Kamis, 26 April 2018

Akademisi: Ulama dan Tomas Harus Jadi Pelopor Pilkada Damai

Minggu, 18 Maret 2018 13:40:22 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Akademisi: Ulama dan Tomas Harus Jadi Pelopor Pilkada Damai

Pamekasan (beritajatim.com) - Salah satu akademisi Pamekasan Mohammad Kosim mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama menciptakan suasana politik damai dan santun, guna mewujudkan kondusifitas pelaksanaan pilkada serentak 2018.

Bahkan ia juga menyampaikan bahwa mewujudkan pilkada damai tidak cukup hanya dipasrahkan kepada pihak penyelenggara, dalam hal ini KPU Pamekasan. Termasuk juga Bawaslu Pamekasan maupun jajaran aparat dari instansi TNI-Polri.

"Pada dasarnya tidak etis jika kita lepas tangan dan memasrahkan penuh kepada penyelenggara maupun pihak pengawas maupun keamanan dalam mewujudkan pilkada damai, tapi pesta demokrasi ini juga harus didukung oleh semua elemen masyarakat secara umum," kata Mohammad Kosim, Minggu (18/3/2018).

Dari itu, dibutuhkan keterlibatan para tokoh masyarakat dalam menciptakan suasa kondusif dalam pelaksanaan pilkada serentak yang dijadwalkan akan digelar Rabu (27/6/2018) mendatang. Khususnya para ulama dan tokoh masyarakat di seluruh daerah berslogan Bumi Gerbang Salam.

"Guna mewujudkan pilkada damai, ulama dan tokoh masyarakat harus menjadi contoh yang baik dalam menciptakan suasana kondusif sekaligus mewujudkan pilkada damai. Jangan sampai justru sebaliknya dan menjadi sumber konflik," sambung pria yang menjabat sebagai Ketua STAIN Pamekasan.

Selain itu, pihaknya berharap agar para ulama juga menyakinkan masyarakat bahwa berbeda pilihan merupakan hal wajar dalam proses pemiliban. Sehingga tidak harus memaksakan kehendak apalagi sampai berkonflik. "Para ulama harus meyakinkan umat bahwa pilkada aman dan damai menunjukkan bahwa kita adalah bangsa bermartabat, religius dan cinta damai," tegasnya.

"Dalam hal ini ulama harus menyakinkan umat agar jangan langsung percaya terhadap berbagai berita hoax (palsu), khususnya seputar pelaksanaan pilkada. Terutama berbagai pemberitaan yang cenderung adu domba, sebab hal itu justru bisa menjadi sumber konflik," imbuhnya.

Pilkada merupakan momentum tepat untuk menentukan pemimpin berkualitas, sekaligus merealisasikan nilai-nilai demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Ikhtiar baik ini tidak boleh dilakukan dengan menghalalkan segala cara, karena hal itu justru akan mencederai kualitas pilkada. Ikuti aturan pilkada, hindari adu domba dan hormati perbedaan pilihan," jelasnya.

Dari itu pihaknya berharap agar seluruh elemen masyarakat, khususnya para ulama maupun tim sukses masing-masing calon agar sama-sama komitmen menciptakan suasana kondusif demi mewujudkan pilkada damai di Pamekasan. Terlebih saat ini sudah memasuki tahapan kampanye yang akan digelar hingga Sabtu (23/6/2018) mendatang.

"Mari kita bersama-sama kita menghindari kampanye negatif-provokatif, hindari politik uang, hindari politisasi SARA dan hormati pilihan orang lain yang berbeda. Jika menang tentunya harus merangkul semuanya, sekaligus merealisasikan janji-janji kampanye. Jika kalah harus lapang dada dengan mengajak para pendukung menerima kekakahan," pungkasnya.

Sebanyak dua pasangan calon bakal bersaing merebut posisi bupati dan wakil bupati Pamekasan, periode 2018-2023. Kedua paslon tersebut masing-masing Badrut Tamam dan Raja'e (Berbaur), serta paslon Kholilurrohman dan Fathor Rohman (Kholifah).

Kedua paslon tersebut mendapatkan dukungan dari delapan parpol berbeda, masing-masing paslon didukung empat parpol. Berbaur didukung PAN, Partai Gerindra, PKS dan PKB. Sementara Kholifah didukung Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai NasDem dan PPP. [pin/kun]

Komentar

?>