Kamis, 19 Oktober 2017

Lereng Ijen Banyuwangi Ditanami Kentang Hasilnya Ratusan Ton

Jum'at, 13 Oktober 2017 18:58:16 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Lereng Ijen Banyuwangi Ditanami Kentang Hasilnya Ratusan Ton

Banyuwangi (beritajatim.com) – Gunung Kawah Ijen di Banyuwangi tak hanya pesona alamnya yang indah. Tapi juga bermanfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Selain memanfaatkan kekayaan alam untuk pariwisata, warga juga mendapat hasil dari pertambangan belerang. Tapi baru-baru ini, warga lereng ijen khususnya di Dusun Bawonan, Desa Tamansari, Kecamatan Licin juga mendapat pernghasilan lain.

Mereka memanfaatkan jeda hutan tanaman industri di lereng ijen dengan menanam tanaman kentang. Hasilnya cukup lumayan, dari pemanfaatan lahan tersebut ratusan ton kentang dapat dipanen warga.

"Ini merupakan kawasan binaan pemerintah daerah, sehingga petani di sekitar Gunung Ijen ini, bisa mendapat tambahan pemasukan," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat turut dalam panen kentang di Lereng Ijen, Jum'a (13/10/2017).

Selain itu, Ijen yang merupakan sebagai destinasi favorit di Banyuwangi akan bertambah daya tariknya bila lahan di lereng Ijen bisa dimanfaatkan . Selain sayuran, rencananya pemkab akan mengembangkan taman bunga di sana.

“Wisatawan yang turun Ijen, bisa menikmati suasanalahan sayuran di sana. Mereka bisa melihat lebih dekat beragam tanaman di sini. Setelah lihat sayuran, turun dikit mereka akan ketemu kebun kopi,” ujar Anas.

Tak hanya itu, selain tanaman kentang, petani di daerah ini juga menanam aneka tanaman lainnya. Di antaranya, bawang putih, cabai rawit, dan sayuran ditanam di lahan seluas 50 hektare tersebut.

“Pemkab mengajak petani setempat untuk bisa memaksimalkan lahan hutan tersebut. Selama jeda waktu penanaman pohon kembali,  petani kami ajak untuk menanam berbagai jenis sayuran agar mereka mendapatkan tambahan penghasilan. Salah satunya adalah tanaman kentang yang dipanen saat ini,” kata Anas

Lahan ini, kata Anas, sebenarnya mereupakan area hutan tanaman industri yang dimanfaatkan oleh warga dengan cara tumpang sari. Sebanyak 30 hektar ditanami kentang dan sisanya ditanami berbagaijenis sayuran seperti kentang, kol, cabai dan daun bawang.

“Pertanian tumpang sari ini bisa berlangsung 2 sampai tiga tahun. Setelah pohon-pohon itu tumbuh besar, maka lahan di bawahnya sudah tidak bisa ditanami lagi karena sinar mataharinya akan tertutup oleh pepohonan,” ucap Anas.

Di Banyuwangi, lanjut Anas, merupakan pertama kali mengembangkan tanaman kentang. Ini juga berkat binaan dari Dinas Pertanian Banyuwangi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Arief Setiawan mengatakan ini merupakan pertama kalinya di Banyuwangi mengembangkan tanaman kentang. Tanaman kentang sendiri merupakan tanaman khas dataran tinggi, 700 meter diatas permukaan laut (mdpl). Lokasi areal penanaman kentang di Desa Bawonan ini berada di ketinggian 900 mdpl.

“Kami memilih kentang untuk dikembangkan petani karena cocok dengan karakteristik tanahnya. Selain itu nilai ekonomisnya juga tinggi,” kata Arief.

Luas lahan kentang yang dipanen petani saat ini 15 hektare kentang, dengan per hektar menghasilkan sekitar 30 ton kentang. Dengan demikian panen kali ini petani memanen 450 ton kentang per masa tanam yang mencapai 90 hari. Dengan harga saat ini per kilogram kentang sebesar Rp 6.200, tiap hektare tanaman kentang bisa menghasilkan Rp 246 juta.

“Modal yang dibutuhkan perhektarnya sekitar Rp. 112 juta, keuntungan buat petani cukup bagus,” ujar Arief.

Ke depannya, selaian tanaman sayuran yang ditanam saat ini, dinas pertanian bersama petani akan mengembangkan berbagai jenis buah-buahan khas dataran tinggi seperti strawberry dan jeruk manis. Begitu juga beberapa jenis bunga-bungaan.

“Kami juga akan mengembangkan bibit kentang, karena lebih tinggi nilai ekonomisnya. Kami berharap kawasan ini juga akan ikut mendukung pariwisata untuk kawasan Ijen,” pungkas Arief. (rin/ted)

Komentar

?>