Kamis, 20 September 2018

Pilgub Jatim 2018 dan Pertarungan di Mataraman (1)

Sabtu, 17 Februari 2018 22:24:03 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Pilgub Jatim 2018 dan Pertarungan di Mataraman (1)
Ainur Rohim, Penanggung jawab dan wartawan beritajatim.com.

Surabaya (beritajatim.com)--Pertarungan politik di kawasan Mataraman Jatim pada Pilgub 2018 diperkirakan berlangsung sengit. Di wilayah yang pengaruh kultur Jawa berskala kental inilah yang bisa menentukan siapa pemenang Pilgub Jatim 2018.

Kawasan Mataraman Jatim membentang dari Kabupaten/Kota Blitar, Kediri Raya, Madiun Raya, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Magetan, Ngawi, Ponorogo, dan Pacitan. Sepanjang Pilgub Jatim secara langsung (2008/2009 dan 2013), kawasan ini dimenangkan pasangan Pakde Karwo-Gus Ipul.

Pada Pilgub Jatim 2018 ini, dua figur yang berposisi sebagai cawagub, yakni Emil E Dardak (Bupati Trenggalek) dan Puti Guntur Soekarno, dipandang merepresentasikan kawasan Mataraman.

Kedua tokoh ini hakikatnya belum lama berkiprah di ranah politik pemerintahan di Jatim. Emil Dardak menjabat Bupati Trenggalek sejak 2015 dan Puti Guntur sebagai legislator dari Dapil Jabar.

Keduanya lebih tepat dipandang sebagai politikus metropolitan yang kemudian berkiprah di ranah politik pemerintahan lokal Trenggalek dan politikus yang memiliki garis nasab politik dengan tokoh sentral dan sangat dihormati di kawasan Mataraman khususnya dan Indonesia umumnya: Bung Karno.

Dengan potret tokoh yang dipandang merepresentasikan Mataraman dengan kualitas kurang begitu mantap, maka kontestasi politik di kawasan ini diprediksi bakal lebih sengit dibanding di kawasan Tapal Kuda dan Pantura Barat Jatim. Di kedua kawasan itu, pengaruh politik Hijau (Baca: Islam) jauh lebih dominan mengental, dan kuat dibanding politik Merah (Baca: Nasionalis). Soekarwo (Pakde Karwo) diposisikan sebagai representasi paripurna figur Mataraman. Politikus birokrat kelahiran Kabupaten Madiun yang telah memenangkan dua kali Pilgub Jatim secara langsung (2008/2009 dan 2013) belum tergantikan positioning politiknya sebagai 'wakil paling absah' dari tlatah Mataraman dalam mapping politik regional Jatim kontemporer.

Pakde Karwo dengan kekuatan Partai Demokratnya, kini mendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil E Dardak. Pakde Karwo menjadi 'kartu hidup' yang diharapkan mampu mengakselerasi raihan dukungan politik voters dari kawasan Mataraman untuk pasangan ini. Pakde Karwo dan Partai Demokrat dalam posisi nge-lead dalam konteks ini.

Di sisi lain, pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur bukan tanpa tokoh kuat untuk memantapkan pasangan ini di kawasan Mataraman. Penegasan Mayjen Purn Imam Utomo, mantan Gubernur Jatim periode 1998-2003 dan 2003-2008, memberikan energi politik tambahan bagi pasangan ini dalam mengais dukungan suara di kalangan voters di Mataraman.

Imam Utomo, politikus berlatar militer, memiliki jalinan nasab Nasionalis cukup kental. Ayah Imam Utomo, Suparno, katanya, merupakan tokoh penting Partai Nasional Indonesia (PNI) di Kabupaten Jombang di era tahun 1950-an sampai 1960-an. Pada Pilgub Jatim 2003, Imam Utomo maju atas dukungan PDIP dan sejumlah parpol lainnya, sehingga memenangkan Pilgub Jatim 2003 dengan penantang Abdul Kahfi, mantan Wagub DKI Jakarta.

Relasi politik Imam Utomo dengan partai berwatak Nasionalis bukan hal baru dalam konteks politik kekinian. Tapi memiliki paralelisme historis, kultural, dan politik panjang. [air/bersambung]

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>