Kamis, 21 Juni 2018

Raperda Perlindungan Lahan Pertanian Dikaji Ulang

Selasa, 13 Maret 2018 16:57:45 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Raperda Perlindungan Lahan Pertanian Dikaji Ulang

Jember (beritajatim.com)--DPRD Kabupaten Jember akhirnya memutuskan untuk mengkaji kembali Rancangan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Keputusan ini diambil setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

"Materi raperda belum mencantumkan penetapan luasan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan subtansinya belum fokus membahasnya," kata David Handoko Seto, salah satu anggota Panitia Khusus DPRD Jember.

Legislator Partai Demokrat, Anang Murwanto, mengatakan, raperda tersebut sangat strategis bagi kepentingan masyarakat Jember.

"Khususnya Jember sebagai daerah lumbung pangan di Jawa Timur. Kedua, terkait juga dengan massifnya konversi lahan," katanya.

Anang setuju jika raperda tersebut disempurnakan. "Saya amati perubahan data Dinas Pertanian terkait luasan lahan yang akan jadi lahan existing yang akan dilindungi. Ini juga terkait dengan Rencana Detail Tata Ruang. Ini akan berimplikasi pada lahan-lahan yang perlu dipastikan perlindungannya," katanya.

Dia khawatir, jika raperda tersebut tidak dibahas serius dan disahkan, maka Jember akan semakin sering kehilangan lahan kelas satu yang bisa digunakan untuk pertanian.

Masalah konversi lahan pertanian memang jadi perhatian publik, terutama di Jawa Timur. Beberapa waktu lalu di sela-sela kunjungannya ke Jember, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Hadi Sulistiyo mengatakan, konversi lahan tak bisa dihindari.

Kini yang bisa dilakukan adalah intensifikasi lahan untuk menjaga agar Jawa Timur tetap menjadi salah satu lumbung pangan nasional. "Kita buka lahan industri tidak di lahan yang subur, dan sudah ada perdanya," katanya.

Hadi mengakui jika lahan pertanian berkurang setiap tahun. "Tidak mungkin akan tetap. Tapi diupayakan sebisa mungkin (konversi lahan) dibatasi untuk industri. Mencetak lahan baru sulit, kecuali di luar Jawa," katanya.

Hadi bersyukur sejauh ini konversi lahan pertanian belum berdampak terhadap pasokan beras.

"Pada tahun 2017, Jatim surplus padi 4,7 juta. Tahun ini prediksinya 5,1 juta ton," katanya. Kontribusi padi Jatim untuk stok nasional mencapai 17 persen dan 27 persen untuk stok jagung nasional.

Selain alih fungsi lahan, Hadi mengatakan, hama dan penyakit tanaman juga perlu diwaspadai. "Kemudian kami menjaga agar tak ada produk impor yang masuk. Di Jatim tidak ada beras impor karena surplus," katanya. [wir/air]

Tag : dprd jember

Komentar

?>