Jum'at, 14 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Titiek dan Tommy Tandai Kebangkitan Dinasti Soeharto?

Selasa, 20 Maret 2018 23:07:33 WIB
Reporter : -
Titiek dan Tommy Tandai Kebangkitan Dinasti Soeharto?
Titiek dan Tommy Soeharto bersama Akbar Tandjung. [Foto: AFP/BBC]

Diusulkannya Titiek Soeharto -putri mantan presiden Soeharto-menjadi Wakil Ketua MPR oleh Partai Golkar dinilai semakin mempertegas indikasi kebangkitan dinasti Soeharto dan menunjukkan 'kelupaan' sebagian kalangan terhadap rezim Orde Baru.

Sebelumnya, Tommy Soeharto juga kembali terjun di dunia politik dengan menggawangi Partai Berkarya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan sosok sang ayah, Soeharto, ingin ia hidupkan lagi lewat partai baru tersebut.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia, Aditya Permana, memandang kemunculan Tommy dan Titiek dalam kancah politik Indonesia mempertegas kebangkitan dinasti Soeharto dan ketidakpahaman massal, terutama dari generasi muda, tentang Orde Baru.

"Hal yang paling menarik untuk dilihat adalah apakah generasi-generasi anak muda sekarang atau milenial hari ini itu ngerti dan paham tentang apa yang terjadi pada masa Orde Baru?" ujar Adit kepada BBC Indonesia.

"Saya yakin tidak. Karena kan yang menjadi pemilih itu adalah mereka. Mereka mayoritas di dalam pemilu 2019 nanti," imbuhnya.

Hal ini pula diamini Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi. Menurutnya, dinasti Soeharto memiliki kans untuk bangkit, apalagi jika menyasar generasi muda yang 'terpesona dengan masa silam'.

"Dan kelihatannya 'kekosongan' itu bisa diisi dengan kampanye bahwa zaman lalu lebih enak dari zaman sekarang dan itu saya kira bisa kita baca bahwa mereka melakukan framing terhadap sejumlah isu, dan itu fokusnya pada kesejahteraan," ujar Dodi.

Rapat pleno Partai Golkar pada Minggu (18/3/2018) menyetujui Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menjadi wakil ketua MPR menggantikan Mahyudin.

"Rapat pleno tadi salah satunya menyetujui pergantian wakil ketua MPR RI kepada Titiek Soeharto," ujar Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily seperti dilansir dari Kompas.com.

Sebelumnya, usulan ini dilontarkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartato saat berpidato di pelantikan pengurus pimpinan organisasi sayap Golkar, Kesatuan Perempuan Indonesia (KPPG), beberapa saat sebelumnya.

"Dalam periode ini saya mengusulkan kader perempuan dari Partai Golkar di MPR, kita dorong Mba Titiek untuk mengisi pimpinan MPR," ujarnya.

Wakil ketua MPR dari Fraksi Golkar saat ini masih dijabat oleh Mahyudin. Meski posisi pimpinan MPR hanya sebagai simbol dan bukan merupakan posisi sentral dalam peta politik Indonesia, kemunculan nama Titiek sebagai wakil ketua MPR mengindikasikan besarnya pengaruh.

"Titiek-nya sendiri punya kekuatan finansial ataupun kekuatan dukungan yang diharapkan pimpinan Golkar saat ini. Jadi lebih ke arah taktis buat pergerakan Golkar untuk bisa mendapatkan voters atau suara yang lebih banyak," ujar Adit.

Seminggu sebelumnya, Tommy Soeharto, yang lebih terkenal sebagai pebisnis dan sempat menjadi kader Golkar di masa lampau dinobatkan sebagai ketua umum Partai Berkarya yang baru saja dibentuknya. Romantisme Orde Baru yang lekat dengan sosok sang ayah, disebutkan ingin hidupkan lagi lewat Partai Berkarya.

"Sekarang Pak Tommy akan meneruskan kinerja ayahanda yang belum terselesaikan dalam trilogi pembangunannya, repelitanya, masalah ekonomi kerakyatannya," ujar fungsionaris Partai Berkarya Neneng Tetty.

Diakui Neneng, partainya menjual sosok Soeharto untuk meraup suara. Partai ini berharap bisa menarik pemilih yang merindukan zaman keemasan Soeharto dengan stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Sebagai putra bungsu, figur Tommy Soeharto diyakini bisa menarik massa pemilih, termasuk generasi muda.

