Rabu, 21 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Pilkada Jombang

Kekayaan Mundjidah Melesat, Nyono Justru Turun

Selasa, 23 Januari 2018 00:32:17 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Kekayaan Mundjidah Melesat, Nyono Justru Turun
Mundjidah Wahab (kiri), Nyono Suharli Wihandoko (kanan)/foto:dok

Jombang (beritajatim.com) - Bakal pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Jombang sudah menyerahkan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) ke KPU sebagai syarat pencalonan.

Seperti dilansir laman kpk.go.id, kekayaan Bacabup Mundjidah Wahab tercatat Rp 12,4 miliar.
Harta kekayaan Wakil Bupati Jombang 2013-2018 ini dilaporkan pada 15 Januari 2018. Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang cukup tajam jika dibandingkan pada 2013, saat dirinya maju sebagai Wakil Bupati Jombang.

Saat itu, harta kekayaan Mundjidah sebesar Rp 4 miliar. Yang terdiri dari harta bergerak (mobil) dan tidak bergerak (tanah dan bangunan). "Peningkatan itu karena nilainya saja. Kalau barangnya tetap, tapi nilai harganya yang naik. Itu pun harta peninggalan," kata Mundjidah tanpa mau menjelaskan secara panjang lebar, Senin (22/1/2018).

Sementara, kekayaan Nyono Suharli Wihandoko sesuai LHKPN yang disetorkan ke KPU untuk persyaratan mendaftar sebagai calon bupati sebesar Rp. 11.283.548.789. Jumlah tersebut mengalami penurunan jika dibanding saat dirinya mencalonkan diri sebagai cabup pada Pilkada 2013.

Saat itu kekayaan Nyono tercatat Rp 11.603.632.000. Jumlah tersebut sudah termasuk tabungan miliknya sebesar USD 40 ribu. Dengan kata lain, harta yang dimiliki Nyono, selama dirinya menjabat sebagai Bupati Jombang (2013-2018) mengalami penurunan sebesar Rp. 320.083.211.

Nyono ketika dikonfirmasi terkait persoalan tersebut membenarkan. "Memang ada penurunan jika dibanding 2013 lalu. Karena selama ini petani tebu mengalami masalah. Banyak merugi," ujar Nyono sembari menunjukkan LHKPN yang dimaksud.

Nyono menjelaskan, selama ini dirinya memang punya usaha pertebuan. Hanya saja, sejak tiga tahun terakhir, petani tebu dihantam masalah. Nilai rendemen terjun bebas, sehingga nasib petani tebu tak lagi manis.

Nyono lantas memberikan rincian, biaya produksi tebu per satu hektar sebesar Rp 45 juta. Ironisnya, ketika panen, hasil penjualan tebu antara Rp 45 hingga 50 juta. "Tidak jarang kami harus balik modal. Nah, hal itulah yang membuat penurunan kekayaan," ujar Nyono yang juga Bupati Jombang ini.

Nyono dan Mundjidah adalah Bupati-Wakil Bupati Jombang periode 2013-2018. Namun untuk Pilkada tahun ini, mereka harus pecah kongsi. Nyono maju lagi dengan menggandeng politisi asal PKB, Subaidi Mukhtar. Pasangan ini diusung Partai Golkar (7 kursi), PKB (8 kursi), PKS (5 kursi), Partai Nasdem (4 kursi) dan PAN (3 kursi).

Sedangkan Mundjidah menggandeng Sumrambah. Mereka menggunakan 'kendaraan' PPP (4 kursi), Partai Demokrat (6 kursi) serta Partai Gerindra (2 kursi). Selain itu juga didukung partai non parlemen, yakni Perindo.

Satu pasangan lagi relatif baru dalam lanskap politik di Jombang adalah M Syafiin-Choirul Anam (Syahrul). Pasangan tersebut diusung oleh PDIP (9 kursi) dan Partai Hanura (2 kursi). Syahrul juga didukung partai non parlemen, PKPI dan PBB. [suf]

Komentar

?>