Selasa, 21 Nopember 2017

Kepala Bakesbang: 'Saya Pancasila', Tapi Kok...

Rabu, 23 Agustus 2017 00:09:11 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Kepala Bakesbang: 'Saya Pancasila', Tapi Kok...

Jember (beritajatim.com) - Kepala Badan Kesatuan Bangsa Kabupaten Jember Suprapto mengingatkan, agar 'Saya Pancasila' tak hanya menjadi jargon yang kontradiktif dengan perilaku sehari-hari.

"Selama ini banyak 'Saya Pancasila'. Jangan ngomong 'Saya Pancasila' kalau masih menistakan agama lain. Jangan ngomong Pancasila, kalau melihat orang lain sengsara kita senang. Jangan ngomong 'Saya Pancasila' kalau kita masih mendiskreditkan suku-suku lain. Jangan ngomong Pancasila, kalau tidak bisa berbuat adil dan tidak jujur," kata Suprapto, dalam diskusi mengenai peran generasi muda dalam menangkal ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, di halaman K Radio, Jalan Danau Toba, Kabupaten Jember, Selasa (22/8/2017).

Menurut Suprapto, apa yang terjadi saat ini sudah diramalkan oleh Joyoboyo, orang bijak Jawa kuno. "Besok bakal tinemu zaman edan. Kondisi ini yang terjadi. Dalam kondisi ini, kita berpegangan pada Pancasila dan norma-norma agama kita," jelasnya.

Ikwan Setiawan, pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, mengatakan saat ini negara galau dengan munculnya ideologi yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. "Ini tidak terlepas dari kondisi yang menunjukkan, selama pascareformasi tidak ada desain kenegaraan yang ditopang sistem perundang-undangan yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai ideologis Pancasila," katanya.

"Kita tidak punya desain jelas, Pancasila mau diapakan. Selain itu ada kelompok-kelompok yang 'sengaja' mengembuskan isu-isu gesekan ideologis ini," tambah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam ini.

Ikwan tidak khawatir masyarakat lokal akan terpengaruh dengan ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Masyarakat punya cara sendiri untuk merawat Pancasila. "Pancasila ini kan saripati dari bumi Indonesia. Cara-cara orang kecil yang jarang disentuh sebagai dasar kebijakan. Akhirnya kebijakan selalu bersifat elitis," katanya.

Ikwan berpendapat kebijakan nasional seharusnya berdasar pada riset mendalam seperti di Korea Selatan. "Korea tidak menolak kapitalisme, tapi juga tidak mau menerima kapitalisme berlebihan. Mereka butuh riset 20 tahun untuk menciptakan namanya K-Pop," katanya. [wir/suf]

Tag : pancasila

Komentar

?>