Kamis, 19 Juli 2018

SBY Tuding Aparat Negara Tak Netral, Begini Analisa Pengamat

Selasa, 19 Juni 2018 16:27:26 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
SBY Tuding Aparat Negara Tak Netral, Begini Analisa Pengamat

Surabaya (beritajatim.com) - Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebut ada tanda-tanda aparat negara tidak netral dalam Pilkada serentak 2018 mendapat tanggapan dari pengamat politik.

"Dari pernyataan Pak SBY kemarin di Madiun, kita bisa memberi tiga perspektif," kata pengamat politik dari Universitas Brawijaya (Unibraw)  Malang, Fajar Ramadlan, Selasa (19/6/2018).

Pertama, pernyataan SBY tersebut menjadi indikasi ada kepanikan bahwa calon yang diusung Partai Demokrat dalam posisi tertinggal.

Hal ini sejalan dengan narasi yang dibangun sebelumnya oleh Sekretaris DPD Partai Demokrat (PD) Jatim Renville Antonio bahwa kecurangan bisa menggagalkan pemenangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto, calon yang diusung Demokrat di Pilgub Jatim.

"Jika tidak panik, tidak mungkin menyasar dan memberi tudingan ke mana-mana," ujar Fajar.

Seperti diberitakan banyak media, SBY usai memimpin apel Demokrat Jatim di Madiun, Senin (18/6/2018), mengaku khawatir aparat negara seperti Badan Intelijen Negara (BIN), kepolisian, maupun TNI memihak parpol tertentu dalam Pilkada 27 Juni mendatang.

"Saya mendengar banyak informasi, bukan hanya dari Jawa Timur, tapi juga banyak daerah-daerah yang lain, ada tanda-tanda ada niat yang barangkali membuat aparat negara tidak netral," kata SBY.

Perspektif kedua, menurut Fajar, akan lebih baik jika SBY justru melihat potensi penggunaan alat negara pada sekitar kelompoknya. "Misalnya, Khofifah kan mantan menteri sosial, tentu dia punya infrastruktur jaringan Program Keluarga Harapan (PKH) yang cukup besar cakupannya di Jatim. Itu kan ada potensi dimanfaatkan untuk pemenangan, mengapa Pak SBY tidak mengkritisi itu?" tukas Fajar.

Selain itu, Gubernur Jatim saat ini, Soekarwo adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jatim yang tak lain adalah motor pendukung Khofifah. "Mengapa Pak SBY tidak pula menyebut posisi Pakde Karwo? Malah mengarahkan sasaran ke TNI, Polri dan BIN," kata Fajar.

Adapun perspektif ketiga, lanjut dia, sebagai presiden selama 10 tahun, SBY sebenarnya sudah paham tidak mudah untuk membawa BIN, Polri dan TNI terlibat politik praktis. "Ini karena semua sudah tersistem. Presiden Jokowi pun sudah menegaskan bahwa aparat negara sepenuhnya netral dalam Pilkada," pungkas Fajar. [tok/but]

Tag : pilkada

Komentar

?>