjadi bahasa awam," katanya.

Atoillah sepakat jika ada semacam buku panduan dan pelatihan kepada petugas kesehatan untuk menjelaskan secara sederhana kepada masyarakat tentang kandungan vaksin. "Tidak semua vaksin itu isinya sama dan cara membuatnya sama, pengawetnya sama, originnya sama. Kalau misalnya ada satu vaksin melibatkan unsur babi, tidak semua vaksin melibatkan unsur babi. Vaksin difteri ini sama sekali tidak melibatkan unsur babi, karena cara bikinnya beda, bahannya beda, prosedur pembuatannya beda," katanya.

Saat ini pemerintah sedang gencar melakukan imunisasi difteri. Selama periode 1990-2000, ada 9.482 kasus difteri di Indonesia. Ini angka tertinggi kedua di dunia, setelah India yang mencapai 53.503 kasus. Angka penderita difteri ini terus menurun dan pada rentang 2011-2015 mencapai 3.203 kasus dari 26.363 kasus di seluruh dunia.

Atoillah mengatakan, angka difteri bisa ditekan melalui imunisasi DPT rutin setiap tahun. Pemerintah mewajibkan setiap anak yang duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar mendapatkan imunisasi. Namun belakangan jumlah kasuys difteri cenderung menimgkat. Jatim menjadi kontributor terbesar yakni 74 persen dari seluruh kasus di Indonesia pada 2014. [wir/but]

Komentar

?>