Senin, 21 Mei 2018

Pilwali Malang, Bara JP Dukung Nanda-Wanedi

Minggu, 04 Februari 2018 14:33:55 WIB
Reporter : Lucky Aditya Ramadhan
Pilwali Malang, Bara JP Dukung Nanda-Wanedi

Malang (beritajatim.com) - Dukungan untuk pasangan calon Wali Kota Malang dan Wakil Wali Kota Malang, Ya'qud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi terus mengalir. Empat komunitas di Malang mendeklarasikan diri mendukung Pasangan Calon 'Menawan' itu.

Mereka, Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP), Komunitas Arek Jatim, Komunitas Ongis Nade (Koin) dan Komunitas 9X. Deklarasi dan pembentukan relawan pemenangan Paslon MeNaWan ini dilakukan di Omah Arek, Jalan Ijen 91 Kota Malang.

Deklarasi dihadiri langsung oleh Ya'qud Ananda Gudban dan Ahmad Wanedi. Wanedi, mengatakan tagline Ayo Noto Malang merupakan konsep pembangunan dengan melibatkan semua elemen dan komponen masyarakat.

"Kita sadar dan sangat yakin jika membangun Kota Malang tidak bisa dilakukan satu atau dua orang. Tetapi harus bersama seluruh elemen masyarakat," kata Wanedi, Minggu, (4/2/2018).

Wanedi menyebut Malang sebagai Kota pendidikan dengan jumlah puluhan kampus, mempunyai potensi dalam menata Kota Malang di masa mendatang. Ahli bidang tata kota, ahli tata transportasi hingga ahli hukum akan dilibatkan sebagai konsultan pembangunan andai terpilih menjadi pemimpin Kota Malang.

"Kita juga ingin memberikan contoh dimana pemerintahan yakni antara eksekutif dan legislatif bisa sinergi. Pasangan MeNaWan didukung lima partai dengan jumlah anggota dewan 22 kursi. Tentunya sinergitas itu penting dalam membangun Kota Malang sesuai dengan tagline kami," paparnya.

Sedangkan Ya'qud Ananda Gudban, mengucapkan terima kasih kepada para relawan dan komunitas yang telah mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Menawan. "Tentunya ini adalah menambah semangat kami dalam menata Kota Malang di masa mendatang," ucap Nanda Gudban.

Ketua Komunitas Arek Jatim, Wahyu Eko Setiyanto, mengatakan deklarasi relawan ini dilakukan karena ada kesamaan dalam memandang arah pembangunan Kota Malang selama beberapa tahun terakhir.

Ia menyorot beberapa permasalahan yang belum terselesaikan dengan baik seperti polemik toko modern, pasar tradisional, hingga kemacetan dan banjir yang masih menjadi keluhan masyarakat.

"Kita butuh perubahan. Kalau butuh perubahan berarti pemimpinnya harus ganti dengan yang baru," tandas Wahyu Eko Setiawan. [luc/but]

Komentar

?>