Rabu, 19 September 2018

Bercadar Bawa Replika Senjata Ikut Pawai, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Minggu, 19 Agustus 2018 23:11:27 WIB
Reporter : Ribut Wijoto
Bercadar Bawa Replika Senjata Ikut Pawai, Ini yang Sebenarnya Terjadi

Probolinggo (beritajatim.com) - Sedang ramai dibicarakan di media sosial tentang salah satu perserta yang mengenakan kostum bercadar dengan membawa replika laras panjang. Sejumlah pro dan kontra muncul terkait kegiatan pawai budaya sebagai rangkaian memperingati kemerdekaan ke-73 RI tersebut, sehingga pihak terkait melakukan pertemuan sekaligus menyelenggarakan temu media.

Saat klarifikasi, hadir Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal, Dadim 0820 Probolinggo Letkol Kav. Depri Rio Saransi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo  Moch Maskur, Ketua Panitia Pawai Budaya Ibu Supini dan Kepala Sekolah TK Kartika V Probolinggo Ibu Hartatik.

Letkol Kav. Depri Rio Saransi, mengungkapkan sebagai penanggung jawab TK dan Paud Kartika yang berada di dalam naungan Kodim 0820 Probolinggo bahwa kejadian tersebut memang murni untuk memanfaatkan properti yang tersimpan di tempat penyimpanan barang yang ada di sekolah setempat.

“Dalam hal konteks tema yang sudah disampaikan oleh kepala sekolah, hal itu merupakan murni bertujuan untuk memberikan murid-murid tentang perjuangan agama Islam,” katanya, Sabtu (18/8) petang. Dan dirinya menekankan bahwa itu semua murni tidak ada maksud sama sekali atau unsur sengaja untuk menunjukkan paham radikalisme, lanjutnya sebagaimana dimuat di laman Polres setempat .

Kendati demikian, dirinya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat bahwa hal tersebut tidak ada unsur kesengajaan. “Ini hanyalah semata mata untuk menunjukkan bahwa ikut berpartisipasi dan bukan pemberian doktrin radikalisme,” jelasnya.

Mencermati hal tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Probolinggo, Jawa Timur menyampaikan sejumlah catatan. Hal itu tertuang dalam surat yang ditandatangani Rais yakni KH Abdul Aziz Fadlol, Kiai Muhtam (katib), H Samsur (ketua), serta H Moh Ilyas Rolis sebagai sekretaris.

“Kami mengapresiasi pihak Pemerintah Kota Probolinggo melalui Kepala Dinas Pendidikan, Kapolresta Probolinggo serta Dandim 0820/Probolinggo yang dengan cepat melakukan koordinasi setelah mendapat laporan dari elemen pengurus Ansor, Jaringan GusDurian, IPNU dan GMNI,” bunyi surat tersebut.

Bahwa penggunaan kostum bercadar dengan membawa replika laras panjang sebagai representasi simbol dari perjuangan Rasulullah dan peningkatan keimanan, merupakan pemahaman kurang tepat tentang dakwah dan perjuangan Nabi. “Dari fenomena ini, seolah perjuangan Rasulullah hanya berkisar pada ujung pedang dan senjata,” ungkapnya.

Di akhir pernyataan, PCNU Kota Probolinggo mengemukakan bahwa penting untuk menanamkan pemahaman keagamaan terutama di kalangan pendidik baik guru ataupun ustadz dari semua tingkatan lembaga pendidikan. “Yakni tentang manhaj dakwah Rasulullah dan Islam rahmah yang nantinya ditransformasikan bagi seluruh peserta didik sebagai generasi penerus NKRI,” tutupnya.

Pelaksanaan pawai budaya dengan tema binneka tunggal ika tingkat TK se-Kota Probolinggo oleh Diknas Kota Probolinggo dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-73 RI dilaksanakan Sabtu, (18/8).  Kegiatan berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 11.00 WIB dengan 158 peserta. Ini adalah kegiatan rutin setiap tahun yang dilaksanakan oleh pemerintah setempat.

AKBP Alfian Nurrizal menjelaskan bahwa pelaksanaan pawai atau karnaval tersebut tidak mengajukan izin dari kepolisian. Namun Polres Probolinggo Kota tetap melakukan pengamanan jalur dan pengamanan kegiatan secara spontanitas mengingat kegiatan tersebut ditonton banyak orang dengan rute di tengah kota.

“Sedangkan terkait penggunakan kostum dan atribut tersebut akan kami lakukan pendalaman,” tandasnya. [but]

Sumber: nu.or.id

Tag : nu

Komentar

?>