Selasa, 19 Juni 2018

Kampus Terpapar Teroris, Pemerintah Perlu Lakukan Pendekatan Kognitif

Senin, 04 Juni 2018 08:35:39 WIB
Reporter : Hendra Brata
Kampus Terpapar Teroris, Pemerintah Perlu Lakukan Pendekatan Kognitif

Jakarta (beritajatim.com) - Ketua DPR Bambang Soesatyo mengapresiasi langkah Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri yang telah menangkap tiga terduga teroris di Universitas Riau (Unri) di Pekanbaru, Sabtu (2/6/2018).

Menurutnya, langkah antisipatif Polri menangkap terduga teroris yang berencana menyerang gedung DPR dan DPRD itu menjadi bukti keseriusan negara dalam memberantas terorisme.

Menurut Bamsoet, sapaan Bambang, penangkapan ini sekaligus memperkuat penelitian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menunjukan tingginya paparan radikalisme di kalangan mahasiswa dan sejumlah kampus.

Mantan ketua Komisi Hukum DPR itu juga merujuk penelitian salah satu lembaga riset terhadap 1.800 responden di 25 universitas di Indonesia pada Oktober 2017 mengungkap 23,5 persen responden menyetujui radikalisme yang disuarakan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Selain itu, sebanyak 23,4 persen responden mengaku siap untuk berjihad mendirikan khilafah. Karena itu Bamsoet menyebut penangkapan terhadap terduga teroris di lingkungan kampus merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan nasional.

"Kampus yang seharusnya menjadi tempat bagi para intelektual yang menghasilkan pemikiran untuk kemajuan bangsa dan negara, justru menjadi sarang teroris yang mengancam keselamatan, keamanan, serta persatuan dan kesatuan," kata Bamsoet, Minggu (3/6/2018) malam.

Namun, Bamsoet mengingatkan pemerintah tak hanya menggunakan pendekatan keamanan dalam pengikis radikalisme dan terorisme. Dia meminta pemerintah terutama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendukbud) serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) senantiasa membuat berbagai kegiatan positif yang mampu menggairahkan intelektualitas anak didik ataupun mahasiswa.

"Tindakan dengan pendekatan keamanan  tak selamanya bisa menjadi jawaban dalam membersihkan kampus dari gerakan radikal dan ekstrem. Pendekatan soft treatment melalui pendidikan semangat kebangsaan terhadap kaum muda yang masih mengalami pembukaan koognitif terhadap berbagai gagasan baru harus kembali ditingkatkan," papar Bamsoet.

Bamsoet mengaku kaget ketika motif terduga teroris yang ditangkap di Unri ternyata hendak menyerang gedung DPR dan DPRD. Setelah berbagai tindakan teror yang dilakukan para terduga teroris sebelumnya ditujukan ke kantor dan aparat kepolisian. "Saya sangat mengecam rencana ini,"  ujarnya.

Meski demikian Bamsoet yakin aparat akan bisa mengantisipasi para teroris pengecut dan tak beradab. Terlebih, kini sudah ada payung hukum baru yang membuat aparat punya kewenangan menindak untuk pencegahan.

Menurutnya,Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang disetujui DPR beberapa waktu lalu membuat aparat memiliki payung hukum yang jelas dalam menindak terorisme. Selama aparat hukum mengikuti ketentuan perundangan, DPR RI tanpa ragu senantiasa memberikan dukungan.

"Jadikan ini sebagai pintu masuk dalam memberantas terorisme bukan hanya sampai ke akarnya, melainkan sampai ke benihnya," tegas Bamsoet.

Sedangkan terkait dengan keamanan DPR, Bamsoet akan meminta Polri untuk terus waspada dan memperketat keamanan guna mencegah menghindari masuknya pihak-pihak yang akan mengganggu keamanan.

"Saya berharap DPR terus menjadi tempat yang aman bagi siap saja. Jangan sampai pelukan serta cium tangan dan kening kita kepada anak, istri/suami saat pergi ke DPR itu menjadi kenangan yang terakhir," pungkasnya. [hen/suf]

Tag : terorisme

Komentar

?>