Selasa, 16 Oktober 2018

Bakesbangpol Jatim Gelar Jagongan Antisipasi Radikalisme dan Aksi Terorisme

Kamis, 19 Oktober 2017 21:29:06 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Bakesbangpol Jatim Gelar Jagongan Antisipasi Radikalisme dan Aksi Terorisme

Surabaya (beritajatim.com) - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Timur gelar talkshow sederhana bertajuk Antisipasi Radikalisme dan Aksi Terorisme di Jawa Timur.

Kepala Bakesbangpol Jatim, Drs. Ec. Jonathan Judianto, mengatakan bahwa permasalahan besar yang tengah dihadapi bangsa adalah kasus narkoba, terorisme dan radikalisme.

Ia mengungkapkan permasalahan paham radikal merupakan paham yang dibuat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan secara cepat, namun menggunakan cara yang salah yakni teror maupun kekerasan.

“Biasanya orang radikal itu mengalami konstruksi berfikir yang terganggu dan memiliki keyakinan bahwa pahamnya adalah yang paling benar dan yang bersebrangan adalah salah,” jelasnya.

Pengamat Politik Universitas Airlangga, Hari Fitrianto menambahkan menurut data survei dari Wahid Institut terdapat tujuh persen masyarakat yang beragama Islam memiliki paham radikal dan siap memerangi orang yang berbeda serta berseberangan.

“Ini angka yang cukup besar. Meski masih dalam bentuk riset ini adalah potensi dan bibit radikal,” terangnya.

Dimoderatori Kepala Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo. Diskusi yang melibatkan akademisi Universitas Airlangga dan UIN Sunan Ampel Surabaya dan pengunjung warung mbah Cokro itu berlangsung hangat dan antusias.

Dekan FISIP UIN Sunan Ampel Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA, M.Phil, Ph.D.,  mengatakan bahwa segi konsep radikal itu biasanya  terjadi pada orang yang memiliki pemikiran secara dalam, namun tidak ada kebenaran pada orang lain.

“Lebih parahnya adalah yang tidak sepemikiran akan diperangi. Tidak hanya berbeda. Bahkan yang menghalangi mereka juga,” tandasnya.

Perwakilan Departemen Antropologi Unair, Linggar Rama Dian Putra, MA., mengatakan,  sikap cuek dan tidak mau saling kenal ditengarai menjadi salah satu sebab lahirnya bibit-bibit radikal.

"Potensi lahirnya radikalisme salah satunya didorong oleh cara hidup masyarakat. ditambah saat ini informasi mengenai radikalisme sangat mudah di dapat dari dunia maya," tutur Linggar.

Tidak berperannya budaya, tambahnya. Maka dapat memantik munculnya radikalisme di kalangan masyarakat. "Solusinya adalah selalu berkomunikasi dan saling tegur sapa, karena orang dalam kondisi tereksekusi budaya ini yang sangat berpotensi untuk disusupi menjadi terorisme,” jelas Linggar. (ito/ted)

Tag : terorisme

Komentar

?>