Kamis, 23 Nopember 2017

BKSDA : Pembangunan Fasilitas di Kawah Ijen Tetap Lanjut

Kamis, 09 Nopember 2017 09:47:28 WIB
Reporter : Rindi Suwito
BKSDA : Pembangunan Fasilitas di Kawah Ijen Tetap Lanjut

Banyuwangi (beritajatim.com) - Kepala Balai Besar Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Ayu Dewi Utari mengatakan tetap sesuai dengan rencana akan melanjutkan pembangunan di puncak Kawah Ijen. Alasannya, anggaran untuk pembangunan itu telah turun bahkan telah ditetapkan pada periode sebelumnya.

"Anggarannya tahun 2016 sudah jalan, bahkan 2014 sudah direncanakan. Tapi memang tahap ekseskusinya baru 2017 ini dilakukan," jelasnya.

Andai saja, kata Ayu, pembangunan ini dihentikan dampaknya negara akan menjadi merugi. Terlebih pembangunan yang menelan anggaran Rp 5 M itu telah selesai 60 persen.

"Dampaknya negara akan merugi, ini udah hampir 60 persen. November akhir ini diharapkan sudah selesai pembangunan. Tahun ini anggarannya Rp 5 M, maka tahun depan kita harusnya bisa mendapat Rp 8 M," katanya.

Lalu bagaimana dengan adanya penolakan dari sejumlah warga? Ayu menjawab ini bisa menjadi pertimbangan untuk tahun depan.

"Kalau dihentikan tahun depan tidak ada pembangunan lagi, dampaknya di bawah juga tidak akan ada anggaran untuk pembangunan. Anggarannya kita alihkan ke tempat lain. Dan di Paltuding kita biarkan kumuh seperti ini," ucap Ayu dengan nada keras.

Terlebih yang menjadi patokan hukum pembangunan itu sudah cukup jelas. Yakni Peraturan Menteri (Permen) LH Nomor 5 Tahun 2012 dan Undang-undang 32 Tahun 2010.

"Ini termasuk prioritas nasional untuk pengembangan jadi alokasi untuk pembangunan. Jadi kami harus mempertanggungjawabkan, saya sangat tidak terima kalau dikatakan kami mengambil ini sebagai kekuatan kami untuk meraup proyek," ujarnya.

Dalam tata alam, lanjut Ayu, ada dua blok yang dapat dilakukan pemanfaatan. Yakni blok publik dalam hal ini adalah negara dan blok usaha yang pembangunannya dilakukan oleh penyedia jasa atau investor.

"Paltuding ke atas itu blok publik dilakukan pembangunan disitu oleh negara bagi masyrakat, Blok usaha dilakukan pembangunan di situ untuk sarana dan prasarana oleh para penyedia jasa," tegasnya.

Bahkan, Ayu menyebut, pembangunan berupa fasilitas ibadah, tempat peristirahatan, toilet dan pembangunan sarana keamanan itu dalam kajian yang matang. Ada tim internal yang telah melakukan kajian untuk pembangunan tersebut.

"Pembangunan itu, manfaatnya bagi alam pasti ada. Bagaimana kalau anda membuang ranjau sembarangan di sana itu pasti juga menjadi catatan. Dan itu sampean pasti akan dibatasi untuk tidak jalan-jalan sampai ke cagar alam," ucapnya.

Ayu juga berkali-kali menegaskan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada sejumlah pihak mengenai hal ini. Bahkan, pihaknya bersama tim telah melakukan tanya jawab langsung kepada para pengunjung atau wisatawan.

"Jadi kami ini setiap hari dimarahin orang, baik pemerintah Bondowoso maupun Banyuwangi, mulai dari negara semua terkait ini. kami berfikir kok, kami nggak akan mengorbankan alam kok, kami nggak akan 'se-tolol' itu untuk mengeksploitasi alam kok," katanya.

Meskipun hingga kini menuai protes, tegas Ayu, bagaimanapun juga demi dalih keamanan pembangunan tetap dilakukan. Karena menurutnya, selalu ada pro dan kontra setiap ada pembangunan berlangsung. Meskipun banyak pertanyaan minimnya sosialisasi yang dilakukan mengenai pembangunan itu.

"Sekali lagi, sejak 2014 masterplan nya ini sudah jadi Detail Enginering Desain juga dan sudah di overly kan, disinergikan jadi tidak seketika dan sudah panjang prosesnya. Sosialisasi sudah dilakukan ke semua pihak, aku nggak hafal mas, kalau menyebut satu persatu aku nggak hafal," jawabnya.

Padahal sebelumnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan kesulitan untuk memberikan bantuan pembangunan fasilitas di kawasan lereng Ijen. Bahkan, untuk sekedar memperbaiki toilet di rest area Paltuding.

"Oh itu, jadi kemarin itu memang ada perubahan aturan di kementerian sendiri sehingga itu kita belum ada anggaran sendiri mas, tapi waktu itu akan dibantu oleh BUMN, tapi karena ada aturan di kementerian sehingga proses itu agak panjang dan akan direalisasi akhir tahun ini," ungkapnya.

Sebenarnya, tanggapan Bupati Anas mengenai pembangunan fasilitas itu juga bertolak belakang. Karena, Anas menyayangkan adanya pembangunan itu. Bahkan, beberapa waktu lalu Dia menyebut tidak pernah diajak komunikasi soal pembangunan di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen itu.

Sejumlah gelombang protes telah dilayangkan mengenai pembangunan itu. Mulai dari warga, petani, pelaku wisata maupun pecinta lingkungan.

Namun realisasinya, BKSDA tetap membangun bangunan di puncak gunung yang memiliki api biru itu. Bangunan fisik tersebut berupa pagar pembatas sepanjang 150 meter, tinggi 80 centimeter, bangunan mushala 3x6 Meter, pendapa 3x9 serta toilet 2 pintu. [rin/suf]

Komentar

?>