Minggu, 24 Juni 2018

Tanwir I Aisyiah Resmi Ditutup, Ini Poin-poin Keputusannya

Minggu, 21 Januari 2018 18:51:35 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Tanwir I Aisyiah Resmi Ditutup, Ini Poin-poin Keputusannya

Surabaya (beritajatim.com) - Tanwir Aisyiyah I yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya resmi ditutup, Minggu (21/1/208).

Ketum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantin mengatakan, tanwir bertema 'Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Pilar Kemakmuran Bangsa' itu menghasilkan 13 rekomendasi.

"Alhamdulillah Tanwir I Aisyiyah resmi ditutup hari ini, terdapat 13 rekomendasi yang akan menjadi prioritas dalam menentukan langkah di seluruh pimpinan wilayah se-Indonesia," terang Ketum PP Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantin.

Menurutnya, dalam musyawarah yang digelar selama tiga hari itu, Aisyiah akan lebih menguatkan akar rumput, karena tanwir merupakan upaya penguatan masyakarat madani, menuju pada kehidupan yang lebih baik.

"Selain itu, kami juga menitikberatkan pada permasalahan pernikahan dini. Pasalnya, kemajuan sebuah negara itu berawal dari keberhasilan membangun rumah tangga yang nantinya bisa berdampak pada kemajuan sebuah negara," ungkapnya.

Terlebih, tambahnya. Perkawinan dini di Indonesia lebih cenderung pada perceraian. Sehingga berdampak pada kemiskinan.

"Ya nantinya topik itu akan ada pembahasan Fiqih perlindungan perempuan dan anak, dan akan dibawah pada munas tarjih, sehingga nanti para anggota Aisyiyah lebih perhatian kepada para anak-anaknya. Kenapa demikian karena hal itu sangat jelas dampaknya," paparnya.

Ia mengungkapkan, kesimpulan besar yang ketiga adalah mendesak pemerintah untuk segera merubah sistem kebijakan yang lebih condong pada pemilik modal sebagai penguasa. "Dan kami juga akan mendesak agar persentasenya lebih berpihak pada masyarakat," tandasnya.

Sementara itu, tuan rumah Tanwir I Aisyiyah Rektor UM Surabaya Sukadiono berharap, dalam keputusan itu dapat mengurai permasalahan krusial dalam kehidupan bangsa Indonesia.

"Semoga permasalahan seperti perekonomian, kemiskinan, kesenjangan sosial, penguasaan kekayaan negara oleh sekelompok kecil masyarakat, dan sebagainya. Dalam keadaan yang demikian usaha-usaha pemberdayaan ekonomi rakyat dengan kondisi kehidupan mayoritas rakyat pada umumnya makin  mudah untuk diwujudkan," urainya.

Ia menerangkan, sebagai salah satu amal usaha dari Muhamadiyah, berharap juga mampu beriringan untuk mewujudkan kemakmuran bangsa dan pemecahan atas masalah-masalah ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat, di antaranya diperlukan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan.

"Perempuan merupakan kekuatan potensial dalam pembangunan dan kemajuan bangsa, termasuk untuk menjadi pelaku (aktor) gerakan pemberdayaan ekonomi," terangnya.

Ia menambahkan, dengan etos kerja dan kegigihan itulah perempuan akan menjadi kekuatan strategis dalam gerakan pemberdayaan ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran bangsa.

"Bersamaan dengan itu, karena mayoritas perempuan dalam sejumlah hal sering mengalami pelemahan maka diperlukan usaha-usaha pemberdayaan perempuan, khususnya dalam ekonomi, sehingga membawa dampak positif langsung bagi kemakmuran bangsa," harapnya. [ito/suf]

Berikut Poin-poin Hasil Keputusan Tanwir I Aisyiyah di Surabaya :


1. Meneguhkan posisi dan peran ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan muslim yang progresif dalam mengawali langkah abad kedua dengan  berpijak pada paham keagamaan Muhammadiyah yakni pandangan Islam Berkemajuan untuk menjalankan misi dakwah dan tajdid pencerahan serta berkiprah dalam menyelesaikan problem keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal secara lebih proaktif dan dinamis.