"Pengurus di daerah juga banyak yang anak-anak muda, kisaran 27 - 30 tahun, sampai usia 70 tahun yang masih termasuk eranya Soeharto," paparnya.

Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi memandang Partai Berkarya memiliki kans untuk menebus suara dalam pemilu meskipun porsinya tidak banyak.

"Mereka itu lolos threshold saja belum tentu. Jadi partai-partai baru, [seperti] Partai Berkarya, Partai Garuda dan termasuk PSI itu, publik yang tahu saja tidak banyak. Mereka itu perolehannya di bawah 1% untuk survei yang akhir-akhir ini," ujar Dodi.

"Jadi masih pekerjaan besar bagi mereka untuk mengenalkan ke publik," kata dia.

Selain Partai Berkarya, tiga partai baru yang akan berpartisipasi pada Pemilu 2019 adalah Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Merujuk data Saiful Mujani Research & Consulting, 55% pemilih pada pemilu 2019 berusia 17-38 tahun.

Lalu, bagaimana tanggapan generasi muda soal Soeharto dan kebangkitan dinastinya? Asraf, pelajar yang lahir pada awal 2000-an mengaku mengenal Orde Baru dari buku sejarah. Soeharto yang ia kenal adalah bahwa mantan presiden tersebut pekerja keras dan merakyat.

Anis, perempuan berusia 28 tahun mengaku pada era Orde Baru dirinya masih duduk di sekolah dasar. Namun, hal yang ia paling ingat adalah kerusuhan yang terjadi pada saat Soeharto diturunkan pada Mei 1998.

"Karena aku melihat sendiri, lagi jalan sama mama tiba-tiba ada orang rusuh yang pada melempar batu. Kayak yang trauma saja. Tapi kalau buat pemerintahannya kan aku memang masih kecil banget. Jadi belum paham," ujar Anis ketika ditemui BBC Indonesia.

Sama halnya dengan Herlambang yang berusia 30 tahun. Ketika Soeharto masih berkuasa, dirinya pula masih duduk di sekolah dasar. Namun, yang paling ia ingat pada masa Orde Baru adalah pencapaian swasembada beras.

Namun, menurutnya, masa sekarang lebih baik ketimbang masa Orde Baru. "Beda sama Orde Baru kita kan nggak bebas, nggak demokrasi. Kita nggak bisa ngomong apa kan. Kalau sekarang zaman reformasi kita bisa bebas ngomong," ujar Herlambang.

Ditanya soal kebangkitan dinasti Soeharto, Danar, seorang konsultan IT memandang bahwa masyarakat sudah cukup cerdas untuk memilih sosok pemimpin. "Karena kita sudah bukan seperti zaman dulu lagi yang bisa dibohongi dengan program-program yang tidak berjalan Tapi kita melihatnya dari sudut pandang kita seperti apa karakter dan historikal [dari sosok itu]."

Pengamat politik dari Puskapol UI, Aditya Permana memandang suatu masalah besar jika generasi muda tidak memahami apa yang terjadi pada masa Orde Baru.

"Menariknya adalah bagaimana [membuat] publik paham dan tahu ada yang berubah antara Orde Baru dan sesudah Orde Baru. Itu yang semestinya digulirkan untuk mengatakan ada banyak perubahan yang signifikan antara Orde Baru dan setelah Orde Baru," papar Adit.

"Yang paling kelihatan ya soal partisipasi politik hari ini yang lebih terbuka dan lebih bebas ketimbang Zaman Orde Baru yang dikekang, dan kemudian menjadi sebuah ketakutan di masyarakat karena ada ancaman atau ada hal yang membuat mereka tidak bisa bebas seperti masa sekarang," imbuhnya.

Selain itu, menurut Adit, ruang terhadap perbedaan menjadi pembeda yang signifikan antara Orde Baru dan masa reformasi.

Setelah era reformasi, partai bernuansa keluarga Soeharto yang pernah berpartisipasi pada pemilu adalah Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), yaitu pada 2004 dan 2009.

PKBP meraih dua kursi pada 2004, namun gagal menempatkan perwakilan di DPR pada 2009. Tahun 2004, PKBP secara terang-terangan berniat mengusung putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menjadi presiden.

Namun rencana itu gagal karena PKBP tak mencapai batas ambang pencalonan presiden. Dua partai lain yang pernah didirikan anggota keluarga Cendana adalah Partai Karya Republik dan Partai Nasional Republik. Dua partai itu tidak pernah mengikuti pemilu. [BBC/air]

Sumber : BBC
Tag : orde baru

Berita Terkait

    Komentar

    ?>