Sabtu, 16 Desember 2017

DPRD Surabaya Dukung Proyek Trem Wali Kota Risma

Selasa, 31 Oktober 2017 18:17:32 WIB
Reporter : Arif Fajar Ardianto
DPRD Surabaya Dukung Proyek Trem Wali Kota Risma

Surabaya (beritajatim.com) – Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Surabaya mendukung rencana pembangunan angkutan massal cepat “trem”, asalkan melibatkan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dalam pengelolaannya. 

Ketua Komisi C, Syaifudin Zuhri, Selasa (31/10/2017) menegaskan, pelibatan BUMD dalam pengelolaan moda transportasi trem, agar tidak ada monopoli swasta.

“Kalau BOT (build, operate, transfer) kuatirnya rugi, jika sudah jadi rongsokan diberikan ke kita,” paparnya

Syaifudin mengharapkan, keterlibatan pemerintah kota tersebut di antaranya dalam pelayanan, sistem pengawasan, sekaligus  transfer pengetahuan dan keahlian.

“Pemerintah punya bargaining karena menaruh investasi,” katanya

Dengan pelibatan BUMD dalam pengelolaan, menurutnya, membuat BUMD mempunyai pemahaman tentang pengelolaan angkutan massal atau bahkan sebagian kebijakan bisa diambil oleh BUMD.

Politisi PDIP ini menegaskan, apabila sekadar menerima pelayanan dari pihak pengelola swasta, pemerintah kota tak punya keberpihakan kepada masyarakat, apabila ada penaikan harga tiket.

“Karena jika berkaitan dengan transportasi, pemerintah bertanggung jawab kepada masyarakatnya,” katanya

Sebelumnya, 23 – 30 Oktober, sebanyak delapan anggota Komisi C DPRD, bersama perwakilan pemerintah kota Surabaya telah melakukan kunjungan kerja ke Frankfurt, Jerman guna mengetahui manajemen dan pengoperasian angkutan massal cepat, berupa trem dan bushway.

Syaifudin Zuhri mengakui, pelayanan transportasi massal diperlukan untuk memenuhi kebutuhan publik. Dari pantauan kalangan dewan di Frankfurt, kawasan pemukiman dan perkantoran semuanya terkoneksi dengan angkutan massal. Sehingga ada ketepan waktu.

“Karena semua penjuru dilewati trem dan bushway,” tuturnya

Ia mengungkapkan, sebenarnya dari sisi estetika, dengan adanya trem kondisinya terkesan ruwet, karena banyaknya kabel udara dan lajur–lajur khusus angkutan massal. Namun demikian, Syaifudin mengakui, bahwa kesadaran masyarakat di salah satu kota di Jerman tersebut kesadarannya tinggi.

“Penduduknya hanya 200 ribu. Sedangkan kita penataan estetika saja merupakan  masalah yang  sulit,“ ujar pria yang akrab disapa Ipuk ini.

Namun demikian, Syaifudin menyebutkan dengan adanya gagasan Walikota Tri Rismaharini untuk membangun trem, konsekuensinya membutuhkan penyadaran masyarakat untuk merubah kebiasaan. Sedangkan sisi positifnya, pemerintah kota bisa memenuhi pelayanan dan penyediaan sarana dan prasarana angkutan, terutama untuk ketepatan waktu.

“Di Surabaya jumlah kendaraan sudah tak terhitung, belum lagi urbannya,” paparnya

Ketua Komisi C ini mengakui, dengan beroperasinya trem, konsekuensinya harus ada pembatasan kendaraan pribadi atau angkutan lain yang melewati sekitar jalur trem pada waktu tertentu. Rekayasa lalu lintas tersebut diperlukan agar kepentingan masyarakat tak terganggu.

“Ketika tidak ada pembatasan kendaraan bisa crossing sehingga menimbulkan kecelakaan,” tandasnya. [rif/but]

Tag : trem

Komentar

?>