Minggu, 22 Juli 2018

Buku Khutbah Jumat Dituduh Syiah, 'Islam Integral' Membantah

Senin, 19 Maret 2018 22:52:04 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Buku Khutbah Jumat Dituduh Syiah, 'Islam Integral' Membantah

Jember (beritajatim.com) - Pemimpin lembaga Islam Integral, Ali Assegaf, membantah tudingan Majelis Ulama Islam Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang menyatakan buku '57 Khutbah Jumat' beraliran Syiah dan meresahkan.

"Saya justru menerbitkan buku ini dengan niat baik. Saya ingin negeri ini melawan kelompok intoleran, dan buku ini isinya untuk melawan intoleransi," kata Ali. Buku ini mendapatkan kata pengantar dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudi Latif dan sempat diluncurkan dalam acara Sarasehan Merekatkan Bangsa Memperkokoh NKRI, di Aula Komando Distrik Militer 0824, Jember, Senin (12/3/2018) lalu.

Ali mengatakan, kalau memang buku itu dirasa mengandung ajaran Syiah, tidak usah dibacakan dalam khotbah Jumat. "Ada 57 (artikel) khotbah. Kasih tahu bahwa (artikel) khotbah kesekian itu Syiah. Bangunlah komunikasi di tengah masyarakat," katanya.

Ali mengaku tidak pernah dihubungi MUI Jember terkait persoalan buku ini. Saat bertemu dengan Ketua MUI Jember Abdul Halim Subahar dalam acara sarasehan di Markas Kodim 0824, tidak ada pernyataan spesifik soal buku tersebut. "Aneh ini buat saya," katanya.

"Kalau (dalam buku itu) ada yang Syiah, ditunjukkan saja yang mana. Apa sih yang disebut Syiah? Kalau ada tulisan yang menyuruh orang bermazhab Syiah atau beraliran Syiah, tunjukkan kepada saya. Kalau menyebut ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, sebagai syiah, saya kira jangan ada orang yang mengaku muslim, karena dia khalifah kita. Dia khalifah kita. Kalau kemudian menyebut nama Sayyidina Ali tidak boleh. Aneh kan?" kata Ali.

Ali mengatakan proses penerbitan buku itu agak panjang dan mulai digagas sejak menjadi staf khusus Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Said Aqil Siraj saat kepengurusan periode pertama. "Saya pernah menyarankan agar PBNU membuat buku khotbah Jumat. Kenapa tidak kita edukasi, jadikan masjid ini dengan nilai kebangsaan. Kita ingin membuat Islam yang kembali ke wajah kebangsaan," katanya.

Ali mulai menulis justru setelah berkomunikasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). "Saya harus membuat tulisan dengan kerangka logika agama. Tidak asal-asalan. Dia dibuat pada tahapan berikutnya, dihubungkan dengan kondisi riil kebangsaan. Dia (buku ini) tidak boleh berdiri sendiri, melangit dan tidak membumi," katanya.

Ali mengatakan buku tersebut punya makna, karena jarang ada buku yang menghubungkan Islam dan NKRI. "Karena selama ini dianggap seperti dua rel (yang berjalan sendiri-sendiri)," katanya.

Buku tersebut akhirnya urung dicetak melalui kerjasama dengan BNPT. Ada perbedaan pertimbangan soal perlu adanya logo BNPT dalam buku tersebut. Ali sendiri ingin buku itu bisa dibaca di masjid-masjid sebagai referensi untuk menyebarkan kebaikan. "Saya memberikan bahan agar masjid membicarakan kebangsaan dan NKRI," katanya.

Urung bekerjasama dengan BNPT, Ali kemudian meminta Yudi untuk memberikan kata pengantar. "Kemudian dicetak, dan saya ngotot agar buku ini didistribusikan TNI," katanya.

Setelah mendapatkan 'endorsement' dari Yudi Latif, Ali mengirimkan buku tersebut berupa 'dummy' (draft) kepada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang kala itu masih menjabat. Namun belum ada jawaban dari Markas Besar TNI.

Ali kemudian melakukan pendekatan kepada Komando Distrik Militer 0824 dan mendiskusikan kemungkinan distribusi buku dilakukan untuk ribuan masjid di Jember. Dia bahkan mengupayakan Yudi Latif hadir dalam acara seminar pekan lalu untuk meluncurkan buku tersebut. "Saya menganggap TNI seperti bendera merah putih yang kemudian masuk masjid. Nyambung," katanya. Acara seminar tersebut berlangsung sukses. Ali yakin acara itu sudah diketahui oleh komando yang lebih tinggi.

Belakangan, Ali terkejut, karena mendapat pesan WhatsApp dari Yudi Latif yang meneruskan pesan berisi pemberitahuan bahwa buku tersebut tengah dikaji MUI Jember. Buku tersebut urung didistribusikan oleh TNI.

Ali mengatakan, buku tersebut hingga saat ini tidak ada masalah dengan BPIP dan BNPT. "Siapa yang menyangka saya berurusan dengan MUI (Jember)?" katanya. [wir/suf]

Tag : buku khutbah

Komentar

?>