Senin, 16 Juli 2018

Bentuk Pusbaga untuk Pendidikan Keluarga bagi Anak

Kamis, 26 April 2018 16:26:46 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Bentuk Pusbaga untuk Pendidikan Keluarga bagi Anak

Bojonegoro (beritajatim.com) - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Bojonegoro membentuk Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di Gedung Pusyan Gatra, Jalan Lettu Suwolo, Kota Bojonegoro.

Puspaga diharapkan bisa menjadi ruang pendidikan bagi keluarga untuk mengurangi kekerasan terhadap anak di Kabupaten Bojonegoro. Selain itu juga untuk mencegah perkawinan anak, kejahatan seksual dan untuk pemberdayaan perempuan.

"Dalam upaya mencegah perkawinan anak, kekerasan, kejahatan seksual terhadap perempauan dan anak, serta peningkatan kualitas hidup perempuan," kata Kepala Dinas P3AKB Bojonegoro, Adie Witjaksono, Kamis (26/4/2018).

Peluncuran pusat pembelajaran keluarga ini, dilakukan Selasa kemarin dengan dihadiri Asisten Pemkab Kesra, Djoko Lukito, Kepala Dinas P3AKB, Adie Witjaksono, dan puluhan ibu-ibu tamu undangan perwakilan masyarakat.

"Ini merupakan sarana pembelajaran keluarga. Karena kita tahu saat ini banyak kekerasan dalam keluaraga pelecehan anak dan sebagainya," lanjutnya.

Dirinya berharap, dengan adanya program ini, bisa membangkitkan kembali orang tua, supaya tambah perhatian kepada anak. Selain anak-anak belajar saat sekolah juga mendapat perhatian di rumah. Agar orang tua mempunyai kegiatan dan juga mengawasi anaknya.

"Harapan kita, kedepan dengan adanya pusat pembelajaran keluarga ini bisa mengaktifkan kembali apa yang telah dipikirkan bapak dan ibu termasuk kepada anak-anaknya," tutup Adie.

Sementara diketahui, pada tahun 2018 ini jumlah perkawinan anak di Kabupaten Bojonegoro mencapai 34 pemohon. Pernikahan anak ini harus mendapat dispensasi nikah dari Kantor Pengadilan Agama. Sebagian besar mereka yang mengajukan dispensasi nikah ini karena takut anaknya menjadi perawan tua.

Menurut Kepala Panitera PA Bojonegoro Sholikin Jamik, selain karena ketakutan dari orang tua yang ketakutan anaknya menjadi perawan tua, juga mereka yang mengajukan dispensasi nikah karena segera harus dinikahkan lantaran sudah hamil. "Pengawasan orang tua memang harus lebih mengetahui kebutuhan anak di zaman sekarang," jelasnya. [lus/kun]

Komentar

?>