Sabtu, 20 Oktober 2018

Yang Perlu Diketahui dari Pilgub Jatim 2018 (10)

Kamis, 18 Januari 2018 19:32:29 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Yang Perlu Diketahui dari Pilgub Jatim 2018 (10)
Ainur Rohim, Penanggung jawab beritajatim.com.

Surabaya (berijatim.com)--Pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim 2018 menyimpan banyak data dan fakta penting yang sayang dilewatkan begitu saja. Apa data dan fakta dimaksud? Berikut laporannya secara bersambung.

Nasab, nisab, dan nasib. Apa hubungannya 3 kosa kata itu dengan perhelatan politik, terutama Pilgub Jatim 2018? Memang tak ada hubungan secara langsung. Dari 2 pasangan cagub-cawagub Jatim di pilgub sekarang, ada 2 figur dengan nasab (keturunan) 'darah biru' di gelanggang politik. Keduanya adalah Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarnoputra.

Saifullah Yusuf (Gus Ipul) merupakan kader NU yang memiliki garis nasab dengan KH Bisri Syansuri, pendiri Pondok Denanyar, Jombang. Kiai Bisri yang nenek-moyangnya berasal dari Kabupaten Pati, Jateng adalah Rais Aam PBNU ketiga setelah KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Kiai Bisri masih memiliki jalinan kekerabatan dengan KH Wahab Chasbullah, pendiri Pondok Mambaul Ma'arif Tambakberas, Jombang dan sempat berguru sebagai santri kepada Kiai Hasyim Asy'ari di Pondok Tebuireng, Jombang.

Kiai Bisri dikenal sebagai ulama dengan pengetahuan dan wawasan fiqih yang komprehensif. Kiai Bisri, kakek Gus Dur dari garis ibu, ini termasuk kiai NU yang kokoh pendiriannya di lapangan agama, terutama penerapan hukum fiqih, di lapangan sosial kemasyarakatan.

Ketika awal mula kelahiran PPP, Kiai Bisri diposisikan semacam pimpinan majelis syuro di lembaga politik tersebut. Kiai ini yang memberikan ide dan restu agar lambang PPP adalah Ka'bah.

Dikenal sebagai ulama-politikus yang istiqomah dalam penegakan hukum fiqih dalam konteks kemasyarakatan dan kenegaraan, maka tak heran saat pembahasan RUU Perkawinan pada awal 1970-an, politikus PPP sempat melakukan aksi walk out (WO), karena tak sepakat dengan draft usulan RUU Perkawinan yang diajukan pemerintah.

Realitas dan langkah politik yang dijalankan elite dan politikus PPP di DPR RI itu tak bisa dilepaskan dari pengaruh dan pandangan Kiai Bisri yang kurang sepakat dengan sejumlah ketentuan dalam RUU Perkawinan itu.

Sebagai ulama dan politikus yang berpikiran dan berperilaku lurus serta istiqomah dalam berpendapat, Kiai Bisri sangat disegani dan dihormati kiai-kiai NU lain maupun rezim Orde Baru Soeharto. Kiai Bisri sempat terpilih sebagai Rais Aam PBNU ketika Kiai Wahab masih hidup.

Karena penghormatannya yang begitu tinggi kepada Kiai Wahab, dia tak mau menerima dan memegang jabatan itu serta mempercayakan jabatan Rais Aam PBNU kembali kepada Kiai Wahab. Kiai Bisri tak mau berebut jabatan dengan kiai seniornya tersebut. Itulah sedikit gambaran tentang garis nasab Saifullah Yusuf dalam bingkai besar kiai dan elite NU di Indonesia.

Bagaimana dengan Puti Guntur Soekarnoputra? Garis nasab Puti Guntur sangat jelas. Dia salah satu cucu Bung Karno, proklamator, presiden pertama RI, dan penggali serta perumus Pancasila dan Marhaenisme di Indonesia. Ayahnya Guntur Soekarnoputra merupakan putra sulung Bung Karno dari ibu Fatmawati, anak seorang tokoh Muhammadiyah, di Provinsi Bengkulu.

Dalam diri Bung Karno mengalir darah Muhammadiyah dan Nasionalisme, karena sang proklamator itu pernah menjadi anggota ormas Islam Modernis yang didirikan KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta tersebut.

Walaupun demikian, Bung Karno memiliki kedekatan pribadi dan pemikiran politik dengan banyak tokoh dan kiai NU. Semasa perang kemerdekaan, KH Hasyim Asy'ari dan anaknya, KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur) adalah tokoh dan sahabat Bung Karno yang sangat dekat. Kiai Hasyim boleh dikatakan sebagai penasihat Bung Karno dan Kiai Wahid adalah sahabat dan mitranya di BPUPKI, PPKI, dan Panitia 9 ketika merumuskan dasar negara Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Relasi sosial dan politik yang dekat kiai dan tokoh NU dengan Bung Karno makin meningkat ketika demokrasi terpimpin dijalankan dalam praktek kenegaraan kita di era 1959-1966. Bung Karno diberi gelar oleh kiai-kiai NU sebagai pimpinan negara yang mesti dipatuhi kebijakan dan langkah-langkahnya.

Dalam perspektif politik aliran di Indonesia, meminjam terminologi Clifford Geertz, Bung Karno diposisikan sebagai tokoh sentral kaum Nasionalis di Indonesia. Di level sosial kemasyarakatan, kaum Nasionalis itu bisa berasal dari kalangan priyayi dan kawula abangan. Sedangkan NU merupakan representasi kekuatan Islam Tradisional yang secara sosiologis anggotanya merupakan kaum santri yang sebagian besar bermukim di kawasan pedesaan Pulau Jawa.

Bagaimana dengan Khofifah Indar Parawansa dan Emil E Dardak? Dari perspektif garis nasab, keduanya dari kalangan warga pada umumnya (rakyat biasa/kawula). Ada satu catatan tentang Emil E Dardak, di mana ayahandanya, Hermanto Dardak, adalah seorang birokrat karir dan intelektual yang memiliki kompetensi tinggi di bidang ke-PU-an. Hermanto Dardak sempat menduduki jabatan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) di era Kabinet Presiden SBY-Wapres Budiono.

Di sisi lain, Khofifah yang asli Kota Surabaya, memiliki jalinan nasab ideologi ke-NU-an yang kuat dari keluarga besarnya. Ada kerabatnya menjadi politikus dari parpol yang memiliki jalinan historis, kultural, dan sosiologis dengan NU.

Kedekatan Khofifah dengan NU bukan sekadar dari garis nasab, tapi lebih bersifat ideologis. Sejak berkuliah di FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Khofifah sudah aktif di PMII, organisasi kemahasiswaan dan ekstrakurikuler yang memiliki jalinan organisatoris dengan NU.

PMII merupakan sayap organisasi yang mewadahi aktivis NU di kampus, yang memegang teguh nilai-nilai Aswaja dalam menapaki medan perjuangannya.

Itulah sekilas tentang garis nasab pada tokoh yang terjun di Pilgub Jatim 2018. Sebenarnya masih banyak perspektif lain yang bisa diangkat dalam memotret keempat tokoh yang terlibat dalam kontestasi politik ini. Namun demikian, saya memandang bahwa 10 artikel bersambung tentang Pilgub Jatim 2018 cukup memberikan wawasan dan pengetahuan dasar bagi konstituen dan warga Jatim pada umumnya dalam memahami perhelatan politik ini. Artikel ke-10 ini merupakan seri terakhir dan semoga ada guna serta manfaatnya. [air/habis]

Penulis adalah Penanggung jawab beritajatim.com

Tag : pilgub jatim

Komentar

?>