Kamis, 23 Nopember 2017

Ekspor Tembakau Cerutu Jember Masih Berprospek, Tapi...

Minggu, 05 Nopember 2017 21:44:07 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Ekspor Tembakau Cerutu Jember Masih Berprospek, Tapi...

Jember (beritajatim.com) - Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengujian Sertifikasi Mutu Barang – Lembaga Tembakau Jember Siti Andriati Widartin mengatakan, ekspor tembakau cerutu ke Eropa masih memiliki prospek.

"Selama produk kita memenuhi persyaratan. Salah satunya kandungan residu pestisida pada komoditas tembakau. Selama masih di bawah ambang batas, masih diperkenankan. Tapi ke depan harus zero," kata Andriati.

Menurut Andriati, jika para petani tembakau mau bermitra dengan eksportir, maka kendala akan terkurangi. "Apa yang dimaui pabrikan di luar negeri akan terpenuhi," katanya.

UPT PSMB-LTJ mengawal dengan menguji kandungan residu pestisida. "Kami didukung Pak Gubernur, tahun depan kami akan bisa melakukan uji residu pestisida sebagaimana yang jadi persyaratan para customer," kata Andriati.

UPT tersebut berada di bawah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 103 Tahun 2016, yakni melakukan pengujian dan sertifikasi mutu barang. UPT sudah memiliki laboratorium penguji mutu dan terakreditasi. "Bahkan rokok sudah bisa kami uji kandungan tar dan nikotinnya. Banyak pabrik rokok kecil yang mengujikan kepada kami, karena murah. Kami juga menguji kandungan tembakau," kata Andriati.

Para petani tembakau Besuki Na Oogst harus beradaptasi dalam hal budidaya dan pengendalian hama penyakit. "Kalau menggunakan pestisida berlebihan dan residunya melebihi standar ambang, ya akan jadi masalah, tembakau akan tersimpan di eksportir. Kemitraan ini yang sebaiknya digalakkan antara petani dengan eksportir," kata Andriati.

Dari sisi kuantitas, Andriati mengakui, terjadi penurunan kuantitas tembakau cerutu Besuki Na Oogst sejak 2015. "Petani lesu, karena terkena abu vulkanik Gunung Raung. Permasalahannya kompleks," katanya.

Kelesuan ini sebenarnya lanjutan dari kelesuan yang sejak lama terjadi, setelah pasar lelang Bremen, Jerman, tutup. Banyak eksportir yang tutup, sehingga petani pun memilih tak lagi menanam tembakau cerutu. Apalagi belakangan kualitas menurun. "Tahun 2016 mereka mau menanam, cuaca tidak mendukung. Tahun 2017 mereka mulai menanam," kata Andriati. [wir/but]

Komentar

?>