Senin, 25 Juni 2018

Spanduk Fardhu 'Ain Pilih Khofifah Ada di Surabaya dan Sidoarjo

Minggu, 10 Juni 2018 15:31:56 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Spanduk Fardhu 'Ain Pilih Khofifah Ada di Surabaya dan Sidoarjo

Surabaya (beritajatim.com) - Dua minggu menjelang coblosan Pilgub Jatim 27 Juni 2018, tensi politik di Surabaya dan Sidoarjo mulai memanas. Ini karena munculnya spanduk liar yang memuat fatwa fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu) untuk memilih Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa.

Spanduk berisi fatwa itu bisa dijumpai di sejumlah titik, termasuk Surabaya dan Sidoarjo. Spanduk itu bertuliskan 'Memilih Khofifah Fardhu 'Ain'. Ada juga tulisan 'Jangan Khianati Allah dan Rasul-Nya'. Di spanduk terdapat foto Khofifah, Cawagub Emil Elestianto dan KH Asep Saifuddin Chalim yang merupakan penyampai fatwa itu dalam pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto, 3 Juni lalu.

Ketua Tim Pemenangan Gus Ipul-Puti, Hikmah Bafaqih menyesalkan pemasangan spanduk tersebut. Dia mendapat laporan dari tim di daerah terkait peredaran spanduk yang menurutnya bisa memecah belah umat itu.

"Padahal sejak awal kita semua sudah sepakat bahwa tidak ada politisasi agama," ujar Hikmah saat dikonfirmasi, Minggu (10/6/2018).

Hikmah mengatakan, metode pemasangan spanduk yang seolah-olah hasil serangan kubu lawan tersebut merupakan metode lama atau cara kuno.

"Mungkin timnya Ibu Khofifah mencoba memainkan peran sebagai korban, playing victim, seolah-olah terdzalimi dengan adanya spanduk berisi fatwa yang telah menjadi kontroversi tersebut," kata Hikmah.

Dia enggan berkomentar soal respon tim Khofifah-Emil terkait peredaran spanduk tersebut.

"Saya tahu ada fatwa itu dari media online dan televisi. Secara faktual, fatwa itu memang diterbitkan, lalu seolah-seolah merasa jadi korban dengan adanya spanduk tersebut," tuturnya.

Yang jelas, tim Gus Ipul-Puti tidak pernah melakukan praktik kampanye tak sehat serta memecah belah umat seperti itu. Sejak awal, ratusan kiai yang merestui Gus Ipul tidak pernah menerbitkan fatwa yang membawa masalah politik ke urusan haram-halal. Juga, tidak ada politisisasi agama, seperti fatwa yang berbunyi jika tak memilih calon yang didukung, maka orang tersebut berkhianat kepada Allah.

"Para kiai yang merestui Gus Ipul hanya mengimbau, memberi tausiyah, menyarankan memilih Gus Ipul. Tidak lebih. Tidak pernah bawa urusan haram-halal dan surga-neraka," tukas Hikmah.

Seperti banyak diberitakan, sejumlah kiai menggelar pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, 3 Juni lalu, yang dihadiri Cagub Khofifah Indar Parawansa. Pertemuan itu menghasilkan fatwa bernomor 1/SF-FA/6/2018 yang menyebut, mencoblos Khofifah-Emil Elestianto hukumnya Fardhu Ain alias wajib bagi setiap orang.

Hukum fardhu 'ain ini dalam Islam seperti ibadah salat dan puasa Ramadan. Dalam Islam, meninggalkan aktivitas yang hukumnya fardu 'ain membuat pelakunya diganjar dosa oleh Allah.

Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim selaku Tim 9 Khofifah-Emil mengatakan, orang yang memilih Gus Ipul, padahal ada yang lebih baik menurut KH Asep, yaitu Khofifah, maka orang itu mengkhianati Allah dan Rasulullah. Fatwa itu kini menuai pro-kontra di masyarakat. [tok/but]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>