Kamis, 23 Nopember 2017

DLH: Sarpras di Kawah Ijen Itu Perlu, Tapi...

Kamis, 09 Nopember 2017 23:41:32 WIB
Reporter : Rindi Suwito
DLH: Sarpras di Kawah Ijen Itu Perlu, Tapi...
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Husnul Chotimah

Banyuwangi (beritajatim.com) - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Husnul Chotimah menanggapi pembangunan fasilitas di puncak Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Menurutnya, penambahan bangunan fisik berupa sarana dan prasarana dinilainya perlu. Tapi, harus diikuti oleh kajian teknis, dampak lingkungan dan fisibility studi-nya.

"Saya rasa bangunan itu harus ada AMDAL, karena perlu diketahui kawasan ijen kawasan volcanologi, kawasan gunung api aktif serta di dalam kawasan konsevasi. Sarana dan prasarana itu perlu dan harus kita cukupi. Kita juga tidak menolak itu, tapi teknis bangunan dan disesuaikan dengan kondisinya," kata Husnul, Kamis (9/11/2017)

Sejauh ini, DLH tak meberikan keterangan menolak atau menyetujui pembangunan itu. Karena, diakui DLH belum pernah tahu bagaimana nilai positif atau dampak negatif pembangunan tersebut.

"Kita itu menolak karena belum tahu ya, bagaimana kaidah manfaatnya seperti apa, kalau merusak sejauh mana dampaknya. Kita juga tidak apatis tentang masukan dari warga, kita juga tidak mendiamkan laporan itu," terangnya.

Tapi anehnya, kata Husnul, pihaknya tak pernah mendapat undangan ataupun diminta kordinasi dengan BKSDA mengenai pembangunan itu. Bahkan, hingga bangunan telah berdiri 60 persen.

"Berkali-kali saya tegaskan dalam hal ini kami tidak pernah diundang. Termasuk rapat-rapat kerja di wilayah tidak diajak, juga termasuk di wilayah Bondowoso," ucapnya

"Pemberitahuan lisan memang sudah tapi tidak detail, bahkan dikatakan saat bersama Wabup di Lounge ini. Kami belum mendapat kajian lingkungan tertulis dan klarifilasi secara tertulis mengenai teknis dari BKSDA selaku pemilik kegiatan," imbuhnya.

Husnul menyebut, pihaknya tak pernah terlibat dalam hal ini. "Kordinasi ke LH belum, kajian apa? Oke taruhlah AMDAL, itu mungkin kajian paling akhir ya, paling tidak fisibility studi atau studi kelayakannya itu seperti apa? jangan sampai bangunan merusak yang sudah ada," ungkapnya.

Meksipun, lanjut Husnul, di dalam tata alam itu terdapat kawasan publik dan usaha. Di mana, di dalamnya ada yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan.

"Saya tertarik yang dikatakan para adik-adik mahasiswa tadi, kami tidak menolak pembangunan. Tapi setidaknya harus disesuaikan dengan tekstur lahannya, tempatnya," terangnya.

Sementara itu, Balai Besar KSDA Propinsi Jawa Timur telah melakukan pembangunan fasilitas berupa mushola, pendapa, toilet dan pagar keamanan di puncak Kawah Ijen mulai tahun 2017 - 2018. Hal itu merupakan bentuk untuk pelayanan Kementrian LHK (BBKSDA) untuk melaksanakan UU 5 Tahun 1990.

Biaya pembangunan ini berasal dari APBN Kementerian LHK, dan merupakan realisasi prioritas pembangunan nasional. Tujuan pembangunan itu untuk memberikan keamanan, kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat atau wisatawan. [rin/suf]

Komentar

?>