2. Meneguhkan dan memperluas dakwah praksis di komunitas (jamaah) untuk menyelesaikan berbagai permasalahan keumatan dan kebangsaan dalam rangka pemenuhan hak-hak dasar warga negara dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, ekonomi dan layanan sosial sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan yang sempurna disertai dengan penguatan cabang dan ranting sebagai basis gerakan dakwah di akar rumput.

3. Penguatan institusi keluarga berbasis nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menumbuhkan interaksi dan sikap saling menghargai, berkeadilan, mu’asyarah bil maruf, berkasih sayang dalam rangka membangun keluarga sakinah yang mampu menghadapi perubahan sosial dan menjadi pilar bangsa yang berkemajuan.

4. Perkawinan anak yang masih terjadi di masyarakat merupakan masalah serius yang menjadi keprihatinan dan harus menjadi komitmen bersama untuk mencegah dan menyelesaikannya. Masalah tersebut akan berdampak buruk berupa ketidaksiapan anak baik secara mental, fisik, dan ekonomi serta dalam menjalankan kehidupan keluarga sehingga tidak bisa bertanggung jawab serta akan menghadirkan generasi yang tidak berkualitas.

5. Penguatan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai jihad dakwah melalui program-program praksis ekonomi dalam menjawab kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi untuk mewujudkan keadilan, kemandirian dan  kemakmuran bangsa. Oleh karena itu pemerintah harus sungguh-sungguh menjalankan sistem perekonomian yang berpihak pada rakyat sesuai mandat konstitusi.  

6. ‘Aisyiyah dengan tetap berpijak pada khitah dan kepribadian Muhammadiyah dituntut meningkatkan kiprahnya dalam mendorong proses Pilkada dan Pemilu yang berkualitas dan bermartabat melalui pendidikan politik dan promosi kader-kader yang berintegritas untuk menghasilkan pimpinan yang amanah serta berpihak pada kepentingan rakyat dan bangsa.


7. Meningkatkan posisi dan peran ‘Aisyiyah dalam mendorong keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan di tingkat desa sampai dengan nasional sebagai bagian dari dakwah kebangsaan ‘Aisyiyah dan memperkuat masyarakat madani.

8. Menggerakkan kepemimpinan ‘Aisyiyah yang transformatif dan berkemajuan berbasis nilai-nilai kepribadian Muhammadiyah. Kepemimpinan ‘Aisyiyah diseluruh tingkatan dituntut untuk menggerakan dan mendinamisasi organisasi sehingga membawa pada kemajuan untuk memberi kemaslahatan yang terbaik bagi umat dan bangsa.


9. Memasuki Abad Kedua, ‘Aisyiyah dituntut melakukan dinamisasi dan transformasi dalam gerakannya, dengan modal sosial dan amal usaha ‘Aisyiyah dimilikinya, maka segala usaha ‘Aisyiyah harus dikelola secara berkelanjutan serta ditingkatkan dan dikembangkan disertai dengan melakukan inovasi amal usaha baru sebagai pilar strategis gerakan ‘Aisyiyah.

10. Meneguhkan dan menyebarluaskan dakwah pencerahan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah dengan paham Islam Berkemajuan yang menumbuhkan sikap wasithiyah sesuai dengan ideologi Muhammadiyah untuk mengatasi paham keagamaan yang cenderung mengeras dan konservatif.

11. Korupsi merupakan kejahatan kemanusiaan dan telah merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Oleh karena itu korupsi harus diberantas dengan tindakan hukum yang memberikan efek jera bagi siapapun pelakunya tanpa tebang pilih. Pemberantasan korupsi harus menjadi gerakan perempuan Berkemajuan melalui pembentukan kharakter baik dalam keluarga maupun masyarakat.

12. Permasalahan kemanusiaan dan konflik politik global akan mengancam perdamaian dunia dan menciderai nilai-nilai kemanusiaan seperti tragedi kemanusiaan dan konflik di Rohingya dan Palestina dan secara khusus berdampak pada kehidupan perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu pemerintah dan elit politik harus bersikap tegas, bertindak dan berjuang melakukan usaha-usaha perdamaian dunia.

13. Menetapkan hasil sidang komisi menjadi bagian keputusan yang tidak terpisahkan dari keputusan Tanwir 1 ‘Aisyiyah yang diselaraskan dengan hasil keputusan Muktamar 47 dan kebijakan dasar organisasi

Tag : muhammadiyah

Komentar

?>