Selasa, 19 Juni 2018

Momentum Pilkada Dipakai Promosikan Batik

Sabtu, 10 Maret 2018 01:12:06 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Momentum Pilkada Dipakai Promosikan Batik

Pamekasan (beritajatim.com) - Pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Pamekasan Badrut Tamam dan Raja'e (Berbaur) memanfaatkan momentum pilkada serentak 2018 dengan mempromosikan batik khas daerah berslogan Bumi Gerbang Salam.

Hal itu tidak hanya isapan jempol belaka, sebab paslon muda koalisi 'Laok Dheje' bernomor urut 1 justru tampil dengan mengenakan batik khas Pamekasan di berbagai kesempatan. Bahkan batik yang mereka kenakan sudah mulai ngetrend dengan sebutan Batik Berbaur.

Batik bercorak gelap khas Berbaur merupakan motif karya masyarakat Desa Toket, Kecamatan Proppo, melalui proses pewarnaan karya masyarakat di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo. "Batik ini asli Pamekasan, sengaja kami kenakan untuk mengajak masyarakat agar memiliki semangat berbatik. Tentunya batik produk lokal," kata Badrut Tamam, Jum'at (9/2/2018).

"Memang dari awal kita sudah komitmen untuk merealisasikan slogan menjadi tindakan, sebab bagi kami tujuan jabatan bukanlah tujuan akhir. Tapi ini berbentuk pengabdian untuk bersama-sama memberikan yang terbaik bagi masyarakat, salah satunya melalui batik," ungkap kandidat yang akrab disapa Ra Badrut.

Langkah tersebut sengaja dilakukan karena dirinya bersama Raja'e tengah menjadi 'sorotan' publik sebagai kandidat bupati dan wakil bupati Pamekasan, periode 2018-2023. "Kami sengaja memanfaatkan momen ini, karena pasangan calon pasti akan menjadi sorotan media. Sehingga batik asli Pamekasan yang kami pakai otomatis juga menjadi sorotan media," jelasnya.

"Dengan seragam batik ini, kami juga bermaksud untuk mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama mencintai hasil karya masyarakat lokal Pamekasan. Apalagi batik yang kami pakai merupakan hasil karya dan produk warga Pamekasan, terlebih penjualan batik cenderung menurun sejak beberapa tahun terakhir," imbuhnya.

Tidak hanya itu, alasan lainnya Berbaur tampil mengenekan batik sebagai upaya melebur warna kebesaran dari parpol pengusung. Sebab pada momentum pilkada kali ini, Berbaur didukung empat parpol berbeda, yakni PAN, Partai Gerindra, PKS dan PKB yang notabene memiliki warga kebanggaan masing-masing.

"Memang batik yang kami pakai tidak ada warna dominan sesuai dengan warna parpol pengusung, yang ada batik adalah batik. Dan batik ini merupakan kerajinan rakyat Pamekasan dan sangat perlu kita bantu agar maju dan berkembang. Sekaligus membantu mengkampanyekan gerakan cinta batik," beber Ra Badrut.

Melalui kampanye gerakan cinta batik, dirinya bersama Raja'e dan pengurus parpol pengusung tidak ingin terlalu menonjolkan 'politik identitas', tapi gerakan politik dengan mengedepankan pemberdayaan ekonomi seperti yang tertuang dalam visi misi dan program strategis Berbaur.

"Dengan langkah seperti ini kami ingin masyarakat pelaku usaha mikro di Pamekasan bisa merasakan manfaat secara maksimal dan efesien melalui momentum pilkada serentak 2018. Apalagi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sudah mengakui bahwa batik sebagai ikon budaya Indonesia, terlebih pemkab Pamekasan juga mendeklarasikan sebagai Kota Batik," pungkas mantan Ketua PKC PMII Jawa Timur.

Sebelumnya Pemkab Pamekasan membuat terobosan dengan mencanangkan diri sebagai 'Kota Batik' yang ditandai dengan kegiatan 'Pamekasan Membatik' yang digelar di area Monumen Arek Lancor, 24 Juli 2009 silam.

Dalam kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 600 pembatik ikut serta membatik kain putih sepanjang 1.530 meter sesuai dengan angka hari jadi kabupaten Pamekasan. Sekaligus tercatat dalam catatan Museum Rekor Indonesia (MURI), apalagi kegiatan tersebut digelar sebagai dukungan atas rencana pemerintah yang ingin menjadikan 2 November sebagai Hari Batik Nasional. [pin/but]

Komentar

?>