Selasa, 21 Nopember 2017

Ketua MPR:

Kiai Hasyim Tokoh Penting yang Lahirkan Nasionalisme

Minggu, 22 Oktober 2017 00:10:21 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Kiai Hasyim Tokoh Penting yang Lahirkan Nasionalisme

Jombang (beritajatim.com) - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Zulkifli Hasan menilai Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari adalah di antara tokoh terpenting yang melahirkan nasionalisme. Pemikiran dan seruan KH Hasyim Asy'ari tentang nasionalisme, menurut Zulkifli, bahkan menjadi jargon yang sangat mempengaruhi kehidupan dan pemikiran umat Islam di tanah air.

"Jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman), yang ditegaskan lagi dengan seruan Resolusi Jihad, menjadi pegangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dengan pekikan takbir," ungkap Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini saat menjadi Keynote Speaker pada seminar yang digelar Pusat Kajian Pemikiran KH. M. Hasyim Asy'ari di Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (21/10/2017).

Ia menyebut, Kiai Hasyim adalah orang yang secara formal menyerukan Resolusi Jihad, yang menjadi pegangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dengan pekikan takbir pada waktu itu. "Tanpa jargon yang dilontarkan KH Hasyim Asy'ari tersebut, mungkin kita tidak akan pernah mendengar orasi berapi-api dari Bung Tomo dengan pekikan Allohu Akbar, yang menggelorakan semangat Arek-arek Suroboyo untuk melakukan perlawanan," tegasnya.

Karena jargon tersebut, imbuh Zulkifli, umat Islam di seantero nusantara saat itu memiliki pemahaman yang baru, bahwa berjuang untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan juga termasuk dalam kategori jihad dan berstatus hukum fardlu 'ain alias wajib atas setiap muslim.

Dalam jargon itu, tampak sekali bahwa Kiai Hasyim menjadikan Islam sebagai landasan dan spirit bagi konsepsi nasionalisme. "Islam menjadi modal pergerakan yang mampu memobilisasi sangat banyak orang tanpa rasa takut. Dan, hanya ulama sekelas Mbah Hasyim-lah yang memiliki kapasitas untuk melakukan itu," tegasnya.

Pria kelahiran Lampung ini menegaskan, jika bukan ulama sekelas Kiai Hasyim, jargon tersebut pasti akan dianggap ahistoris dan kurang memiliki landasan serta sumber-sumber otoritatif dalam Islam. "Namun, karena Kiai Hasyim yang melontarkannya, maka tidak ada yang berani mengatakan demikian. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa jargon hubbul wathan minal iman tersebut adalah hadits," ulasnya.

Suami dari Soraya ini juga mengagumi artikulasi pemikiran Kiai Hasyim tentang nasionalisme. Bahwa agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan.

Ia menuturkan, gagasan dan langkah Kiai Hasyim juga tercermin dalam langkah putranya, KH Wachid Hasyim saat menjadi anggota BPUPKI dan perumusan Pancasila. "Dengan segala dinamikanya, Pancasila akhirnya disepakati menjadi landasan falsafah bernegara kita. Siapapun tidak akan pernah bisa mengingkari bahwa keseluruhan sila Pancasila sangat selaras dengan agama. Terutama dengan agama Islam," tuturnya.

Karena itu, dia menegaskan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa prinsip-prinsip dalam keseluruhan sila Pancasila sesungguhnya adalah perasan dari doktrin dasar Islam yang ditransformasikan ke dalam konsepsi dasar bernegara kita.

Terakhir, dia berharap umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia harus menjadi pelopor kemajuan dan keutuhan NKRI. "Saya berharap, Pusat Kajian ini dapat mempersatukan umat Islam dan menjadi pelopor memersatukan umat Islam yang beragam," pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Hasyim Asy'ari yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid menuturkan, Pusat Kajian Pemikiran KH. M. Hasyim Asy'ari didirikan untuk menelaah dan mengkaji serta mengaktualisasikan kembali pemikiran-pemikiran KHM Hasyim Asy'ari. Hadir dalam seminar tersebut, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi, mantan Menteri Agama KH. Tolchah Hasan dan pakar sejarah Ali Haidar. [suf/but]

Tag : nu

Komentar

?>