Senin, 17 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Penuntasan Buta Aksara di Jember Mandek 2 Tahun

Sabtu, 22 September 2018 00:00:47 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Penuntasan Buta Aksara di Jember Mandek 2 Tahun

Jember (beritajatim.com) - Program penuntasan buta aksara di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terhenti selama dua tahun. Tahun ini Perubahan APBD Jember menganggarkan Rp 4,5 miliar untuk dimulainya kembali program tersebut.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Jember Sujono mengatakan, pelaksanaan program penuntasan buta aksara terakhir terlaksana pada 2016. "Waktunya tidak nutut. Makanya pada November 2018 ini kami mulai berjalan dari bawah. Ada daftar nama, by name by address, sesuai petunjuk Ibu Bupati. Dari by name dan by address, (diverifikasi) benarkah orangnya sudah meninggal atau masih hidup," katanya.

Sujono menjelaskan, tahun ini adalah persiapan program. "Eksekusinya pada 2019. Butuh waktu," katanya.

Sementara untuk relawan yang akan bertugas membantu penuntasan buta aksara sudah mulai direkrut tahun ini. "Seperti yang disampaikan Ibu Bupati, kaum dhuafa, guru ngaji, adalah prioritas. Kita senang dengan program ini. Tapi waktunya (tidak mencukupi)," kata Sujono. Dispendik harus menuntaskan program bantuan insentif untuk 12 ribu orang guru ngaji.

Sujono tidak bisa mendetailkan persoalan yang dihadapi dalam program penuntasan buta aksara. "Saya baru (dilantik pada 7 Mei 2018), dan masih harus belajar dan belajar. Yang tidak saya ketahui, saya tidak berani menjawab. Yang jelas kami siap diperintah bupati apapun yang terbaik untuk masyarakat," katanya.

Penuntasan buta aksara tak bisa dilakukan sendiri oleh Dispendik. Sujono menegaskan, perlu ada sinergi antara Dispendik, Inspektorat, Kantor Kementerian Agama, dan unsur dinas pemberdayaan.

Wakil Bupati Abdul Muqit Arief menegaskan, bahwa tingginya angka buta aksara menjadi prioritas perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Jember menggelar gerakan program keaksaraan terpadu yang melibatkan seluruh unsur, potensi, dan komponen masyarakat, antara lain Tim Penggerak PKK, Muslimat NU, Aisyiyah, GOW (Gabungan Organisasi Wanita), pondok pesantren, perguruan tinggi negeri dan swasta, dan organisasi kemasyarakatan lain.

"Penanganan buta aksara memerlukan program yang berkesinambungan, dikarenakan ada potensi warga belajar yang telah mendapatkan program keaksaraan kembali menjadi buta aksara," kata Muqit. Maka Pemkab Jember pun meningkatkan minat dan budaya baca dengan membentuk taman bacaan. Program penuntasan buta aksara dilakukan secara gropyokan dan gugur gunung yang melibatkan mahasiswa, sukarelawan, dan masyarakat.

Tidak berjalannya program penuntasan buta aksara ini membuat Sekretaris Komisi D DPRD Jember Nur Hasan gemas. "Anggaran pendidikan non formal dari tahun ke tahun selalu naik. Sekarang Rp 24 miliar. Tapi apakah angka kebutaksaraan turun? Ternyata rangking kita di atas terus. Target berkurangnya per tahun tidak jelas," katanya.

Nur Hasan mengingatkan, ada anggaran Rp 22 miliar untuk pemberdayaan 16.877 tenaga pendidikan. "Kalau angka buta aksara 200 ribu orang, satu tenaga pendidik mengawal 30 orang (warga buta aksara) tiap tahun, ini akan selesai dalam waktu 3-4 tahun. Ini karena buta aksara berbeda dengan pendidikan anak usia dini. Kebutaaksaraan berbandingh terbalik. Setiap tahun ada yang meninggal, sehingga tidak mungkin bertambah. Semestinya dengan banytuan 16 ribu tenaga pendidik, program ini sudah selesai. Yang penting kan bisa membaca, sehingga dalam waktu 3-4 tahun selesai, tak hanya anggarannya bertambah," katanya.

Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi meminta kepada pejabat Dispendik untuk melaksanakan program tersebut dengan benar. "Jangan ngomong tidak sanggup. Kalau sudah di-breakdown Tim Anggaran, apapun harus dilaksanakan. kalau tak sanggup ya mundur. Kasihan bupati. Dispendik adalah salah satu dinas urusan wajib. Maka anggarannya besar," katanya. [wir/suf]

Komentar

?>