Kamis, 22 Nopember 2018

Empat Pilar Kebangsaan Bentengi Mahasiswa IAIN Kediri dari Radikalisme

Sabtu, 21 Juli 2018 18:10:39 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Empat Pilar Kebangsaan Bentengi Mahasiswa IAIN Kediri dari Radikalisme

Kediri (beritajatim.com) - Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) melakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) kepada para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Jawa Timur. Sosialisasi digelar dengan metode seminar di ruang Auditorium Rektorat, pada Sabtu (21/7/2018).

Narasumber dalam seminar ini adalah Anggota MPR RI, Hj. Titik Prasetyowati Verdi, sekaligus Anggota DPR RI Komisi VIII. Menurut Hj. Titik sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan terhadap mahasiswa ini sangat penting, karena mahasiswa adalah generasi penerus bangsa.

"Untuk mahasiswa, Empat Pilar sangat penting sekali. Karena kita tahu, di universitas-universitas paham radikalisme banyak yang masuk. Pendidikan terorisme yang terselubung. Beberapa yang kita sinyalir, dan ini penting kita luruskan. Agar mahasiswa Indonesia tidak terjerumus pada radikalisme yang menjurus pada terorisme," seru Bacaleg DPR RI dari Partai NasDem Dapil VI (Kota/Kabupaten Kediri, Kota/Kabupaten Blitar dan Tulungagung) ini.

Masuknya paham radikalisme ke perguruan tinggi yang ada di Indonesia ini, menurut Titik, karena dua hal. Pertama adalah faktor ekonomi dan kedua karena faktor ideologi.  Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam, hingga 80 persen, memicu pihak luar untuk berusaha menghancurkan melalui penyebaran paham radikalisme di kampus-kampus dan berbagai jalur pendidikan.

"Faktornya apa bisa memudahkan mereka masuk ke perguruana tinggi. Menurut saya, kebanyakan dipicu oleh faktor ekonomi, kesenjangan yang terlalu jauh. Orang dengan kemiskinan mudah sekali dimasuki dan rayu-rayu. Kemudian faktor ideologi. Maka jangan bosa-bosan untuk menyampaikan Pancaslan sebagai dasar Negara kita, kesatuan ini adalah harga mati. Kalau kita tidak bersatu, maka mereka mudah untuk masuk," tegas perempuan berhijab warna biru ini.

Politisi perempuan Partai NasDem ini mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bersyukur, karena hidup di Negara yang damai. Oleh karena itu, jangan sampai ada yang berusaha untuk memecah belah dan merongrong kedaulatan Negara. Melalui sosialisasi Empat Pilar ini, pihaknya mengajak seluruh mahasiswa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Mereka (mahasiswa) harus mengerti bahwa Negara kita adalah Negara Pancasila. Pada sila pertama yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak dimiliki oleh bangsa lain. Kemudian dengan Bhineka Tunggal Ika, meskipun kita terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, kebudayaan, tetapi harus tetap bersatu, menjadi satu kesatuan," seru Titik.

Menurutnya, NKRI adalah harga mati bagi bangsa indonesia. "Bangsa kita, tidak boleh terpecah belah. Kita sudah cukup menderita dijajah oleh Belanda selama 350 tahun dan kemudian dijajah Jepang. Jangan sampai dijajah oleh bangsa sendiri," ajaknya.

Memahami pentingnya Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan berpolitik yang beretika ini juga menjadi kewajiban tersendiri bagi Partai NasDem. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kediri Lutfi Mahmudiono yang ikut serta dalam kegiatan sosialisasi di IAIN Kediri ini. 

"Tentang etika berpolitik sesuai dengan Empat Pilar Kebangsaan, itulah yang sekarang diimplementasikan oleh Partai NasDem. Pertama dengan cara berpolitik tanpa mahar. Kita tidak ingin menambah biaya politik yang tinggi. Sehingga, setelah jadi (Menjadi Anggota Legislatif maupun Kepala Daerah), maka kita melarang mereka untuk mengganggu uang Negara," tegas Lutfi.

Selain itu, imbuhnya, NasDem berusaha membangun kultur berpolitik yang baru, yang sudah diterapkan."Salah satu contoh, kita dminta untuk berpolitik yang jujur. Kemudian kita diminta berkomitmen terhadap kejujuran itu dengan segala konsekuensinya . Bisa kita contohkan, kalau ada kader Partai NasDem yang terkena kasus hukum, maka tidak boleh menungu waktu lama, harus sekarang itu juga mengundurkan diri.  Tidak perlu menunggu sampai statusnya tersangka dan sebagainya. Ini menjadi bagian doktrin kepada kader NasDem," pungkasnya. (nng/kun)

Komentar

?>