Jum'at, 14 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Jika Larang Partai Baru Kampanye Capres

PSI Anggap KPU Telan Ludah Sendiri

Rabu, 21 Maret 2018 12:55:45 WIB
Reporter : Hendra Brata
PSI Anggap KPU Telan Ludah Sendiri

Jakarta (beritajatim.com) - Rencana KPU melarang parpol baru mengkampanyekan capres dan cawapres dinilai perlu ditinjau kembali. Tidak ada aturan yang melarang partai baru untuk mendukung calon presiden dan wakil presiden, meski UU Pemilu 2017 memang menyebutkan Pengusung Presiden adalah partai politik yang memiliki kursi di DPR.
 
''Tapi tak ada kata larangan di sana,'' tegas Wakil Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Satia Chandra Wiguna, Rabu (21/3).

Hal ini menanggapi pernyataan Anggota KPU Hasyim Asy’ari yang mengatakan KPU akan menegaskan aturan tentang larangan bagi partai politik baru untuk mengkampanyekan capres dan cawapres di Pemilu 2019. Menurut Chandra, perlu didiskusikan terlebih dahulu sebelum dijadikan draft PKPU antara KPU, Parpol, LSM bahkan Akedemisi.

''Demokrasi di Republik ini bakal menurun jika aturan itu jadi diterapkan,'' katanya.

Dia menambahkan, di daerah parpol baru sudah diminta mendukung paslon Pilkada. Hadirnya parpol baru menambah warna tersendiri, karena membawa ide-ide segar dan baru terhadap paslon yang didukung. Parpol lama yang memiliki kursi di parlemen juga sangat terbuka menerima parpol baru.

“Di beberapa daerah PSI sudah diminta untuk mendukung salah satu pasangan calon di Pilkada serentak 2018. Bahkan, sudah ada yang bergabung di sekretariat bersama tim sukses dan KPUD setempat, dan tidak ada masalah. Kenapa untuk kampanye capres dan Cawapres dilarang? Ini menjadi pertanyaan besar,” tanya Chandra.

Menurut Chandra, dalam pasal 222 UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 tidak ada aturan yang melarang partai baru untuk mendukung capres dan cawapres. Dia juga menekankan, hubungan yang erat antara capres dan cawapres dengan parpol bukan sekadar perolehan kursi di parlemen semata. Kesamaan ideologi, visi misi, dan cita-cita dalam membangun Indonesia, lanjut Chandra, menjadi tolak ukur hubungan antara capres dan cawapres. Semua parpol, baru maupun lama berkewajiban turut mengkampanyekan ide-ide dan gagasan capres dan cawapres.

“Ini bertujuan untuk melakukan pendidikan politik sebagai salah satu fungsi kampanye. Bagaimana kita mau melakukan pendidikan politik jika ada larangan kampanye untuk parpol baru bagi capres yang didukungnya?” kata Chandra.

Chandra juga mengatakan bahwa parpol baru sudah sah secara konsititusi sebagai peserta pemilu 2019.

“KPU akan menelan ludah sendiri jika aturan tentang larangan bagi parpol baru untuk mengkampanyekan capres dan cawapres dalam Pemilu 2019 terjadi. Karena sudah jelas PSI dan parpol baru lain juga sudah sah menjadi parpol peserta Pemilu,” kata Chandra.

Sebelumnya, komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelumnya berwacana akan melarang partai baru berkampanye bagi pasangan calon presiden dan wakil presiden di Pemilu 2019. Hal ini disampaikan oleh Komisioner KPU Hasyim Asy’ari.

Menurut Hasyim, hal itu sesui dengan pasal 222 UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017. Pasal tersebut menyebutkan pasangan capres-cawapres diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi di DPR dan memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya. Artinya, dalam kondisi saat ini, parpol yang bisa mengusung capres-cawapres adalah parpol peserta Pemilu 2014 dan memiliki kursi di DPR. [hen/but]

Tag : psi

Komentar

?>